TRIBUNNEWS.COM - Banyak orang sudah berusaha beribadah dan berbuat baik, tetapi tidak jarang aktivitas tersebut justru dilakukan karena ingin dipuji, sekadar mengikuti kebiasaan, atau tanpa memperhatikan apakah amal itu benar-benar sesuai tuntunan.
Karena itu, seorang muslim perlu memohon kepada Allah SWT agar setiap amal yang dilakukan diterima dan dijauhkan dari perbuatan yang tidak memberi manfaat di akhirat.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia akan melihat hasil dari setiap amalnya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi ayat 103–104 tentang orang-orang yang merasa telah berbuat sebaik-baiknya, padahal amal mereka menjadi sia-sia.
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu orang-orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104)
Lantas, bagaimana doa agar kita dijauhkan dari amal yang sia-sia dan senantiasa diberi keikhlasan dalam beribadah?
Berikut doa yang bersumber dari Alquran agar selalu dilindungi dari amal yang sia-sia.
Rabbanaa taqabbal minnaa, innaka antas-sami'ul 'aliim.
Artinya: "Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)
Baca juga: Doa agar Diberi Sahabat yang Saleh/Salihah di Dunia dan Akhirat
Allaahumma inni a'uudzu bika min 'ilmin laa yanfa' wa 'amalin laa yurfa' wa qolbin laa yakhsya' wa da'watin laa yustajaabu lahaa.
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, amal yang tidak diangkat (diterima), hati yang tidak khusyuk, dan doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim no. 2722)
Istiqamah dalam beribadah bukan perkara mudah. Ada kalanya seseorang begitu bersemangat menjalankan ibadah, terutama setelah Ramadan, mengikuti kajian, mendapatkan nasihat agama, atau mengalami suatu peristiwa yang menyentuh hati.
Namun, setelah beberapa waktu, semangat tersebut bisa menurun karena kesibukan, rasa malas, lingkungan, hingga berbagai godaan kehidupan sehari-hari.
Padahal, istiqamah merupakan bagian penting dalam menjaga keimanan. Allah SWT berfirman dalam QS. Hud ayat 112:
“Maka tetaplah engkau (Nabi Muhammad) istiqamah sebagaimana telah diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk terus berada di jalan ketaatan, bukan hanya beribadah ketika sedang bersemangat.
Langkah pertama untuk menjaga istiqamah adalah memastikan bahwa ibadah dilakukan karena Allah SWT, bukan semata-mata karena ingin dipuji, mengikuti orang lain, atau mengejar penilaian manusia.
Niat yang benar akan membuat seseorang tetap berusaha beribadah meskipun tidak ada yang melihat. Sebaliknya, jika ibadah terlalu bergantung pada apresiasi orang lain, semangat bisa mudah hilang ketika tidak mendapatkan perhatian.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, biasakan mengevaluasi niat sebelum dan setelah beribadah. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah semua yang dilakukan benar-benar ditujukan untuk mencari rida Allah SWT?
Istiqamah tidak selalu berarti melakukan ibadah dalam jumlah besar. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara rutin dapat menjadi fondasi yang lebih kuat untuk menjaga konsistensi.
Misalnya, membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari, berzikir setelah salat, melaksanakan salat sunnah dua rakaat, atau memperbanyak istighfar.
Jangan memaksakan terlalu banyak amalan sekaligus jika akhirnya hanya bertahan beberapa hari.
Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa kualitas istiqamah tidak hanya dilihat dari banyaknya amal, tetapi juga dari kemauan untuk terus melakukannya.
Di tengah pekerjaan, sekolah, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya, salat lima waktu sebaiknya tetap menjadi prioritas yang tidak boleh dikorbankan.
Salah satu cara praktis adalah mengatur aktivitas berdasarkan waktu salat, bukan justru menempatkan salat di sela-sela kesibukan.
Gunakan alarm atau pengingat agar tidak mudah terlambat dan usahakan segera menunaikannya ketika waktunya tiba.
