Paolo Maldini mengungkap betapa dekatnya Pep Guardiola dengan jabatan pelatih Italia sebelum akhirnya mundur
Agus Firmansyah August 10, 2026 02:39 AM

Paolo Maldini memberikan gambaran menarik tentang upaya ambisius FIGC untuk merekrut Pep Guardiola, dengan mengungkap bahwa ikon asal Catalunya itu sempat berada di ambang menangani Italia. Meski sang bek legendaris sudah berusaha keras membujuk mantan bos Manchester City tersebut agar bergabung ke pusat latihan Coverciano, kesepakatan itu akhirnya runtuh pada tahap terakhir.

Makan siang rahasia di Barcelona

Dalam wawancara panjang dan penuh pengungkapan dengan Corriere della Sera, Maldini membuka cerita mengenai masa singkatnya sebagai direktur teknik FIGC. Legenda AC Milan itu menjelaskan bahwa salah satu tujuan utamanya adalah membawa Guardiola ke kursi pelatih Azzurri, sebuah langkah yang akan mengguncang peta sepak bola internasional. Maldini menceritakan pertemuan penting di Catalunya, tempat fondasi untuk penunjukan yang berpotensi bersejarah itu disusun dengan sangat rinci bersama mantan direktur olahraga Leonardo.

Maldini menjelaskan seberapa dalam pembicaraan itu dengan berkata: “Dia pernah menyampaikan kepada beberapa temannya bahwa dia ingin melatih tim nasional. Kami pergi menemuinya di Barcelona, kami makan siang bersama, kami berbicara sepanjang hari. Dia sangat tergoda. Dia sangat dekat untuk menerima. Dia bahkan mulai menuliskan formasi di secarik kertas.”

Kebenaran di balik tuntutan gaji

Meski rumor saat itu menyebut tuntutan upah Guardiola sebagai hambatan utama bagi FIGC, Maldini dengan cepat menepis anggapan bahwa keserakahan memainkan peran dalam keputusan pelatih Spanyol tersebut. Sebelumnya, laporan di Italia beredar yang mengklaim bahwa ahli taktik itu meminta gaji fantastis sebesar €20 juta per musim. Namun, Maldini menegaskan bahwa aspek finansial justru merupakan bagian termudah dalam negosiasi, karena Guardiola menunjukkan tingkat fleksibilitas yang mengejutkan terkait paket remunerasi yang mungkin ia terima.

Saat menanggapi langsung rumor soal gaji, Maldini menegaskan bantahannya: “Sama sekali tidak. Uang tidak pernah menjadi masalah. Pep mengatakan kepada kami dengan jelas: Beri saya satu euro lebih sedikit dari yang diterima pelatih sebelumnya dan saya tidak masalah.”

Beban mental dari Premier League

Maldini kemudian mengungkap alasan mengapa kesepakatan itu gagal terwujud. Ia menunjuk faktor yang jauh lebih manusiawi: kelelahan fisik dan mental luar biasa setelah satu dekade berada di puncak sepak bola klub. Setelah mendominasi kasta tertinggi Inggris bersama Manchester City, intensitas pekerjaan itu jelas meninggalkan dampak pada Guardiola. Kebutuhan untuk benar-benar beristirahat dari kursi pelatih akhirnya menjadi faktor penentu, mengalahkan rasa penasarannya terhadap pekerjaan di Italia serta perencanaan taktik yang bahkan sudah mulai ia susun.

“Karena kelelahan,” tegas Maldini ketika ditanya mengapa kesepakatan itu batal. “Guardiola baru saja melewati 10 tahun yang sangat menguras tenaga di Premier League. Dia menjalani operasi punggung, dia ingin beristirahat. Tetapi ini adalah pembicaraan yang sangat serius, kami mempelajari skuad mulai dari U17 ke atas.”

Beralih ke Andrea Pirlo

Karena Guardiola tidak tersedia, Maldini kemudian beralih kepada mantan rekan setimnya, Andrea Pirlo. Pilihan itu dimaksudkan untuk menghadirkan pendekatan muda dan modern ke tim nasional, dengan fokus pada pengembangan teknik ketimbang taktik bertahan yang kaku. Namun, penunjukan tersebut mendapat penolakan keras, sebagian karena kontroversi yang berkaitan dengan hubungan komersial Pirlo dengan perusahaan taruhan Rusia.

“Kami tidak mengetahuinya. Opini publik telah menjalankan perannya. Tetapi, tidak ada apa pun dari sisi hukum yang akan mencegah Andrea menjadi pelatih kepala tim nasional. Itu jelas dibesar-besarkan dalam cara tertentu. Pirlo bersedia mengakhiri hubungannya dengan perusahaan taruhan Rusia itu.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.