TRIBUNGORONTALO.COM – Duka masih menyelimuti Nurhayati Inaku (48) usai lima hari kepergian putranya, Hajrin Hudjuli (13), yang tenggelam di Sungai Bone, Bone Bolango, Gorontalo.
Kenangan bersama putranya pada Sabtu (1/8/2026) pagi masih teringat jelas. Bagi Nurhayati, pagi itu sebenarnya berlangsung seperti hari-hari biasa. Ia bersama Hajrin bangun setelah salat Subuh lalu duduk mengaji bersama.
Tidak ada firasat buruk yang dirasakan Nurhayati. Ia bahkan masih sempat menyiapkan sarapan untuk putranya. Hajrin meminta nasi goreng dan telur rebus, lalu Nurhayati memasakkannya.
Setelah itu, Hajrin masih melakukan beberapa aktivitas di rumah dan membantu pekerjaan yang biasa dilakukannya saat libur sekolah. Nurhayati juga sempat berpesan agar Hajrin tidak pergi ke mana-mana.
Nurhayati langsung menuju lokasi. Tim SAR gabungan bersama warga kemudian melakukan pencarian. Sekitar tiga jam lebih pencarian, Hajrin akhirnya ditemukan. Namun, putra keempat dari lima bersaudara itu ditemukan dalam kondisi telah meninggal dunia.
Berikut wawancara Host bersama Nurhayati Inaku, ibu Hajrin Hudjuli, saat ditemui di rumah duka, Desa Bube, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (6/8/2026) pagi.
Host: Bisa diceritakan, kenangan terakhir sebelum mendapat kabar putra ibu tenggelam?
Nurhayati: Waktu itu saya habis salat Subuh, anak juga bangun. Terus waktu saya duduk mengaji, dia juga duduk mengaji sama saya.
Host: Saat mengaji, apakah sempat berbicara dengan Hajrin?
Nurhayati: Iya, kami mengaji sama-sama. Dia bilang nanti Mama satu ain. Mama yang lain. Nanti dibagi dua.
Host: Setelah mengaji, apa yang dilakukan Hajrin?
Nurhayati: Saya bilang, Kakak kasih lanjut dulu, mama mau ke dapur mau lihat makanan yang dimasak. Dia bilang, Iya Mama, nanti saya kasih lanjut sampai selesai. Setelah selesai, dia ke dapur dia bilang mama sudah selesai, saya bilang makan saja.
Host: Apa yang diminta Hajrin?
Nurhayati: Dia bilang tidak mama. mau makan nasi goreng. Jadi saya buatkan nasi goreng sama telur rebus.
Host: Hajrin sempat makan?
Nurhayati: Iya, dia makan.
Host: Setelah makan, apa yang dilakukan?
Nurhayati: Kakaknya panggil Hajrin. Kakaknya minta tolong beli rokok. Ada uang yang dikasih sama kakaknya. Dia pergi membeli rokok, kemudian pulang lagi. Sisa uangnya sekitar Rp50.500 kakaknya bilang ambil saja.
Host: Setelah Hajrin pulang, apakah ibu masih sempat berbicara dengannya?
Nurhayati: Iya. Saya bilang, Nunu, kalau Nunu habis makan, Mama mau keluar. Saya kab bidan kampung. Saya bilang mau kasih mandi adik-adiknya. Dia bilang, Oh iya, Mama.
Host: Apakah ibu sempat berpesan sesuatu kepada Hajrin sebelum pergi?
Nurhayati: Saya bilang, habis makan jangan ke mana-mana. Saya bilang begitu karena saya mau keluar.
Host: Apakah Hajrin biasanya membantu pekerjaan di rumah?
Nurhayati: Iya. Dia masih menyapu di luar. Kalau libur sekolah, anak saya biasanya ada tugas di rumah.
Host: Apa lagi yang ibu ingat dari percakapan pagi itu?
Nurhayati: Dia bilang, Mama, hari ini Nunu sudah tidak ada tugas? Anak saya kalau libur memang biasa ada tugas. Dia suka membantu menyapu dan pekerjaan rumah lainnya.
Host: Setelah itu bagaimana bu?
Nurhayati: Saya mau beli celana Pramuka. Saya bilang, Nunu, Mama kalau dari pasar, insyaallah habis kasih mandi anak-anak, Mama mau pergi ke pasar. Mama mau ganti celana pramuka.
Host: Apa jawaban Hajrin?
Nurhayati: Dia bilang, Mama, tidak usah. Ti nunu suka celana putih.
Host: Selain celana, apa yang ibu beli di pasar?
Nurhayati: Saya beli celana, topi biru dan perlengkapan lainnya. Saya juga sebenarnya mau belikan makanan untuk dia.
