SURYA.CO.ID SURABAYA - Sebanyak 109 Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Timur lolos verifikasi Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), terbanyak secara nasional, membuka harapan bagi anak yang sempat kehilangan akses pendidikan untuk kembali mengejar cita-cita.
Sebanyak 109 Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Timur dinyatakan lolos verifikasi dan siap mengikuti Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak secara nasional. Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim mengusulkan 124 ATS untuk mengikuti program PJJ. Dari jumlah itu, 109 calon peserta telah dinyatakan lolos verifikasi, sedangkan 15 lainnya masih dalam proses.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, mengatakan tingginya jumlah ATS masih menjadi tantangan dalam pemerataan akses pendidikan.
Meski berbagai layanan pendidikan seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), program kejar paket, dan sekolah terbuka telah tersedia, masih terdapat anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan.
"Sebagai ikhtiar pemerintah, tahun ini Kemendikdasmen meluncurkan program PJJ sebagai alternatif untuk memperluas akses pendidikan bagi anak tidak sekolah. Kami menyambut baik dengan melakukan penjaringan secara masif dari rumah ke rumah. Alhamdulillah, 124 calon murid yang kami usulkan merupakan yang terbanyak di seluruh Indonesia," ujar Aries dikonfirmasi, Minggu (9/8/2026).
Baca juga: Dindik Jatim Gelar Pelatihan Vokasi IT untuk Guru SMA-SMK, Dorong Keahlian Digital
Menurut Aries, Dindik Jatim menginstruksikan seluruh cabang dinas pendidikan untuk melakukan pendataan ATS secara intensif, khususnya di wilayah yang memiliki angka ATS cukup tinggi.
"Penjaringan dilakukan melalui dua mekanisme, yakni mendatangi masyarakat secara langsung atau door to door dan pendaftaran langsung oleh calon peserta,"urainya.
Data yang terkumpul kemudian diverifikasi oleh Kemendikdasmen. Tahapan verifikasi mencakup wawancara dengan orang tua atau wali, pemeriksaan usia calon peserta, memastikan calon peserta tidak masih terdaftar aktif di sekolah lain, serta pengecekan kelengkapan dokumen administrasi.
Program PJJ ini menyasar ATS berusia 16 hingga 18 tahun, termasuk anak putus sekolah, anak yang sudah bekerja, masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta anak dengan kondisi tertentu yang membuat mereka tidak dapat mengikuti pembelajaran secara rutin di sekolah.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Dindik Jatim menunjuk enam SMA negeri sebagai penyelenggara.
"SMAN 1 Kepanjen ditetapkan sebagai sekolah induk, sementara SMAN Plus Sukowono, SMAN 1 Tosari, SMAN 4 Bangkalan, SMAN 4 Malang, dan SMAN 1 Ambunten menjadi sekolah mitra,"lanjutnya.
Baca juga: Nilai TKA Belum Optimal, Dindik Jatim Siapkan TKA Clinic untuk Sekolah
Aries menjelaskan, pembelajaran PJJ dilaksanakan dengan kombinasi pembelajaran sinkron dan asinkron. Sebanyak 30 persen pembelajaran dilakukan secara sinkron melalui tatap maya, sedangkan 70 persen dilakukan secara asinkron atau belajar mandiri.
Peserta juga mendapatkan berbagai dukungan pembelajaran, mulai dari modul, pulsa untuk kuota internet, akun Belajar.id, akses Learning Management System (LMS), hingga layanan konsultasi dengan guru pendamping secara tatap muka maupun daring.
Setelah menyelesaikan pendidikan, peserta memperoleh ijazah yang setara dengan lulusan sekolah reguler.
"Harapannya semakin banyak siswa yang mengikuti program ini sehingga jumlah anak tidak sekolah dapat terus berkurang," kata Aries.
Secara nasional, Kemendikdasmen hingga akhir Juli 2026 telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 calon peserta PJJ. Setelah melalui proses verifikasi, sekitar 700 anak dinyatakan sebagai ATS dan siap mengikuti program tersebut.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan PJJ menjadi salah satu bentuk kehadiran negara untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum memperoleh layanan pendidikan.
"PJJ adalah bentuk jawaban dari doa dan harapan, PJJ adalah jembatan meraih cita-cita. PJJ ini adalah bentuk negara menjemput bola, tidak hanya sekadar hadir tapi negara menjemput bola," ujar Fajar dalam Coffee Morning bertajuk "Lebih Dekat dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Jenjang Pendidikan Menengah" di Jakarta, Kamis (30/7).
Menurut Fajar, penanganan ATS membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Penguatan tata kelola PJJ dilakukan agar semakin banyak anak kembali memperoleh akses pendidikan dengan layanan yang berkualitas.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menambahkan PJJ dirancang untuk menjangkau anak-anak yang memiliki kendala mengikuti pendidikan reguler.
Untuk menjaga kualitas program, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Universitas Terbuka dan SEAMEO SEAMOLEC dalam pengembangan pembelajaran serta penjaminan mutu. Pembelajaran didukung sekolah induk dan sekolah mitra melalui kombinasi pembelajaran sinkron, asinkron, serta penggunaan modul cetak dan digital.
"Kami berupaya untuk menjangkau lebih luas lagi sehingga anak-anak yang selama ini belum mendapatkan layanan pendidikan bisa kembali belajar melalui PJJ. Sekolah yang menjadi induk merupakan sekolah dengan akreditasi A," ujar Tatang.