SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Bentuk kepedulian ditunjukkan oleh Dr Ahmad Basarah, Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI.
Tiap kali menyapa warga yang ada di Daerah Pemilihannya (Dapil) Malang Raya, ia paham apa yang sedang dibutuhkan.
Saat datang dengan agenda reses, Sabtu (8/8/2026) siang, ia tak datang dengan melambaikan tangan saja.
Namun, anggota DPR RI lima periode atau 25 tahun ini selalu bisa bikin warga ketawa.
Sebab, kedatangannya bukan cuma sekadar menampung aspirasi warga, namun langsung action. Yakni, menyerahkan mesin pemanen padi atau Combine Harvester.
Itu diberikan ke petani melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sari Makmur, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.
Di tengah tingginya biaya menanam hingga memanen padi, pemberian mesin combine seharga Rp 500 juta itu, disambut suka cita oleh para petani.
Baca juga: DPR RI Harus Turun Tangan untuk Mengusut Kerusakan Stadion Kanjuruhan, Padahal Baru Selesai Renovasi
"Semoga, mesin combine ini bisa meringankan biaya memanen, karena bisa dilakukan dengan cepat."
"Tolong ya dirawat dan dipakai yang semestinya," ujar Basarah, yang disambut suka cita petani.
Saat reses tahun sebelumnya atau 2025 lalu, Basarah juga menyerahkan mobil siaga atau ambulance ke warga yang terdampak pencemaran limbah TPA Supit Urang milik Pemkot Malang.
Itu diserahkan ke warga Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
"Mari, kita doakan orang baik ini (Basarah) selalu sehat dan dapat berkah, supaya bisa memperjuangkan aspirasi kita. Begitu juga karier politiknya selalu lancar," ujar Abdul Qodir atau Adeng, Sekretaris DPC PDIP saat memberikan sambutan di depan warga.
Budiar, Sekda Kabupaten Malang, yang mewakili Bupati Sanusi di acara itu memberikan apresiasi.
Sebab, tiap musim reses DPR RI, Basarah pasti turun buat menyapa warga di Dapilnya Malang Raya.
Tiap kali datang, Basarah seperti selalu ditunggu konstituennya karena selalu tahu persoalan warga itu.
"Atas nama Pemkab Malang, kami ucapkan terima kasih karena alat itu (Combine Garvester atau mesin pemanen padi), salah satu yang dibutuhkan petani."
"Tolong, ya dirawat dengan baik sehingga tahun depan bisa minta alat yang lainnya," tegas Budiar, disambut aplaus petani.
Menurut Budiar, alat combine ini pasti bisa mengurangi cost panen dibandingkan dengan tenaga manual atau manusia. Sebab, itu cuma butuh waktu 5 jam buat memanen padi seluas 1 hektare (Ha).
Bahkan, tak mengenal medan sawah yang berlumpur karena daya cengkram roda rantainya atau crawler cukup kuat.
"Itu jadi solusi di tengah tingginya biaya pertanian," pungkas Budiar, yang pernah jadi Kepala Dinas Pertanian selama empat tahun itu.
Baca juga: Angkutan Pelajar di Kota Malang Diwacanakan Beroperasi Pertengahan Agustus 2026