Host: Makanan apa yang ingin ibu belikan?
Nurhayati: Nasi bulu. Hajrin suka makan nasi bulu. Tapi waktu saya sampai di pasar, sudah banyak yang tutup. Saya sampai sekitar jam 11, hampir jam 11.30. Jadi nasi bulu sudah tidak ada.
Host: Saat berada di pasar, apakah ibu mengetahui Hajrin sudah pergi ke Sungai Bone?
Nurhayati: Tidak. Saya tidak tahu ada kejadian seperti itu. Saya masih di pasar.
Host: Setelah dari pasar, ibu pergi ke mana?
Nurhayati: Saya pergi ke rumah adik saya. Saya bilang, jangan pulang dulu. Saya mau urut karena ada yang sakit.Sudah begitu saya mau urut.
Host: Kapan ibu mendapat kabar tentang Hajrin?
Nurhayati: Sudah sekitar jam 12 lewat.Saya mau salat dulu.Adik saya bilang makan dulu, saya bilang biar, saya mau salat dulu. Waktu saya ambil air wudu, adik saya ada di sebelah.Tiba-tiba telepon dari anak saya yang paling tua.
Host: Apa yang dikatakan anak sulung ibu?
Nurhayati: Begitu telepon diangkat, dia sudah menangis. Dia bilang, Mama, Mama Saya tanya, Kenapa? Kenapa? Dia bilang, Ke Sungai Bone dulu. Hajrin tenggelam.
Host: Apa yang ibu lakukan setelah mendengar kabar itu?
Nurhayati: Saya langsung lemas. Saya tidak tahu lagi apa yang saya lakukan. Saya langsung menuju sungai. Sampai di sana semua menangis.
Host: Ketika tiba di Sungai Bone, bagaimana kondisi di lokasi?
Nurhayati: Waktu saya sampai, orang-orang sudah mencari. Sebagai orang tua, saya merasa kehilangan sekali.Saya cuma menangis.Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Host: Siapa saja yang membantu pencarian?
Nurhayati: Ada keluarga, warga dan orang-orang yang membantu.Alhamdulillah saya juga dibantu Basarnas. Banyak yang sudah bantu. Mereka membantu mencari anak saya.
Host: Berapa lama Hajrin akhirnya ditemukan?
Nurhayati: Kalau tidak salah sekitar tiga jam setengah.
Host: Apakah ibu mengetahui lokasi persis Hajrin ditemukan?
Nurhayati: Kalau dibilang di tengah bagaimana, saya juga tidak tahu persis.Yang jelas masih di sekitar sungai.
Host: Apakah ada orang yang secara khusus membantu memberikan informasi keberadaan Hajrin?
Nurhayati: Alhamdulillah ada Bapak Imam yang di Bungkuhobo yang membantu. Kebetulan Bapak Imam itu orang tua dari guru di SD. Saya bilang kepada Bapak Imam, terima kasih banyak atas bantuannya.Anak saya akhirnya diketahui keberadaannya.
Host: Bagaimana perasaan ibu ketika Hajrin akhirnya ditemukan?
Nurhayati: Sebagai orang tua, saya merasa kehilangan sekali.Anak saya sudah tidak ada.
Host: Sebelum kejadian, apakah Hajrin sempat meminta izin kepada ibu untuk pergi ke sungai?
Nurhayati: Tidak.Anak saya tinggal di rumah.Saya tidak tahu kalau dia pergi ke sungai.
Host: Biasanya, apakah Hajrin meminta izin ketika hendak pergi?
Nurhayati: Iya.Anak saya kalau mau pergi biasanya bilang.Kalau saya bilang jangan, dia tidak pernah membantah.Anak saya baik.
Host: Bagaimana sosok Hajrin di mata ibu?
Nurhayati: Anak saya penurut.Dia tidak pernah melawan orang tua.Dia juga suka membantu pekerjaan rumah.Kalau libur sekolah, dia menyapu di luar.
Baca juga: Cerita di Balik Kebakaran Lahan Desa Teratai Gorontalo, Angin Kencang Persulit Pemadaman Api
Host: Apakah ibu merasakan firasat sebelum kejadian?
Nurhayati: Tidak ada.Tidak ada firasat apa-apa.Pagi itu biasa saja.Kami mengaji bersama, dia makan, kami bicara.Tidak ada tanda-tanda.
Host: Apa yang paling ibu ingat dari pagi terakhir itu?
Nurhayati: Semua saya ingat.Waktu dia duduk mengaji sama saya.Waktu dia bilang mau makan nasi goreng.Waktu saya buatkan nasi goreng sama telur rebus.Waktu saya bilang mau pergi ke pasar.Sampai waktu saya bilang mau belikan celana, dia bilang tidak usah. Semua masih saya ingat.
