TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) menghadapi perluasan dampak kekeringan ekstrem.
Satuan Tugas (Satgas) El Nino Mateng merilis data terkini per 9 Agustus 2026 menunjukkan peningkatan signifikan jumlah desa terdampak, dari 20 desa menjadi 28 desa tersebar di 5 kecamatan.
Staf Pusdatin BPBD, Rizky Ilhamsyah mengatakan kelima kecamatan tersebut meliputi, Kecamatan Pangale, Kecamatan Budong-Budong, Kecamatan Topoyo, Kecamatan Tobadak dan Kecamatan Karossa.
Baca juga: ALASAN Jukir di Mamuju Batal Diproses Hukum Meski Sempat Ancam Nasabah Bank
Baca juga: Komisi I DPRD Sulbar dan BKPSDM Bahas Percepatan Kenaikan Pangkat PNS Tak Boleh Ada Keterlambatan!
Total populasi terdampak mencapai 90.403 jiwa di 181 dusun, dengan total kebutuhan air bersih harus dipenuhi mencapai 9.040.300 liter sehari atau setara dengan 9,04 juta liter per hari.
"Peningkatan jumlah desa ini merupakan hasil asesmen cepat yang kami lakukan sepanjang pekan lalu," ujar Rezky dikonfirmasi Tribunsulbar, Minggu (9/8/2026).
Kondisi hidrometeorologi kemarau tahun ini cukup ekstrem di wilayah Bumi Lalla' Tassisara', julukan Kabupaten Mamuju Tengah.
Sehingga sumber-sumber mata air dan sumur dangkal di sejumlah wilayah mulai mengering.
Data Pusdatin mencatat dua desa dengan tingkat kepadatan penduduk terdampak tertinggi berada di Kecamatan Topoyo dan Tobadak.
Yaitu, Desa Topoyo memiliki kebutuhan air bersih hingga 1.084.200 liter/hari dan Desa Tobadak 1.053.300 liter/hari.
Kedua desa ini merupakan pusat perkotaan kecamatan memiliki jumlah jiwa terbanyak, Topoyo: 10.842 jiwa; Tobadak: 10.533 jiwa.
Sementara itu, 2 Kecamatan menjadi wilayah dengan jumlah desa terbanyak terdampak, yaitu Kecamatan Budong-budong dan Topoyo masing-masing memiliki 7 desa terdampak.
Diantara kendala utama dalam penanganan darurat adalah akses jarak tempuh.
Wilayah Kecamatan Karossa menjadi titik paling ekstrem dengan jarak 53 hingga 56 kilometer dari ibu kota kabupaten, tepatnya di Desa Karossa dan Desa Kayucalla.
"Kondisi geografis ini membutuhkan strategi logistik khusus untuk memastikan bantuan air bersih dapat menjangkau masyarakat secara merata," jelas Rizky.
Menanggapi hal itu, BPBD bersama seluruh stakeholder telah bergabung di posko Satgas Siaga Darurat dan mengerahkan armada tangki air bersih secara terjadwal ke 28 titik desa.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan PDAM, Dinas Sosial, serta TNI/Polri untuk optimalisasi pengiriman logistik air.
Menurutnya, Tim Siaga El Nino Mateng akan terus melakukan pemantauan berkala dan memperbarui data secara real-time melalui kanal informasi resmi Pusdatin.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menghemat penggunaan air bersih selama masa darurat kekeringan ini berlangsung.(*)
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah