TRIBUNGORONTALO.COM – Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Bone Bolango mulai memasuki tahap awal operasional Tahun Pelajaran 2026/2027 melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (10/8/2026).
Pelaksanaan tahap perdana tersebut masih berlangsung di tengah masa transisi. Untuk sementara, aktivitas SNT Bone Bolango memanfaatkan berbagai fasilitas yang berada di lingkungan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Gorontalo.
Kepala BPMP Gorontalo, Rudi Syaifullah, menjelaskan SNT merupakan program yang lahir sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026.
Baca juga: Sekda Bone Bolango Iwan Mustapa Hadiri Masa Pengenalan Sekolah Nasional Terintegrasi
Menurut Rudi, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang belajar di dalam SNT.
Sekolah ini juga diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi sekolah-sekolah di lingkungan sekitarnya.
“SNT ini mempunyai visi yang sangat mulia. Pertaama menjadi fasilitator untuk pemerataan mutu pendidikan yang ada di seluruh Indonesia, termasuk di Bone Bolango,” kata Rudi saat diwawancarai usai kegiatan MPLS di Aula BPMP Gorontalo.
Rudi menyebut SNT nantinya diharapkan berkembang menjadi salah satu pusat keunggulan pendidikan di daerah.
“Sekolah ini akan menjadi pusat keunggulan, tempat belajar anak-anak SNT dan juga anak-anak yang ada di sekitar SNT,” ujarnya.
BPMP Jadi Lokasi Transisi SNT
Pada tahap awal pelaksanaannya, seluruh kegiatan SNT Bone Bolango masih menggunakan fasilitas milik BPMP Gorontalo.
Sejumlah ruangan di lingkungan BPMP dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas sekolah, mulai dari ruang kelas hingga laboratorium, perpustakaan dan ruang kepala sekolah.
Rudi mengatakan penggunaan fasilitas BPMP merupakan bagian dari masa transisi sebelum pembangunan gedung SNT secara permanen selesai.
“Karena ini ada instruksi presiden, perlu ada masa transisi. Semua ruangan di BPMP digunakan sementara,” ungkapnya.
Pembangunan gedung permanen SNT Bone Bolango sendiri direncanakan mulai dikerjakan pada Oktober 2026. Lokasinya telah disiapkan tidak jauh dari kompleks BPMP Gorontalo.
Fasilitas yang dirancang tidak hanya berupa ruang belajar. Rencana pembangunan juga mencakup gedung olahraga, kolam renang, lapangan sepak bola serta fasilitas keterampilan untuk mendukung pengembangan kemampuan siswa.
“Insya Allah akan dibangun fasilitas-fasilitas lainnya, termasuk lahan untuk laboratorium keterampilan anak seperti pertanian dan bidang lainnya,” katanya.
Sebanyak 80 siswa tercatat menjadi peserta angkatan pertama SNT Bone Bolango. Mereka terdiri atas siswa jenjang SMP dan SMA dengan jumlah masing-masing 40 orang.
Setiap jenjang dibagi menjadi dua rombongan belajar. Dengan demikian, masing-masing kelas hanya diisi 20 siswa.
Menurut Rudi, jumlah siswa yang relatif kecil dalam satu kelas dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.
“Jumlah 20 siswa per kelas agar pembelajaran lebih efektif dan guru lebih mudah memberikan perhatian kepada anak,” jelas Rudi.
Sebelum mengikuti pembelajaran secara penuh, para siswa menjalani MPLS selama lima hari.
Kegiatan tersebut menjadi tahap awal untuk membantu siswa mengenal lingkungan sekolah, teman-teman baru dan budaya pembelajaran yang akan diterapkan.
“Karena ini sekolah baru, perlu dilakukan masa pengenalan sehingga anak-anak dapat mengenal lingkungannya dan siap mengikuti proses pembelajaran,” bebernya.
Setelah MPLS selesai, sekolah akan melakukan asesmen awal terhadap kemampuan siswa.
