Kisah Pilu Lansia di Wairbura Sikka, Turun Naik Bukit 8 Kali Sehari Demi Air Minum
Nofri Fuka August 10, 2026 02:43 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Di usia yang telah menginjak 73 tahun, Philipus Pius masih harus berjuang setiap hari demi mendapatkan air untuk kebutuhan hidup.

Warga Dusun Wairbura, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu harus turun naik bukit untuk mengambil air dari balik tebing yang kualitasnya jauh dari layak.

Air yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan minum tersebut diketahui berkapur dan bercampur abu vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki.

Krisis air bersih di wilayah tersebut telah berlangsung bertahun-tahun. Kondisi itu semakin diperparah setelah jaringan air PDAM Kabupaten Sikka ditutup sejak 2020 karena warga tidak mampu membayar tagihan.

 

Baca juga: Bantu Bangun Gedung Baru di SMA Negeri Kangae Sikka, Pesan Melki Mekeng: Rawat dan Jaga Bersama

 

 

Philipus menuturkan, selama sekitar 30 tahun menetap di Dusun Wairbura, warga memang mengandalkan sumber air dari balik tebing untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari, ia dan warga lainnya harus menempuh perjalanan sekitar 150 meter dari rumah menuju sumber air melalui jalan yang berbukit.

Dalam sehari, Philipus bisa turun naik bukit hingga delapan kali sambil membawa jeriken berisi air dengan kapasitas sekitar 20 hingga 25 liter.

"Kalau ambil air itu, biasanya empat kali. Kalau airnya kosong memang, sampai delapan kali pergi ambil. Satu kali ambil itu 25 liter," ujar Philipus, Senin (10/8/2026).

Perjuangan tersebut belum selesai setelah air berhasil dibawa pulang.

Menurut Philipus, air yang diambil dari sumber tersebut meninggalkan endapan kapur setelah dimasak. Karena itu, warga harus terlebih dahulu menyaring air sebelum mengonsumsinya.

"Kalau mau minum, kita harus saring dulu. Kalau kita tidak mau minum, mau minum air di mana lagi," katanya.

Meski kondisi air demikian, warga tetap menggunakannya karena tidak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Setiap pagi dan sore, warga juga memadati kali tersebut. Mereka memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci, sementara sebagian lainnya mengambil air dari balik tebing untuk dibawa pulang dan dikonsumsi.

Kondisi ini membuat warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap persoalan air bersih di Dusun Wairbura.

Warga berharap jaringan air yang telah ditutup dapat kembali diaktifkan sehingga mereka tidak lagi harus mempertaruhkan tenaga dan kesehatan demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagi Philipus dan warga Wairbura, air bukan sekadar kebutuhan. Setiap jeriken yang dibawa pulang adalah hasil perjuangan melewati jalan berbukit, berulang kali dalam sehari, demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga. (awk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.