TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Jimin (55) tampak sibuk, tangan kirinya memegang serokan, sedangkan tangan kanannya memegang bilah bambu yang panjang.
Pandangannya fokus ke dalam tungku dari gentong yang berbentuk gunungan.
Sesaat kemudian, dia lalu mencongkel satu per satu bulatan putih yang menempel di dalam tungku.
Bentuknya sekilas seperti keong yang menempel.
Tetapi bukan, itu adalah jajanan khas Banyumas yang bernama nopia mino.
Jajanan legendaris yang berusia lebih dari satu abad sejak 1890-an itu, masih diproduksi secara tradisional.
Cita rasa yang dihasilkan lebih gurih dan wangi.
Nopia secara ukuran lebih besar dengan bentuk oval, sedangkan mino lebih kecil dengan bentuk bulat.
Baca juga: APBD Banyumas Cuma Bisa Biayai Operasional Trans Banyumas hingga 28 Agustus 2026
Produksi jajanan khas itu berada di kawasan Kota Lama Banyumas, di sebuah perkampungan sentral perajin jajanan nopia mino, namanya Kampoeng Nopia Mino.
Lokasinya di Desa Pekunden RT 03 RW 04, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.
Di lingkungan tersebut, ada 23 industri rumah tangga yang memproduksi jajanan nopia mino.
Satu di antaranya Jimin dengan mereknya yang bernama Angsa Kembar.
"Usaha keluarga saya sudah sejak 1970-an. Saya generasi kedua. Di kampung sini mayoritas wargany perajin nopia mino," kata Jimin kepada tribunbanyumas.com, Kamis (6/8/2026).
Jimin mengungkapkan, beberapa perajin mulai memproduksi jajanan nopia mino dengan open.
Tetapi dia tetap mempertahankan cara tradisional yang sudah turun temurun.
Menggunakan tungku dari gentong yang di luarnya dilapisi tanah liat dan anyaman bambu.
Tinggi tungku sekira 60 centimeter dengan usia yang bisa bertahan hingga puluhan tahun.
"Prosesnya, membakar dulu kayu di dalam tungku. Setelah kayu menjadi arang, tungku dibersihkan dengan sapu khusus dari serabutan kelapa, lalu adonan ditempelkan di dalam," jelasnya.
Menurut Jimin, proses memanggang tidak menggunakan api, tetapi memanfaatkan suhu panas yang tersisa.
Arang hasil pembangkaran kayu bakar sebelum proses pembakaran, akan ditutup menggunakan piring yang terbuat dari tanah liat.
Suhu panas tersebut yang nantinya membuat nopia mino mengembang sempurna dan terasa lebih gurih.
"Proses memanggang membutuhkan waktu sekira satu jam. Satu tungku bisa memanggang sekira 250 nopia dan 800 mino," ungkapnya.
Gula Jawa Berkualitas
Jimin mengungkapkan, bahan-bahan pembuatan nopia dan mino tidak jauh berbeda dengan bakpia atau kue lainnya.
Meliputi tepung terigu, gula jawa, dan isian untuk varian rasa yang lain.
Prosesnya, pertama dia menghancurkan gula jawa dengan dipukul lalu diolah dengan sedikit terigu.
Setelah itu membuat kulitnya dengan tepung terigu, vanili, air kelapa dan sedikit minyak goreng.
"Gula jawa yang dipakai harus bagus. Kalau tidak bagus isiannya keluar," katanya.
Menurut Jimin, adonan yang sudah jadi akan menempel secara alami di dalam tungku, sehingga tidak perlu bantuan apapun.
Tetapi bisa terjatuh jika panasnya kurang atau tungkunya tidak dibersihkan.
"Makannya setiap kali selesai memanggang, sebelum memulai akan dibersihkan. Setelah proses pembakaran kayu," ungkapnya.
Banyak Varian Rasa
Jimin mengatakan, dalam sehari dia bisa menghabiskan bahan tepung terigu 20 kilogram dan gula jawa 20 kilogram.
Saat jadi, menghasilkan nopia mino sebanyak 60 kilogram.
Jam produksi mulai pukul 05.00- 15.00 WIB.
"Ada 10 lebih varian rasa, mulai gula jawa, bawang merah goreng, coklat, durian, kelapa, pandan, stroberi, kacang, sirsak, nangka, nanas, hingga moka," jelasnya.
Jimin mengatakan, pemasaran saat ini sudah sampai luar Pulau Jawa, tetapi kebanyakan ke DI Jogjakarta, Jakarta, dan Semarang.
Kebanyak pembelinya merupakan pemilik toko oleh-oleh.
Harga jual satu bungkus Rp 13 ribu per seperempat kilogram.
"Rata-rata pembuat jajanan nopia mino di sini sudah punya langganan masing-masing. Kebanyakan dari Jakarta dan Yogyakarta," ungkapnya. (fba)