TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Ratusan pemedek mendatangi Pura Kawitan Tangkas Kori Agung di Desa Tangkas, Klungkung, Bali, Minggu 9 Agustus 2026.
Sebelum mereka melakukan persembahyangan, ratusan pemedek ini sempat tertahan di luar area pura.
Sempat terjadi adu argumen dari perwakilan pemedek tersebut dengan pihak pengempon pura.
Beruntung pihak-pihak terkait sepakat berdiskusi dan mempersilakan seluruh pemedek yang hadir untuk melakukan persembahyangan.
Baca juga: Bupati Jembrana Rintis Layanan Bus Pemedek Gratis, Adopsi Pola Rumah Singgah dan Mobil Pikap Harmoni
Hadirnya ratusan pemedek dari berbagai wilayah di Bali ini, bermula dari beredarnya poster via pesan berantai whatapps kepada Pratisentana Tangkas Kori Agung untuk mengikuti persembahyangan bersama dan paruman agung, Minggu 9 Agustus 2026.
Dalam poster itu, dijelaskan juga pemedek untuk titik kumpul di Pintu Masuk PKB Klungkung, dan bersama-sama berangkat ke Pura sekitar pukul 09.00 Wita.
Sesampai di Pura Tangkas Kori Agung, pemedek yang jumlahnya ratusan sempat tertahan di luar area pura karena saat itu gerbang untuk masuk ke pura tertutup.
Koordinator pemedek tersebut, Ida Bhawati Hermawan Tangkas menyampaikan, kehadiran mereka ke Pura Kawitan Tangkas Kori Agung rencananya untuk paruman agung. Karena menurutnya belum ada titik temu dari warga seluruh Bali dan pihak pengempon pura.
"Hari ini kami mencoba paruman agung dengan tujuan dapat titik temu (terkait pembangunan pura) dan dapat jadi acuan yang mengedepankan rasa pasemetonan (persaudaraan)," ujar Ida Bhawati Hermawan Tangkas, Minggu 9 Agustus 2026.
Setelah koordinator dan perwakilan pemedek berunding dengan pihak pengempon pura, sekitar pukul 10.47 Wita, pemedek tersebut dipersilakan masuk ke kawasan pura untuk melakukan persembahyangan.
Persembahyangan dilakukan di area parkir pura, mengingat saat itu Pura Kawitan Tangkas Kori Agung masih tahap renovasi.
Pihak-pihak terkait pun sepakat untuk kembali melakukan pembahasan, terkait dengan pembangunan pura tersebut.
Sementara Sekretaris Pasemetonan Tangkas Kori Agung, Made Wijaya menjelaskan, adanya dinamika tersebut merupakan miss komunikasi.
Menurutnya, dalam proses pembangunan Pura Tangkas Kori Agung, ada berbagai masukan dan aspirasi dari warga pasemetonan.
Hal ini harus bisa dikelola, agar sama-sama jalan, tapi tidak melepas hal-hal yang sudah ada sesuai bhisama.
"Namanya pembangunan pura baru, ada masukan ini, ada masukan ini, tentu harus diakomodir aspirasi mereka agar sama-sama jalan," ungkap Wijaya.
Dari rembug itu, disepakati akan dilakukan kembali pertemuan dan melibatkan tetua Tangkas Kori Agung se-Bali untuk membahas pembangunan pura tersebut.
Sementara terkait gerbang pura yang kondisinya ditutup, menurutnya karena adanya pembangunan pura yang sudah berjalan. Demi keamanan, karena banyak bahan-bahan dan material yang sudah ada di areal pura.
"Kedatangan pemedek ini juga bagus, mereka melihat langsung pembangunan pura, sambil mereka sembahyang. Semua baik, ini kan semeton saya. Ada kekurangan dari saya, pengempon, dari mereka semua itu biasa karena kita semua saudara," ungkap Wijaya. (mit)