Renungan Harian Katolik Minggu 9 Agustus 2026, Ia Tidak Melihat, Tetapi Percaya
Gordy Donovan August 09, 2026 06:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Minggu 9 Agustus 2026.

Tema renungan harian Katolik "Ia tidak melihat, tetapi percaya".

Renungan harian Katolik untuk Minggu biasa XIX , Santo Oswaldus Martir | Santo Santa 9 Agustus, Santa Theresia Benedikta dari Salib: Perawan dan Martir, dengan warna liturgi putih.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Minggu 9 Agustus 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Teks Misa Sore Minggu 9 Agustus 2026, Pekan Biasa XIX 

Bacaan Pertama : 1Raj 19:9a.11-13a

Berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan.
Sekali peristiwa, ketika Elia sampai di Gunung Horeb, masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka berfirmanlah Tuhan kepadanya, “Hai Elia, keluarlah, dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!”

Lalu Tuhan lewat. Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu mendahului Tuhan. Namun Tuhan tidak berada dalam angin itu. Sesudah angin itu datanglah gempa. Namun dalam gempa pun Tuhan tidak ada.

Sesudah gempa menyusullah api. Namun Tuhan juga tidak berada dalam api itu. Api disusul bunyi angin sepoi-sepoi basa. Mendengar itu, segeralah Elia menyelubungi wajahnya dengan jubah, lalu keluar dan berdiri di depan pintu gua itu.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14
Ref:Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, clan berilah kami keselamatan yang dari pada-Mu.

Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan. Bukankah Ia hendak berbicara ten tang damai? Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.

Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Bacaan Kedua :Roma 9:1-5

Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku.
Saudara-saudara, demi Kristus aku mengatakan kebenaran, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

Bahkan, aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku menurut daging. Sebab mereka adalah orang Israel. Mereka telah diangkat menjadi anak Allah, telah menerima kemuliaan dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, ibadat, serta janji-janji.

Mereka itu keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias sebagai manusia, yang mengatasi segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji selama-lamanya. Amin!

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil:Mzm 130:5
Aku menanti-nantikan Tuhan dan mengharapkan firman-Nya.

Bacaan Injil:Mat 14:22-33

Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air
Sesudah mengenyangkan orang banyak dengan roti, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. Perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai, dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira pukul tiga pagi, datanglah Yesus berjalan di atas air kepada mereka. Melihat Dia berjalan di atas air, para murid terkejut dan berseru, “Itu hantu!” Lalu mereka berteriak-teriak ketakutan.

Tetapi Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata, “Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.” Kata Yesus, “Datanglah!”

Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendekati Yesus. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam, lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!”

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang Petrus dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Keduanya lalu naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya, Engkau Putra Allah!”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

"Ia tidak melihat, tetapi percaya"

Seorang anak kecil takut gelap. Suatu malam lampu padam, dan ia menangis. Ayahnya berkata dari seberang ruangan, "Aku di sini, Nak." Meskipun tidak melihat, anak itu berhenti menangis karena ia mendengar suara ayahnya dan itu cukup membuatnya tenang. Ia tidak melihat, tetapi percaya. Hari ini Yesus datang kepada para murid di tengah angin sakal dan gelombang besar. Mereka ketakutan. Namun, Yesus berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Mat. 14:27). Petrus sempat percaya dan berjalan di atas air. Namun, ketika ia mulai melihat angin dan badai, ia takut, dan mulai tenggelam. Yesus segera mengulurkan tangan dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" 

Kita semua adalah Petrus - kadang percaya, tetapi sering bimbang. Saat hidup terasa tenang, kita yakin Tuhan menyertai. Namun, saat badai datang - masalah, sakit, kegagalan, kehilangan – kita mulai bertanya, "Tuhan, di mana Engkau?" Bacaan pertama dari Kitab 1 Raja-raja memperdalam pemahaman ini. Nabi Elia mencari Allah, dan Allah tidak hadir dalam angin besar, gempa, atau api, tetapi dalam suara lembut dan kecil. Allah tidak selalu hadir dalam cara yang spektakuler. Ia hadir dalam keheningan, dalam suara hati, dalam pelukan orang terdekat, dalam doa yang hening. 

Di tengah "badai" hidupku, apakah aku masih mampu mendengar suara lembut Tuhan? Apakah aku percaya bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya, bahkan saat aku bimbang? Tuhan hadir dalam badai hidup, tetapi sering dalam cara yang lembut dan tak terduga. Santo Paulus pun menunjukkan betapa kasih dan iman yang mendalam membuatnya rela berkorban demi bangsanya. Ia mengenal Yesus, dan itu memberinya kekuatan meski hatinya penuh duka. Inilah iman yang teguh - yang tetap percaya meski tidak selalu mudah. Mendiang Paus Fransiskus pernah berpesan, "Jangan takut menghadapi kesulitan hidup. Tuhan selalu bersama kita. Berpeganglah pada-Nya, jangan lepaskan tangan-Nya!" 

Ya Tuhan, kuatkanlah iman kami supaya kami tidak takut dalam mengayuh bahtera kehidupan kami sebagai orang beriman. Tetaplah bersama kami. Amin. (sumber the katolik.com/adiutami.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.