TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Tim Sanggar Tanama Cengkeh Tiga (Tanace) menghadirkan penampilan memukau pada puncak peringatan ke-666 Tahun Islam Masuk ke Tanah Papua (IMTP), Sabtu (8/8/2026), di Ruang Terbuka Hijau (RTH) KH Ma’ruf Amin, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Sanggar yang dipimpin Wahid Weripih itu membawakan sejumlah kesenian tradisional khas Fakfak, di antaranya Tarian Titir, Tumor, dan Sawat.
Pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ekspresi budaya yang diwariskan turun-temurun dan menjadi identitas masyarakat Fakfak.
Melalui penampilan itu, Sanggar Tanace memperlihatkan bagaimana seni budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan momentum keagamaan dan sejarah yang memiliki arti penting bagi masyarakat Fakfak.
Baca juga: Muhammadiyah Teguhkan Komitmen Dakwah di Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua
Ketua Sanggar Tanace, Wahid Weripih, menegaskan keikutsertaan mereka dalam rangkaian peringatan IMTP menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Fakfak.
“Kami ingin terus melestarikan seni budaya Fakfak. Karena budaya adalah identitas kita, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda,” ujar Wahid kepada TribunPapuaBarat.com, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, sanggar seni memiliki peran penting dalam memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar dan mengenal berbagai kesenian tradisional.
Ia berharap kegiatan besar seperti peringatan IMTP terus memberi ruang bagi pelaku seni lokal untuk tampil.
Baca juga: Gubernur Mathius Fakhiri Ikut Tari Sawat, Sempat Kesulitan hingga Kandas sampai Bawah
“Kami berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mau belajar dan ikut melestarikan kesenian daerah. Jangan sampai budaya yang menjadi warisan leluhur kita hilang karena tidak ada lagi yang meneruskannya,” tambahnya.
Penampilan Sanggar Tanace menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa menjaga sejarah tidak hanya dilakukan melalui catatan dan cerita, tetapi juga lewat seni yang diwariskan lintas generasi.
Dari panggung Haflah hingga puncak peringatan 666 tahun, Sanggar Tanace membuktikan bahwa seni dan budaya lokal tetap memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah serta kehidupan masyarakat Fakfak.