Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) Kabupaten Sikka menggandeng Bimbingan Belajar Lentera Ikat (BILIK) untuk membantu siswa SMA di Nusa Tenggara Timur (NTT) mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program bimbingan belajar, penguatan motivasi, konseling pendidikan, serta pendampingan terkait pilihan perguruan tinggi, jurusan, dan peluang beasiswa.
Kepala DISARPUS Kabupaten Sikka Very Awales mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda Sikka dan NTT. Hal itu disampaikan Very kepada media di Maumere, Minggu (9/8/2026).
Menurut Very, BILIK merupakan komunitas anak muda asal Maumere yang digagas Nona Angela Potasius bersama rekan-rekannya untuk membantu siswa mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Baca juga: Melchias Mekeng Ingatkan Indonesia Bisa Tertinggal jika Investasi Pendidikan Diabaikan
“Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan tentu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih serta menyambut baik inisiatif anak-anak muda yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan,” ujar Very.
Ia mengatakan, program tersebut tidak hanya memberikan penguatan akademik, tetapi juga membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi masuk perguruan tinggi.
Sebagai proyek percontohan, program BILIK 2026 dilaksanakan secara luring di Maumere, Kabupaten Sikka.
Kegiatan dipusatkan di Aula Frans Seda, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, dengan tiga kali pertemuan setiap pekan, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Program tersebut dirancang untuk membantu siswa dalam penguasaan materi, strategi menghadapi ujian, manajemen waktu, kesiapan mental, hingga menentukan pilihan perguruan tinggi dan jurusan.
Baca juga: Perpustakaan Daerah Kabupaten Sikka Diperluas Fungsinya: Pusat Literasi dan Kreativitas Anak Muda
BILIK menjalankan tiga program utama dalam pendampingan siswa.
Pertama, keterlibatan media sosial dan kunjungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan motivasi siswa SMA untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
BILIK melakukan sosialisasi melalui media sosial dan kunjungan ke sejumlah SMA di berbagai wilayah NTT. Kisah mahasiswa dan alumni asal NTT juga dihadirkan sebagai sumber motivasi bagi siswa.
Kedua, bimbingan belajar intensif yang dirancang selama sekitar tujuh bulan. Program ini membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Materi yang diberikan mencakup penguasaan materi, strategi menghadapi ujian, manajemen waktu, teknik belajar, dan kesiapan mental.
Ketiga, konseling pendidikan yang dilakukan melalui webinar dan konseling individual.
Webinar menghadirkan mahasiswa dan alumni dari sejumlah perguruan tinggi untuk memberikan informasi mengenai kehidupan kampus, proses akademik, dan peluang beasiswa.
Sementara konseling individual memberikan pendampingan kepada siswa dalam menentukan pilihan universitas dan jurusan sesuai potensi, minat, dan kondisi masing-masing.
“Pendekatan individual ini penting karena setiap siswa memiliki potensi, minat, dan kondisi yang berbeda. Kita ingin agar pilihan perguruan tinggi maupun jurusan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa,” jelas Very.
Very mengatakan, penggunaan Aula Frans Seda sebagai lokasi kegiatan juga sejalan dengan fungsi perpustakaan sebagai ruang pembelajaran dan kegiatan literasi masyarakat.
“Perpustakaan harus hadir sebagai ruang pembelajaran sepanjang hayat. Karena itu, Aula Frans Seda kita dorong menjadi salah satu ruang yang terbuka bagi kegiatan-kegiatan positif, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan literasi anak-anak kita,” katanya.
Very berharap program BILIK di Sikka dapat menjadi proyek percontohan yang dikembangkan di kabupaten lain di NTT.
“Ini adalah pilot project. Kita berharap dari Sikka lahir sebuah model yang nantinya bisa dikembangkan ke kabupaten-kabupaten lain di NTT. Semangatnya adalah membuka akses yang lebih luas agar anak-anak NTT memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi,” ungkap Very.