Asesmen tersebut mencakup sejumlah bidang, di antaranya bahasa Inggris, matematika dan ilmu pengetahuan alam.
Hasil asesmen kemudian digunakan untuk memetakan kemampuan setiap siswa sehingga sekolah dapat memberikan penanganan sesuai kebutuhan masing-masing.
“Kemampuan anak berbeda-beda. Setelah dipetakan, baru dilakukan intervensi yang tepat sesuai kebutuhan anak dan kesiapan sekolah,” jelas Rudi.
SNT Tak Gunakan Sistem Asrama
Rudi juga menjelaskan karakter SNT yang membedakannya dari sejumlah program pendidikan nasional lainnya.
Ia membandingkan SNT dengan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda. Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak dari kelompok ekonomi tertentu dengan konsep boarding school, sedangkan Sekolah Garuda menyasar siswa berprestasi dengan sistem asrama.
Sementara SNT dirancang tidak menggunakan sistem boarding.
“SNT berada di tengah-tengah. Sekolah ini diperuntukkan juga bagi anak-anak berprestasi, tetapi tidak menggunakan sistem boarding,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, siswa tetap dapat kembali ke rumah dan berinteraksi dengan keluarganya setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran di sekolah.
“Setelah belajar di sini, anak-anak tetap bisa bersama keluarga sehingga perkembangan psikologis mereka juga lebih baik,” katanya.
12 Guru Lolos Seleksi Nasional
Dari sisi tenaga pendidik, SNT Bone Bolango juga menggunakan guru yang telah melalui proses seleksi tingkat nasional.
Kepala Sekolah Nasional Terintegrasi Bone Bolango, Surahmat Hasjim, mengatakan sebanyak 12 tenaga pendidik terpilih dari ribuan pelamar untuk mengajar di SNT Bone Bolango.
“Tenaga pendidik di sekolah ini adalah lulusan terbaik dari universitas keguruan di Indonesia. Mereka telah diseleksi dari ribuan pelamar,” kata Surahmat.
Para guru tersebut sebelumnya telah mendapatkan pembekalan dari Kementerian Pendidikan Nasional. Kualitas dan kinerja mereka juga akan terus dipantau selama menjalankan tugas.
Dari 12 guru yang terpilih, empat orang berasal dari Provinsi Gorontalo. Delapan lainnya berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
“Seleksi dilakukan secara nasional agar guru-guru yang ditempatkan benar-benar sesuai kualifikasi yang dibutuhkan sekolah,” ujarnya.
Untuk tahap awal, para guru tersebut berstatus sebagai tenaga pendamping pembelajaran.
Menurut Surahmat, penyebutan tersebut berkaitan dengan status kepegawaian dan tidak membedakan tugas mereka dalam proses pembelajaran.
“Tidak ada bedanya dengan guru, hanya penamaan karena terkait status kepegawaian,” katanya.
Kurikulum Nasional Diperkuat Potensi Lokal
Dalam pelaksanaan pembelajaran, SNT Bone Bolango tetap menggunakan kurikulum nasional. Namun, penerapannya akan dipadukan dengan penguatan terhadap budaya dan potensi lokal.
Sekolah juga mengambil referensi dari berbagai praktik pendidikan unggulan yang diterapkan di tingkat internasional.
“Kami menggunakan kurikulum nasional, tetapi juga bercermin dari program pembelajaran terbaik yang dilakukan sekolah-sekolah unggulan,” kata Surahmat.
Sebelum sekolah mulai beroperasi, pihak SNT Bone Bolango juga melakukan benchmarking atau studi tiru ke sejumlah sekolah terbaik di Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan sekolah yang dinilai mampu memberikan layanan pendidikan berkualitas.
Surahmat berharap keberadaan SNT Bone Bolango dapat memperluas akses masyarakat Gorontalo terhadap pendidikan berkualitas, khususnya bagi anak-anak di Bone Bolango.
“Sekolah ini hadir untuk membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” pungkasnya. (*)