Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa pemerintah Jepang tetap mempertahankan Tiga Prinsip Non-Nuklir (Hikaku San Gensoku) dalam pidatonya pada upacara peringatan 81 tahun bom atom Nagasaki, Minggu (9/8/2026).
Takaichi menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri Upacara Peringatan Korban Bom Atom dan Perdamaian Nagasaki di Peace Park, Nagasaki. Ini merupakan kehadiran pertamanya dalam upacara tersebut sejak menjabat sebagai perdana menteri.
Dalam pidatonya, Takaichi mengatakan Jepang “mempertahankan Tiga Prinsip Non-Nuklir” dan, di bawah tekad agar Nagasaki menjadi tempat terakhir di dunia yang mengalami pengeboman atom, akan terus mendorong upaya yang realistis dan praktis menuju terwujudnya dunia tanpa senjata nuklir.
Tiga Prinsip Non-Nuklir Jepang terdiri atas komitmen untuk tidak memiliki, tidak memproduksi, dan tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayah Jepang.
Baca juga: Media Jepang Jiji Soroti 16 Warga Indonesia yang Bernama Doraemon
Dalam pidatonya, Takaichi mengenang tragedi 9 Agustus 1945 ketika sebuah bom atom dijatuhkan di Nagasaki.
Ia mengatakan ledakan tersebut dalam sekejap mengubah kota menjadi puing-puing, memutus kehidupan sehari-hari masyarakat, serta merenggut waktu bersama keluarga dan harapan mereka terhadap masa depan.
Atas nama pemerintah Jepang, Takaichi menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan simpati kepada mereka yang hingga kini masih menderita akibat dampak bom atom.
Ia juga menyoroti keberhasilan Nagasaki bangkit dari kehancuran dan kembali menjadi kota yang berkembang. Menurutnya, proses tersebut menunjukkan pentingnya upaya masyarakat sekaligus nilai perdamaian.
Takaichi kembali menekankan tekad Jepang agar tragedi Hiroshima dan Nagasaki tidak pernah terulang.
Ia menyebut Jepang sebagai satu-satunya negara yang pernah menjadi korban serangan bom atom dalam perang, dan mengatakan pemerintah akan terus menjalankan langkah-langkah realistis dan praktis untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir.
Pemerintah Jepang juga akan melanjutkan upaya berdasarkan Hiroshima Action Plan, termasuk mendorong pemeliharaan dan penguatan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di tengah kondisi keamanan internasional yang semakin berat.
Dalam pidatonya, Takaichi mengatakan semakin penting bagi masyarakat dunia untuk memahami secara akurat kenyataan mengenai dampak bom atom.
Karena itu, pemerintah Jepang akan terus mengajak para pemimpin dunia serta calon pemimpin masa depan untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang menjadi saksi pemboman atom.
Dengan melihat langsung peninggalan dan kesaksian para penyintas, pemerintah berharap ingatan mengenai kehancuran akibat penggunaan senjata nuklir dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Takaichi juga menyinggung semakin lanjutnya usia para penyintas bom atom atau hibakusha.
Pemerintah, katanya, akan memperkuat berbagai kebijakan dukungan di bidang kesehatan, pengobatan, dan kesejahteraan sosial.
Baca juga: Rekor Tertinggi Pekerja Asing di Nagasaki Jepang, Tembus 12.807 Orang, Indonesia Tumbuh Pesat
Pemerintah juga akan melanjutkan bantuan biaya medis bagi para hibakusha dan korban yang mengalami dampak bom atom tetapi belum masuk dalam kategori hibakusha.
Pernyataan Takaichi mengenai Tiga Prinsip Non-Nuklir mendapat perhatian karena pilihan kata yang digunakannya.
Dalam pidato tahun sebelumnya, Perdana Menteri saat itu, Shigeru Ishiba, menggunakan ungkapan bahwa Jepang akan mempertahankan prinsip tersebut sambil melakukan kebijakan lainnya.
Sementara Takaichi pada tahun ini mengatakan Jepang “mempertahankan” prinsip tersebut dalam bentuk pernyataan mengenai kondisi saat ini.
Takaichi juga menggunakan formulasi serupa dalam pidatonya pada upacara peringatan bom atom Hiroshima pada 6 Agustus lalu.
Penegasan tersebut menjadi sorotan karena kebijakan nuklir Jepang berada di tengah lingkungan keamanan Asia Timur yang semakin kompleks.
Sebelum pemerintahan Takaichi, isu mengenai hubungan antara Tiga Prinsip Non-Nuklir dan kebijakan nuclear deterrence atau penangkalan nuklir juga telah menjadi perdebatan politik di Jepang.
Menjelang akhir pidatonya, Takaichi mengangkat kisah pohon yang selamat dari bom atom di Nagasaki.
Pohon-pohon tersebut mengalami kerusakan akibat gelombang ledakan dan panas ekstrem pada 1945.
Namun, meski batang terbakar dan cabangnya patah, sebagian mampu bertahan, kembali berakar dan menumbuhkan daun.
Bagi Takaichi, pohon-pohon tersebut menjadi simbol harapan bagi masyarakat yang mengalami penderitaan dan kehilangan akibat bom atom.
Keberadaan mereka juga dianggap mencerminkan kemampuan Nagasaki untuk bangkit dari kehancuran.
“Setelah 81 tahun tragedi tersebut, Jepang kembali menegaskan tekad untuk menjadikan Nagasaki sebagai tempat terakhir yang mengalami bom atom dan terus bekerja menuju dunia tanpa senjata nuklir serta perdamaian yang abadi,” demikian inti pesan Takaichi dalam upacara tersebut.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com