TRIBUNTRENDS.COM - Insiden tembok roboh terjadi di SDN Minomartani 2, Sleman, Yogyakarta.
Minggu (9/8/2026) pagi tembok SDN Minomartani 2 roboh dan menimpa warga.
Ada 10 warga menjadi korban robohnya tembok hingga mengalami luka.
Sepuluh warga yang menjadi korban pun dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Kasihumas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, menjelaskan tembok roboh terjadi di RW 002 Perum Minomartani, Ngaglik, Sleman, saat warga tengah beristirahat setelah mengikuti jalan sehat dalam rangka HUT ke-81 RI.
Suasana santai mendadak berubah ketika tembok di sekitar lokasi tiba-tiba ambruk dan menimpa sejumlah warga yang sedang duduk-duduk.
Warga yang menjadi korban kemudian segera dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan medis di sejumlah rumah sakit.
"Para korban kemudian dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis. Enam korban sempat mendapatkan perawatan di RS Condongcatur, dua korban di RS Hermina, dan dua korban lainnya di RS UAD. Sejumlah korban kemudian dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," katanya, Minggu (9/8/2026).
Baca juga: Atap SDN 2 Sribit Roboh, Bupati Hamenang Gerak Cepat: Senin Mulai Penanganan dan Evaluasi Sekolah
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), bangunan yang runtuh tersebut diketahui memiliki tinggi sekitar 1,5 meter dengan panjang mencapai 20 meter.
Struktur tembok itu diketahui tersusun dari batako semen dan diperkirakan telah berdiri sejak sekitar 1980.
Kondisi konstruksi menjadi perhatian petugas karena tembok tersebut ternyata tidak dilengkapi fondasi serta besi cor penyangga yang memadai.
Temuan itu menjadi bagian dari pemeriksaan polisi untuk mengetahui faktor yang menyebabkan bangunan tersebut bisa tiba-tiba roboh.
"Saat kejadian, tidak ditemukan adanya orang yang sedang beraktivitas atau bersentuhan dengan tembok. Hingga saat ini, penyebab pasti robohnya tembok masih dalam penyelidikan," ujarnya.
Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab runtuhnya tembok dan mengetahui secara jelas faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Proses evakuasi korban berlangsung cepat setelah warga sekitar turut membantu petugas di lokasi kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan bantuan masyarakat mempercepat proses penanganan korban.
Dalam proses tersebut, sedikitnya enam ambulans dikerahkan untuk membawa korban mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Selain ambulans, sejumlah kendaraan pribadi juga digunakan untuk mendukung proses evakuasi dari lokasi.
"Ada enam ambulans, ada yang pakai mobil pribadi juga, kemudian ada dua yang standby di rumah sakit, kalau mau pulang dan sebagainya. Biayanya semua di-backup Pemerintah Kabupaten Sleman," terangnya.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman memastikan kejadian tersebut tidak berdampak terhadap aktivitas belajar mengajar siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, menjelaskan posisi pagar yang terdampak berada di bagian belakang lingkungan sekolah.
Karena lokasinya cukup jauh dari area utama sekolah, kegiatan belajar mengajar dipastikan tetap berjalan seperti biasa.
''Mboten (tidak mengganggu KBM), itu jauh kok, itu pagar belakang SD, enggak ada masalah. Itu pagarnya juga tidak terlalu tinggi, dengan masyarakat kan ada pagarnya, di belakang sekolah itu, kebetulan berbatasan dengan fasilitas umum perumahan Minomartani," katanya, Minggu.
Dengan kondisi tersebut, aktivitas sekolah tetap dapat berlangsung tanpa adanya gangguan akibat kejadian di sekitar pagar belakang sekolah.
Baca juga: Bupati Hamenang Turun Langsung Cek Banjir, Temukan Dapur Rumah Roboh hingga Sekolah Terendam
Penyebab robohnya pagar sekolah hingga kini masih belum dapat dipastikan oleh pihak terkait.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman bersama OPD teknis akan segera turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan.
Langkah ini dilakukan untuk melihat langsung kondisi pagar sekaligus menentukan penanganan yang diperlukan.
Salah satu pertimbangan yang akan dibahas yakni kemungkinan pembangunan pagar sekolah yang baru.
Tak hanya berfokus pada pagar, pemeriksaan juga akan mencakup kondisi bangunan sekolah secara menyeluruh.
Evaluasi tersebut penting untuk memastikan seluruh fasilitas sekolah berada dalam kondisi yang aman dan layak digunakan.
"Oh iya, pasti itu (mengevaluasi bangunan sekolah secara keseluruhan). Jadi sebetulnya itu kan laporan Dapodik. Kalau ruangan, lab, itu kan masuk data Dapodik, kalau pagar lingkungan itu kan pendukung ya, jadi tidak masuk Dapodik," terang Bambang.
Hasil peninjauan nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan maupun pembangunan fasilitas sekolah berikutnya.
(TribunTrends/Ninda)