Menuju Malioboro Full Pedestrian, Keterbatasan Ruang Putar Balik dan Parkir Masih Jadi Persoalan
Muhammad Fatoni August 09, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mematangkan berbagai persiapan teknis guna menindaklanjuti rencana kebijakan pedestrian penuh (full pedestrian) di kawasan Malioboro.

Terkini, pihak eksekutif telah merampungkan pemetaan terkait kondisi dan potensi persoalan di 10 jalan sirip yang terhubung langsung dengan koridor utama Malioboro.

​Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan, penataan kawasan Malioboro menuju pedestrian penuh tidak bisa dilakukan secara serentak ataupun terburu-buru. 

Evaluasi dan kajian detail per titik sirip disebutnya menjadi kunci, agar penataan lalu lintas tidak merugikan warga maupun pelaku usaha setempat.

​"Portal-portal penutup memang sudah dipasang untuk persiapan rekayasa lalu lintas ke depan. Ada 10 jalan sirip dan semuanya sudah selesai kami petakan secara detail," ujarnya, belum lama ini.

​Hasto menjelaskan, pendataan menyeluruh tersebut mencakup jumlah pedagang kaki lima (PKL), asongan, titik parkir, hingga ketersediaan toko dan hotel di tiap-tiap jalan sirip. 

Persoalan Krusial

Menurutnya, persoalan paling krusial yang dihadapi di lapangan adalah minimnya lahan parkir serta keterbatasan ruang putar balik di sejumlah jalan sirip.

​Ia mencontohkan kondisi di Jalan Sosrokusuman, di mana akses jalannya terbilang sempit ke arah timur, dan mayoritas pergerakan kendaraan warga hanya bisa keluar-masuk melalui koridor Malioboro.

Baca juga: Dugaan Komersialisasi Plang Malioboro Tiruan: Langkah Tegas Pemkot Yogyakarta hingga Ancaman Sanksi

Alhasil, mantan Bupati Kulon Progo itu mengatakan kendala-kendala-kendala tersebut harus segera dicarikan solusi, sebelum kebijakan Malioboro bebas kendaraan bermotor benar-benar diterapkan.

​"Sosrokusuman itu contoh yang agak sulit. Di sana ada satu RW dan banyak warga punya mobil. Kalau ditutup total, mereka tidak bisa keluar. Maka dari itu, pasti akan ada pengecualian-pengecualian yang realistis," jelasnya.

Rekayasa Lalu Lintas

​Selain mengidentifikasi titik-titik yang membutuhkan lokasi parkir alternatif, Pemkot Yogyakarta juga menyiapkan usulan konsep rekayasa lalu lintas untuk mempermudah aksesibilitas masyarakat dari sisi barat ke timur kawasan Malioboro maupun sebaliknya.

​Salah satu usulan yang disiapkan yakni membuka akses langsung menyeberang kawasan Malioboro yang menghubungkan Jalan Pajeksan dan Jalan Suryatmajan.

"Proposal yang saya ajukan, jika dimungkinkan, Jalan Pajeksan dan Suryatmajan bisa untuk menyeberang langsung. Maksudnya bukan bikin jembatan atau jalan bawah tanah, tapi cukup dipasang traffic light," ungkap Hasto.

​Usulan pemasangan lampu lalu lintas diharapkan bisa menjadi solusi konkret untuk mengakomodasi mobilitas warga tanpa mengganggu kenyamanan pejalan kaki di sepanjang koridor utama Malioboro.

​Wali Kota pun menegaskan, uji coba penutupan sirip tidak akan dilakukan serentak, namun secara bertahap pada titik-titik yang sudah memiliki jalan keluar dari permasalahan.

​"Kami pelajari satu per satu. Titik mana yang sudah ada solusinya, itu yang mungkin nanti kita uji coba terlebih dahulu," pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.