Senggol Tanker UEA, Iran Patok Syarat Ganti Rugi Perang ke AS Jika Ingin Selat Hormuz Dibuka
Darwin Sijabat August 10, 2026 01:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi konflik maritim di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah sebuah insiden berdarah terjadi di Selat Hormuz. 

Pemerintah Iran secara resmi melayangkan tuntutan ganti rugi perang kepada Amerika Serikat (AS) sebagai syarat mutlak untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial vital tersebut, tak lama usai rudal Iran menghantam kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA) yang nekat melintas pada Sabtu (8/8/2026).

Otoritas Uni Emirat Arab mengonfirmasi sebuah rudal yang diluncurkan pihak Iran menghantam kapal tanker minyak yang dioperasikan oleh perusahaan minyak milik negara, ADNOC. 

UEA secara terbuka mengutuk tindakan tersebut dan menuduh Teheran melakukan aksi pembajakan di perairan internasional. 

Di lain pihak, Iran bersikeras menegaskan bahwa seluruh kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz wajib mematuhi instruksi kedaulatannya serta menjauhi rute pelayaran "ilegal" yang ditetapkan oleh Angkatan Laut AS.

Insiden ini mendorong Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mempertegas tiga syarat utama yang wajib dipenuhi Washington jika ingin pelayaran komersial di selat—yang mengalirkan seperempat perdagangan minyak dan LNG lintas laut global—kembali normal.

Sekretaris Dewan Keamanan Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, menegaskan blokade akan terus dipertahankan sampai Washington mengubah perilakunya.

"AS tidak boleh sekali-kali mengancam Iran dengan bahasa apa pun atau menghina nilai-nilai luhur bangsa Iran," tegas Zolqadr dalam pernyataan resminya.

Baca juga: Iran Sindir AS dan Israel, Desak Seluruh Pasukan Asing Angkat Kaki

Baca juga: Ray Rangkuti Bedah 10 Alasan Kapolri Wajib Diganti: Mendesak tapi Rawan

Zolqadr menuntut Washington untuk membatalkan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran, menarik seluruh pangkalan dan pasukannya dari wilayah di sekitar Iran, serta mencabut seluruh sanksi ekonomi yang dinilai tak adil dan ilegal. 

Selain itu, Teheran mendesak pencairan aset negara yang dibekukan, pembayaran ganti rugi atas kerusakan perang, serta penghentian penuh agresi terhadap Iran dan sekutunya di Irak, Lebanon, Palestina, hingga Yaman.

Kebuntuan Diplomasi, Stok Rudal Pentagon, dan Pergolakan Kawasan

Meskipun Iran sempat mengindikasikan kemajuan negosiasi dengan Oman terkait tata kelola koridor bersama, pembicaraan damai langsung antara Teheran dan Washington kini berada di titik nadir. 

Presiden AS Donald Trump mengeklaim dirinya sengaja membatalkan gelombang serangan udara baru pekan lalu guna memberikan ruang bagi proses negosiasi.

Namun, laporan internal media AS mengungkapkan indikasi lain: Pentagon dilaporkan tengah menghadapi krisis amunisi. 

Laksamana Brad Cooper, Komandan Komando Sentral AS (CENTCOM), dilaporkan telah memberikan taklimat kepada Trump bahwa persediaan rudal presisi Amerika Serikat mulai menipis dan daftar target potensial di sekitar Selat Hormuz sebagian besar telah hancur. 

Kendati demikian, Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah keras isu kelangkaan amunisi tersebut.

Di saat bersamaan, stabilitas kawasan makin terkoyak. Israel kembali melancarkan gelombang pemboman besar-besaran ke Lebanon dengan dalih Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata dua bulan lalu. 

Sementara di Laut Merah, kelompok Houthi Yaman meningkatkan gempuran berskala besar menyasar pasukan pemerintah dukungan Arab Saudi dan kapal-kapal tanker milik Riyadh.

Penetapan krisis ini turut memicu penolakan domestik di Amerika Serikat. 

Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos mencatat 50 persen publik Amerika Serikat meyakini agresi militer Washington ke Iran hanya akan memperparah destabilisasi kawasan Timur Tengah, dan hanya 17 persen responden yang optimistis situasi akan membaik.

Baca juga: Bocah 5 Tahun di Tanjabtim Jambi Nyaris Jadi Korban Penculikan, Modusnya Diajak Beli Jajan

Baca juga: Guru SD di Kota Jambi Diduga Korban Bullying, Dilarikan ke IGD dan Psikiater

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Truk dan Loader di PT Makin Group Tebo, Terguling ke Sungai Batanghari

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.