TRIBUNWOW.COM - Di tengah kebiasaan anak muda yang kini serba scroll, checkout, dan menunggu paket datang, suasana berburu buku secara langsung ternyata masih punya tempat tersendiri di hati masyarakat Surakarta.
Hal itu terlihat di pasar buku bekas kawasan Alun-Alun Utara Surakarta, Sabtu (8/8/2026).
Deretan lapak dengan tumpukan buku menjadi pemandangan yang menarik bagi pengunjung yang datang untuk mencari bacaan dengan harga terjangkau.
Aktivitas jual beli buku bekas di kawasan tersebut masih terus berjalan meski para pedagang harus menghadapi perubahan kebiasaan masyarakat yang kini semakin dekat dengan marketplace dan penjualan buku secara online.
Baca juga: Mau Wisata di Provinsi Yogyakarta Besok Kamis 6 Agustus 2026? Simak Prakiraan Cuaca Selengkapnya
Di balik tumpukan buku tersebut, ada cerita panjang para pedagang yang sudah puluhan tahun menggantungkan kehidupan dari usaha tersebut.
Ibu Sri Winarni menjadi pedagang yang telah lama bertahan di kawasan tersebut. Ia mulai berjualan buku sejak 1986.
Selama sekitar empat dekade, Sri tetap menekuni pekerjaan tersebut meski zaman dan kebiasaan pembeli terus berubah.
Bagi Sri, berdagang buku bukan hanya persoalan mencari keuntungan.
Ada alasan sederhana yang membuatnya memilih bertahan.
Ia menyukai pekerjaan tersebut karena bisa mengatur waktu dengan lebih fleksibel dan sambil berdagang, Sri juga tetap dapat mengurus dan mendampingi anak-anaknya.
“Ibu suka, Mbak. Ibu enggak suka ikut orang. Jadi mending dagang, bisa sambil momong, waktunya juga fleksibel,” ujar Sri.
Pilihan tersebut menjadi semakin penting karena Sri memiliki tiga anak.
Sementara itu, pekerjaan suaminya tidak selalu memberikan penghasilan tetap.
Karena itu, penghasilan dari berjualan buku ikut digunakan untuk menopang kebutuhan keluarga.
Bagi Sri, buku juga memiliki kelebihan dibandingkan barang dagangan lain. Buku tidak mudah basi seperti makanan dan masih dapat disimpan untuk dijual kembali dalam waktu yang panjang.
Buku tidak mudah basi seperti makanan.
Barang dagangan masih dapat disimpan dan dijual kembali dalam waktu yang panjang.
Namun, bukan berarti perjalanan Sri selama puluhan tahun selalu berjalan mulus.
Perubahan zaman membuat tantangan sebagai pedagang buku semakin terasa.
Kehadiran marketplace membuat masyarakat dapat membeli buku tanpa perlu datang langsung ke pasar.
Akibatnya, jumlah pembeli terkadang mengalami penurunan.
“Tantangannya ya sepi, Mbak. Pembelinya juga berkurang,” kata Sri.
Baca juga: Selain Lembang, Ini 5 Wisata Sejuk di Bandung untuk Refreshing Akhir Pekan, Suasananya Bikin Tenang
Meski begitu, ada perkembangan yang justru memberikan angin segar.
Pasar buku tersebut mulai banyak dikenal setelah muncul di media sosial, termasuk TikTok.
Unggahan mengenai lokasi pasar membuat lebih banyak orang mengetahui keberadaan tempat tersebut.
Pengunjung pun mulai berdatangan.
Bahkan, ada pengunjung dari luar kota yang datang setelah mengetahui pasar buku tersebut melalui media sosial.
Sri juga harus menghadapi tantangan lain yang sederhana tetapi cukup mengganggu aktivitas berdagang, yakni cuaca.
Ketika hujan turun, pedagang harus sigap menyiapkan perlindungan agar buku-buku yang dijual tidak rusak.
Meski begitu, ia tetap menjalani pekerjaannya.
Hari ramai menjadi momen yang paling ditunggu.
Biasanya, ketika musim liburan tiba, jumlah pengunjung meningkat.
Namun, ada pula hari ketika pendapatan sangat sedikit bahkan tidak ada.
“Kalau orang jualan itu pasti kadang dapat duit, kadang sedikit, kadang banyak. Kadang sama sekali tidak dapat. Enggak setiap hari,” tuturnya.
Cerita perjuangan serupa juga dirasakan Ibu Engu, pedagang buku yang telah lama menjalani usaha tersebut.
Ia mulai ikut berjualan pada sekitar tahun 2000-an, sementara suaminya telah lebih dulu berdagang sejak sekitar tahun 1980-an.
Bagi keluarganya, usaha tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama puluhan tahun.
Penghasilan dari berjualan buku digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak.
“Simpel, Mbak, dari sekolah anak, semua kebutuhan,” ujar Ibu Engu.
Hari biasa cenderung lebih sepi.
Akhir pekan mulai ada peningkatan pengunjung, sementara minggu menjadi waktu yang biasanya paling ramai.
Buku yang dicari pembeli pun beragam.
Baca juga: Weekend Makin Seru dengan Wisata di Alas Purwo Banyuwangi, Intip Panorama Alamnya yang Bikin Melongo
Mahasiswa datang untuk mencari buku kuliah, tetapi ada pula yang berburu novel dan majalah.
Pengunjung pasar ini juga tidak hanya berasal dari kalangan tertentu.
Anak-anak, anak muda, mahasiswa, hingga orang tua dapat ditemukan di antara deretan lapak buku.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa membaca buku fisik masih memiliki peminat di tengah perkembangan teknologi.
Azizah Ibrahim, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menjadi contoh pembeli muda yang masih memilih datang langsung.
Azizah mengaku telah dua kali berkunjung ke pasar tersebut.
Tujuannya adalah mencari buku yang ia inginkan, termasuk Alam pikiran yunani.
Menurutnya, berburu buku secara langsung terasa lebih menarik dibandingkan sekadar mencarinya melalui marketplace.
“Kalau lihat langsung lebih tertarik. Harganya juga oke. Kalau online kan kita enggak tahu bukunya asli atau enggak, kondisinya bagus atau enggak,” ungkap Azizah.
Ia juga lebih nyaman membaca buku fisik dibandingkan e-book.
Baginya, membaca melalui buku secara langsung membuat isi bacaan terasa lebih mudah masuk.
Hal yang sama juga dirasakan Milka Andelma Prinda, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Menurut Milka, keberadaan pasar buku bekas masih relevan bagi generasi muda.
Pasalnya, masih banyak mahasiswa yang membutuhkan buku dengan harga terjangkau.
Media sosial juga menjadi salah satu alasan pasar tersebut semakin dikenal anak muda.
Di tengah gempuran marketplace dan e-book, pasar buku bekas ternyata belum kehilangan peminat.
Para pedagang tetap bertahan dengan mengikuti tren dan membaca kebutuhan pasar.
Sementara pembeli masih datang karena ingin merasakan pengalaman memilih buku secara langsung.
Bagi pedagang, setiap buku yang terjual berarti pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi pembeli, setiap buku yang ditemukan bisa menjadi bacaan baru dengan harga yang lebih bersahabat.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari UIN Salatiga/Alya Vina Rahmawati)