Sambut HUT ke-81 RI, Paguyuban Arema Tarakan Bersih-bersih hingga Cat UIang Tugu 10 November
Amiruddin August 09, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNKLTARA.COM, TARAKAN – Sejumlah warga yang tergabung dalam Paguyuban Arema Kota Tarakan turun langsung membersihkan kawasan Tugu 10 November, Kota Tarakan pagi hingga siang tadi, Minggu (9/8/2026).

Bukan sekadar kerja bakti biasa, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Paguyuban Arema Tarakan, untuk ikut merawat sekaligus menghargai nilai-nilai sejarah yang ada di Kota Tarakan.

Sebagai informasi, Paguyuban Arema Tarakan menjadi wadah bagi masyarakat asal Malang yang berada di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Ketua Paguyuban Arema Tarakan, Dewi, mengatakan kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT Arema Indonesia yang jatuh pada 11 Agustus, HUT Arema Tarakan pada 2 September, sekaligus momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dewi menegaskan, kegiatan tersebut merupakan agenda Paguyuban Arema Tarakan dan berbeda dengan Aremania yang selama ini dikenal sebagai kelompok suporter sepak bola.

“Ini bukan Aremania ya.

Tapi beda ya, Aremania dengan Paguyuban Arema beda.

Kalau Aremania itu manianya bola.

Kalau ini Paguyuban Arema Kota Tarakan,” kata Dewi di sela-sela kegiatab pengecatan.

Baca juga: Jelang HUT ke-81 RI, FKKRT Tarakan Minta 447 Ketua RT Pastikan Warga Kibarkan Bendera Merah Putih

Menurut Dewi, momentum Agustus menjadi waktu yang tepat bagi Paguyuban Arema Tarakan untuk memulai kembali kegiatan sosial yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat.

“Jadi ini dalam rangka memperingati HUT Arema Indonesia tanggal 11 lusa, sekaligus tanggal 11 Agustus ya, sekaligus ulang tahun Arema Tarakan tanggal 2 September nanti.

Sekaligus ulang tahun HUT ke-81 RI,” jelasnya.

Melalui momentum tersebut, Paguyuban Arema Tarakan memilih melakukan bakti sosial dengan menyasar salah satu kawasan yang memiliki nilai sejarah di Kota Tarakan.

“Sehingga kita akan melaksanakan kegiatan bakti sosial di Tugu ya, dan lingkungan sekitarnya karena kita mengawali di 2026 ini Arema supaya menghargai nilai-nilai sejarah yang ada di Kota Tarakan, termasuk salah satunya tugu ini,” ujarnya.

Dewi mengatakan, kegiatan di Tugu 10 November tersebut menjadi langkah awal sebelum Paguyuban Arema Tarakan melaksanakan kegiatan sosial lainnya.

“Dimulai dari sini.

Next, kita akan adakan kegiatan rutin berikutnya,” katanya.

Pemilihan Tugu 10 November sebagai lokasi kerja bakti bukan tanpa alasan.

Menurut Dewi, kondisi tugu yang berada di tepi jalan membuat keberadaannya mudah terlihat oleh masyarakat.

Namun, di sisi lain, kondisi tugu dinilai sudah membutuhkan perhatian.

“Kami lihat ini sudah kotor. Kami lihat ini kan di pinggir jalan ya, di pinggir jalan yang dilalui. Jadi kita mau cat kembali,” ungkap Dewi.

Paguyuban Arema Tarakan tidak hanya membersihkan kawasan tersebut.

Mereka juga berencana melakukan pengecatan ulang agar tampilan tugu kembali lebih baik.

Dewi mengatakan pihaknya akan menggunakan cat yang dinilai lebih tahan lama.

“Kalau ini kayaknya cat air, nanti kita perbaiki dengan cat minyak yang agak tahan lama supaya terlihat baguslah, gitu kan,” ujarnya.

Menurutnya, kepedulian terhadap fasilitas maupun simbol sejarah merupakan tanggung jawab bersama.

“Apapun kan ini milik Pemerintah Kota Tarakan, dan milik masyarakat Kota Tarakan,” katanya.

Dalam pengecatan ulang tersebut, Paguyuban Arema Tarakan tidak akan mengubah warna asli tugu.

Dewi mengatakan warna merah putih yang menjadi bagian dari identitas tugu tetap dipertahankan.

Ia memastikan warna merah tetap merah dan warna putih tetap putih.

“Iya, merah dan putih.

Jadi kita enggak akan merubah warna cat. 

Yang putih tetap dicat putih, yang merah tetap merah.

Lantainya nanti kita cat warna biru,” jelasnya.

Bagi Dewi, mempertahankan warna tersebut juga menjadi bagian dari menghargai nilai sejarah yang melekat pada Tugu 10 November.

Kerja bakti tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang dalam sejarah perjuangan bangsa.

Lokasi berikutnya ia menambahkan menyasar wilayah lainnya, ditentukan berdasarkan kebutuhan di lapangan.

“Entah nanti kita akan sasar lagi di mana tempat-tempat yang perlu kita bersihkan.

Enggak hanya tugu aja, mungkin kita lihat nanti bersama-sama mana.

 Jadi juga informasinya ya mana yang perlu dibersihkan,” tuturnya.

Menurut Dewi, kegiatan tersebut menjadi cara Paguyuban Arema untuk menunjukkan bahwa keberadaan komunitas bukan hanya sebagai wadah berkumpul, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Di balik kegiatan sosial tersebut, ada cerita lain mengenai Paguyuban Arema Tarakan. Dewi mengakui kepengurusan Paguyuban Arema Tarakan sebelumnya sempat vakum.

Kondisi itu membuat pendataan anggota maupun aktivitas paguyuban belum kembali berjalan secara maksimal.

Menjawab pertanyaan jumlah Arema tergabung, Dewi mengatakan pihaknya belum melakukan pendataan ulang.

“Kita belum data kembali karena saya sempat vakum ya.

Saya pikir saya pindah gitu kan, ternyata balik lagi ke sini dan teman-teman minta saya lagi untuk menjadi Ketua Arema,” ungkapnya.

Dewi bahkan sempat menganggap dirinya sudah waktunya tidak lagi memimpin paguyuban tersebut.

Namun, permintaan dari rekan-rekan Paguyuban Arema membuatnya kembali mengambil peran.

“Tapi karena teman-teman masih meminta saya untuk ini, jadi ya sempat vakum dan kocar-kacir.

Nah, ini mulai menyatukan kembali gitu,” katanya.

Paguyuban Arema Tarakan menjadi wadah bagi masyarakat asal Malang yang berada di Kota Tarakan.

Namun, keanggotaannya tidak terbatas hanya bagi mereka yang berasal dari Malang.

Dewi mengatakan masyarakat yang bukan warga Malang juga diperbolehkan bergabung, apabila memiliki kecintaan terhadap Malang, dan ingin menjadi bagian dari paguyuban.

“Iya, iya. Mereka warga Malang.

Sebenarnya bukan warga Malang pun ada yang gabung, karena kecintaannya terhadap Malang gitu,” katanya.

Menurut Dewi, tidak ada batasan bagi masyarakat yang ingin bergabung, selama memiliki semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap Malang.

“Mau gabung, ya enggak apa-apa, monggo silahkan gitu,” tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.