Host: Bagaimana kondisi ibu setelah Hajrin meninggal?
Nurhayati: Saya sampai sekarang belum ada selera makan.Saya masih ingat anak saya.Kalau ingat dia, saya menangis.
Host: Apa yang paling ibu rindukan dari Hajrin?
Nurhayati: Suaranya.Biasanya dia ada di rumah.Dia menyapu, membantu pekerjaan rumah.Sekarang rumah sudah berbeda.
Host: Bagaimana kondisi ayah Hajrin?
Nurhayati: Bapaknya juga masih kehilangan.Sampai sekarang tidak mau keluar rumah.Tidak pergi ke ladang.Masih merasa kehilangan anak.
Host: Bagaimana suasana rumah setelah Hajrin dimakamkan?
Nurhayati: Rumah sudah berbeda.Biasanya ada dia.Sekarang tidak ada lagi.
Host: Apakah barang-barang yang ibu beli untuk Hajrin sebelum kejadian masih disimpan?
Nurhayati: Iya.Saya masih beli celana, topi dan perlengkapan sekolah.Saya beli karena memang untuk dia.Waktu pergi ke pasar saya tidak tahu anak saya sedang mengalami musibah.Saya pikir nanti pulang dia masih ada.
Host: Apa yang ingin ibu sampaikan kepada semua pihak yang membantu pencarian Hajrin?
Nurhayati: Saya mengucapkan terima kasih banyak.Terima kasih kepada Basarnas, warga, keluarga, aparat, relawan dan semua yang membantu mencari anak saya.Saya tidak bisa membalas semua kebaikan itu.Saya cuma bisa mendoakan semoga Allah membalas semua bantuan mereka.
Host: Setelah lima hari berlalu, apakah ibu sudah bisa menerima kepergian Hajrin?
Nurhayati: Sebagai orang tua, masih sulit.Saya tahu anak saya sudah meninggal.Tapi hati saya masih merasa kehilangan.Saya masih teringat dia.
Host: Apa doa ibu untuk Hajrin?
Nurhayati: Semoga anak saya mendapat tempat yang baik di sisi Allah.Semoga semua amalnya diterima.Saya cuma bisa mendoakan anak saya sekarang.
Host: Jika Hajrin masih bisa mendengar ibu, apa yang ingin ibu sampaikan?
Nurhayati: Mama sayang Nunu.Mama tidak akan lupa Nunu.Terima kasih sudah menjadi anak yang baik.Mama akan selalu ingat Nunu.
Host: Apa yang akan ibu lakukan untuk terus mengenang Hajrin?
Nurhayati: Saya akan terus mendoakan dia. Saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain mendoakan anak saya.Kenangan bersama dia akan saya simpan.Pagi itu kami masih mengaji bersama.Itu yang akan selalu saya ingat.
Host: Terakhir, apa yang ingin ibu sampaikan kepada semua orang yang sudah membantu sejak Hajrin dinyatakan tenggelam hingga ditemukan?
Nurhayati: Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.Terima kasih kepada Basarnas, warga, keluarga, aparat, relawan dan semua yang membantu.Saya tidak bisa membalas semua kebaikan itu.Saya hanya bisa mendoakan semoga Allah membalas semua bantuan mereka.Anak saya sudah ditemukan dan sudah dimakamkan.Sekarang saya hanya ingin terus mendoakan Hajrin.Saya kehilangan anak saya, tapi kenangan tentang dia akan selalu ada.
Hajrin merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Bube, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.
Lima hari setelah kepergiannya, rumah keluarga Hajrin masih dipenuhi suasana duka. Tenda masih terpasang dan kursi-kursi masih tersusun. Lantunan ayat suci Alquran pun masih terdengar dari rumah duka. Namun, suara Hajrin yang sebelumnya menghidupkan suasana rumah kini tidak lagi terdengar.
Bagi Nurhayati, pagi setelah salat Subuh pada Sabtu (1/8/2026) menjadi kenangan yang tidak akan pernah hilang.
Saat itu, ia masih duduk mengaji bersama putranya, memasakkan nasi goreng dan telur rebus, serta berbicara tentang celana Pramuka yang hendak dibelikan. Nurhayati juga masih sempat berpesan agar Hajrin tidak pergi ke mana-mana.
Tidak ada yang menyangka, beberapa jam kemudian kabar tentang Hajrin yang tenggelam di Sungai Bone datang melalui sambungan telepon. Kini, yang tersisa bagi Nurhayati hanyalah kenangan manis dan doa untuk putranya. (*)