TRIBUNPRKANBARU.COM, PEKANBARU - Suara gelak tawa mendadak pecah di tengah ruang redaksi Tribun Pekanbaru yang biasanya sunyi dan tegang oleh ketukan papan ketik.
Suasana sibuk para redaktur yang dikejar tenggat waktu seketika riuh, berganti dengan derai tawa saat tiga komika mengambil alih ruangan.
Kehebohan ini menjadi tanda dimulainya episode perdana program Jumat Keramas, program baru Tribun Pekanbaru dengan komunitas stand Up Comedy Indo Pekanbaru, yang dimulai sejak Jumat (7/8/2026).
Tiga sosok dibalik 'kekacauan' yang menyenangkan ini adalah Jopri Sinaga, yang juga merupakan pegawai Lembaga Pemasyarakatan 2A Pekanbaru, Ariefka Herman yang merupakan salah seorang selebgram Pekanbaru, dan Rio Wandra yang juga merupakan salah seorang selebgram Pekanbaru.
Perbincangan kemudian mengalir ke asal-usul nama program Jumat Keramas yang terdengar sedikit nyeleneh. Mereka berseloroh bahwa hari Jumat diibaratkan seperti hari keramat di lembaga antirasuah yang kerap mengumumkan tersangka baru. Namun bagi mereka, Jumat Keramas adalah momen untuk membersihkan beban pikiran dari penatnya rutinitas seminggu penuh lewat komedi.
Suasana makin riuh saat ketiga komika mulai membongkar kisah awal mula mereka terjun ke kancah stand up comedy. Rio yang akrab dengan nama Ocu Rio dengan polosnya mengaku pertama kali ikut komunitas justru karena ingin mengatasi sifat introvert dan rasa takut berbicara di depan umum. Ironisnya, alih-alih sukses presentasi di kampus, ia malah memilih berhenti kuliah demi fokus mengejar karier memegang mikrofon di atas panggung.
Arief yang keseharian dipanggil dengan nama Uda Arief pun tak mau kalah membagikan metamorfosis gaya hidupnya sejak mengenal dunia komedi tunggal. Dahulu, ia identik dengan gaya streetwear, celana kebesaran, dan ke mana-mana selalu menjinjing papan skateboard. Kini, penampilan Arief jauh lebih rapi dan klimis, meski gaya bicaranya di panggung tetap saja ceplos-ceplos dan bikin penonton terhibur.
Satu per satu pengalaman paling konyol selama menjadi komika mulai terkuak ke permukaan. Jopri Sinaga yang merupakan pegawai Lembaga Permasyarakatan mengenang momen berdebar ketika ia dipanggil oleh pihak kementerian tempat ia bernaung, setelah tampil di YouTube Deddy Corbuzier dan materi stand up-nya dinilai terlalu menyenggol instansi. Namun, alih-alih diberi hukuman berat, ia malah diundang terbang ke luar kota menggunakan pesawat kelas bisnis hanya untuk melucu di hadapan para pejabat tinggi.
Cerita tak kalah menggelitik datang dari Rio yang pernah mendapatkan panggilan job paling menantang sepanjang kariernya. Tanpa disangka, ia diminta tampil menghibur ratusan narapidana di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Dimana ia berjuang keras mencairkan suasana saat menghadapi tatapan dingin para penghuni lapas.
Bukan cuma kisah duka, mereka juga membeberkan keuntungan unik menjadi anak komunitas komedi yang nonprofit. Salah satunya adalah pengalaman menikmati kemewahan menginap di hotel bintang lima saat ada acara besar. Mereka juga menceritakan kisah-kisah lucu yang dulunya tidak pernah ke hotel, kemudian jadi sering ke hotel.
Sesi nostalgia itu kemudian bergeser ke pembahasan mengenai perkembangan komunitas StandUp Indo Pekanbaru saat ini. Dari wadah kecil tempat berkumpulnya anak-anak muda yang sekadar ingin coba-coba, komunitas ini telah melahirkan banyak bakat hebat. Beberapa anggotanya bahkan berhasil menembus kancah nasional, seperti Bonar Manalu yang sukses menjadi finalis di ajang pencarian bakat televisi swasta.
Uniknya lagi, anggota komunitas mereka berasal dari latar belakang profesi yang sangat beragam. Mulai dari pegiat media sosial popular, pengusaha kuliner martabak dan roti canai, hingga polisi aktif yang bertugas di bagian Humas Polda Riau. Ragam latar belakang ini menjadi bahan bakar segar yang tak pernah habis untuk diolah menjadi materi komedi di atas panggung.
Bagi mereka yang penasaran ingin menguji keberanian melucu, komunitas ini rutin menggelar agenda open mic dua kali dalam seminggu. Tanpa dipungut biaya sepeser pun, siapa saja bebas naik ke panggung untuk melempar lelucon. Meski syarat utamanya harus siap mental jika materi yang dibawakan ternyata garing dan tidak direspons oleh penonton.
"Tidak lucu itu adalah hal yang biasa. Semua merasakannya saat mencoba. Kami dulunya juga tidak lucu masing-masing. Tapi ketika sudah terbiasa nanti akan dapat caranya," ujar Jopri.
Kisah perjalanan Jopri, Arief, dan Rio memberikan pelajaran bahwa panggung komedi bisa mengubah jalan hidup siapapun dengan cara yang paling tak terduga. Siapa sangka, anak muda yang dulunya kabur dari bangku kuliah karena takut bicara di depan orang, atau pemuda yang ke mana-mana menjinjing skateboard dengan baju kebesaran, kini justru menjadi sosok-sosok yang menginspirasi, menghibur ribuan pengikut, bahkan menggoncang panggung-panggung nasional lewat kelucuan cerita mereka.
Meski kini nama mereka makin dikenal dan kariernya terus melesat, komika asal Pekanbaru ini tetaplah anak-anak komunitas yang membumi dan jenaka. Pahit-manisnya perjalanan, mulai dari melucu di depan narapidana, dipanggil kementerian, hingga membungkus sarapan hotel dengan jaket, kini menjadi bahan bakar dan cerita berharga. Mereka membuktikan bahwa dari keberanian untuk 'ditertawakan', sebuah kisah sukses dan kebahagiaan baru justru bisa dimulai.
Program Jumat keramas ini merupakan program baru yang diproduksi di ruang redaksi Tribun Pekanbaru dan akan hadir setiap Jumat, melalui tayangan di YouTube Tribun Pekanbaru Official, yang merupakan kerjasama antara pihak Cirebon Pekanbaru dengan Stand Up Comedy Indo Pekanbaru, yang akan bergulir sekali sepekan.(Tribunpekanbaru.com/Alexander)