Menjaga salat juga dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki ibadah lainnya. Ketika salat mulai teratur, seseorang akan lebih mudah membangun kebiasaan membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan melakukan amal saleh lainnya.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Dengan demikian, menjaga salat bukan hanya soal memenuhi kewajiban, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT.
Kesibukan sering membuat seseorang hanya membaca Al-Qur'an ketika memiliki waktu luang. Padahal, jika selalu menunggu waktu luang, membaca Al-Qur'an justru mudah terlewat.
Karena itu, tentukan waktu khusus untuk membaca Al-Qur'an setiap hari.
Tidak harus lama. Beberapa ayat setelah salat atau beberapa halaman sebelum tidur pun dapat menjadi kebiasaan yang baik selama dilakukan secara konsisten.
Selain membaca, luangkan waktu untuk memahami arti dan kandungan ayat.
Dengan begitu, Al-Qur'an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi petunjuk yang membantu seseorang memperbaiki perilaku dan mengambil keputusan dalam kehidupan.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap semangat seseorang dalam beribadah. Berada di tengah orang-orang yang senang mengingat Allah dapat membantu ketika iman sedang melemah.
Sebaliknya, lingkungan yang terbiasa dengan perilaku buruk dapat membuat seseorang perlahan menganggap maksiat sebagai sesuatu yang biasa. Karena itu, pilihlah teman dan komunitas yang dapat saling mengingatkan dalam kebaikan.
Allah SWT berfirman: “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)
Lingkungan yang baik tidak berarti harus mencari teman yang sempurna.
Yang terpenting adalah memiliki orang-orang yang dapat saling menguatkan ketika semangat beribadah sedang menurun.
Istiqamah juga membutuhkan kemampuan untuk mengenali hal-hal yang membuat ibadah terganggu. Di era digital, misalnya, seseorang bisa berniat membuka ponsel sebentar tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.
Bukan berarti teknologi harus ditinggalkan. Namun, penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak mengambil waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk beribadah.
Selain penggunaan gawai, perhatikan pula kebiasaan lain yang dapat membuat hati semakin jauh dari Allah, seperti terlalu mengejar kesenangan dunia, berlebihan dalam hiburan, menjaga pandangan, atau terlalu larut dalam pergaulan yang buruk.
Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Dalam QS. Al-Hadid ayat 20, Allah menggambarkan kehidupan dunia sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, serta ajang bermegah-megahan dan berlomba dalam harta maupun anak.
Pengingat tersebut bukan berarti umat Islam dilarang menikmati kehidupan dunia, tetapi agar kesenangan dunia tidak membuat seseorang melupakan tujuan akhirnya.
Istiqamah bukan hanya hasil dari kekuatan diri sendiri. Hati manusia dapat berubah, sehingga seorang Muslim perlu terus memohon pertolongan Allah SWT agar diberikan keteguhan dalam menjalankan agama.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
Yā muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
Artinya: “Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Doa tersebut menunjukkan bahwa menjaga keimanan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Karena itu, jangan hanya meminta keteguhan ketika sedang mengalami ujian, tetapi biasakan berdoa agar hati tetap kuat dalam menjalankan ketaatan.
Selain berdoa, jangan takut untuk kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.
Istiqamah bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, melainkan tidak berhenti berusaha untuk kembali ke jalan yang benar.
Istiqamah bukan berarti seseorang harus selalu berada dalam kondisi iman yang tinggi dan tidak pernah melakukan kesalahan.
Setiap manusia dapat mengalami masa semangat dan masa lemah.
Yang terpenting adalah tidak membiarkan masa lemah membuat seluruh kebiasaan baik berhenti.
Jika suatu hari tidak mampu membaca Al-Qur'an sebanyak biasanya, tetaplah membaca meski hanya beberapa ayat.
Jika pernah lalai, segera kembali dengan salat, istighfar, doa, dan taubat.
Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)
Pada akhirnya, istiqamah bukan tentang menjadi sempurna dalam beribadah, melainkan terus memilih untuk kembali kepada Allah SWT setiap kali diri mulai menjauh.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)