Tidak Pakai Gaya Militer, Kenapa Anak Sekolah di Jepang Bisa Sangat Disiplin?
GH News August 10, 2026 04:09 PM
Jakarta -

Pendidikan militer semakin banyak diadopsi untuk membentuk kedisiplinan siswa-siswa di sekolah. Namun, siswa-siswa di Jepang dikenal memiliki kedisiplinan tinggi, meski tanpa militer di sekolah. Bagaimana bisa?

Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, India, dan Indonesia, pendidikan militer masuk dalam kurikulum beberapa sekolah. Tujuannya kurang lebih sama, yakni untuk membina karakter anak sekolah.

Namun, di sisi lain, tren pendidikan yang maju telah mengarah pada kedisiplinan dengan pendekatan dialog autentik, pemahaman bersama, dan tanggung jawab komunal, demikian dilansir The Atlantic. Di AS, pendekatan ini terbukti efektif dalam banyak kasus untuk meningkatkan budaya sekolah dan meningkatkan prestasi.

Sementara pendekatan pendidikan militer cenderung sangat berbeda. The Atlantic menyebut siswa perlu meminta izin untuk berbicara, semua siswa berpakaian sama, serta mengikuti instruksi.

Jepang Membentuk Kedisiplinan Anak sejak Dini

Mengutip T-connect, masyarakat Jepang memiliki filosofi pendidikan bahwa "manusia adalah bagian dari sebuah kelompok". Pemahaman ini memberi kesadaran kepada setiap orang tua dan guru bahwa anak-anak perlu diajarkan tanggung jawab dan rasa kebersamaan.

Prinsip pokok pengasuhan atau pendidikan anak ala Jepang, yakni:

1. Anak diperlakukan dengan penuh hormat. Bagi orang tua, anak adalah manusia yang memiliki nilai diri.

2. Memupuk kemandirian. Anak-anak didorong untuk melakukan segala sesuatu yang bisa mereka lakukan sendiri, mulai dari pekerjaan rumah hingga merawat diri sendiri.

3. Diberi pemahaman kolektif. Anak-anak di Jepang dididik untuk mengutamakan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi.

4. Melatih kesabaran. Orang tua akan berdialog dan mengajari anak untuk mengendalikan emosi dan meresponsnya dengan tenang.

5. Disiplin tanpa hukuman. Kedisiplinan yang dibentuk pada anak-anak berlandaskan akal sehat dan teladan, bukan hukuman fisik.

Sejak dini, anak-anak di Jepang dibentuk karakter kedisiplinannya melalui pelatihan harian. Termasuk dibimbing untuk menjaga ketertiban di tempat umum dan berbaris saat menunggu.

Saat masuk sekolah, anak-anak sudah memiliki kebiasaan membersihkan barang pribadi dan membersihkan kelas secara bersama-sama. Dalam hal ini, orang tua atau para guru bertindak sebagai teladan dan partner yang juga ikut menjaga lingkungan.

Berbeda dengan pendekatan militer, anak-anak cenderung akan dibentuk karakter kedisiplinannya melalui sebuah hukuman. Selain itu, pendidikan militer juga cenderung membentuk komunikasi berdasarkan perintah atau instruksi, bukan dialog sehat yang bisa mengajarkan empati dan pengendalian emosi.

Kunci Kedisiplinan Anak adalah Membangun Rasa Percaya sejak Dini

Kepala Divisi Akademik Kampus Guru Cikal, Tari Sanjoyo, mengatakan bahwa kunci pendisiplinan pada anak adalah membangun rasa percaya sejak dini. Penciptaan lingkungan positif dapat dibangun dengan rasa percaya, bukan dengan penegakan aturan dan hukuman.

Salah satunya adalah membangun dialog untuk mendengarkan pendapat anak. Misalnya, dengan membuat sebuah kesepakatan tertentu saat belajar.

"Buat kesepakatan di awal. Misalnya, untuk anak yang cenderung aktif, buat kesepakatan dengan melakukan aktivitas fisik sebelum kegiatan belajar dimulai untuk menyalurkan energinya, sehingga kemudian dia siap menerima pelajaran. Buat anak senang dulu di awal kegiatan," jelasnya dalam laman Universitas Brawijaya (UB), dikutip Jumat (7/8/2026).

Menurut alumni Psikologi Universitas Indonesia tersebut, dua minggu pertama masuk sekolah adalah waktu terbaik bagi guru untuk membuat kesepakatan besar. Dalam jangka waktu tersebut, anak-anak terlibat dalam penentuan kesepakatan bersama.

Dengan cara itu, guru mengerti apa yang siswa inginkan. Di sisi lain, siswa menjadi bersemangat untuk mengikuti pelajaran.

Sementara Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, Dr A Umar MA, menilai pelatihan kedisiplinan bernuansa militer di sekolah mungkin bisa menyajikan hasil instan. Namun, sejarah dan nilai-nilai pendidikan mengajarkan bahwa pembentukan karakter sejati bertumpu pada keteladanan yang konsisten, dialog yang jujur, serta lingkungan yang memungkinkan manusia berkembang secara utuh - lahir dan batin.

"Pendidikan karakter sejatinya bukanlah produk eksklusif ruang kelas, melainkan hasil dari proses panjang dalam ekosistem sosial yang melibatkan banyak pihak," ucapnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag).

Dalam hal ini, anak-anak lebih banyak belajar dari lingkungan tempat mereka tumbuh, mulai dari orang tua, guru, tokoh masyarakat, hingga aparat negara. Dalam sudut pandang pendidikan, katanya, karakter seperti kedisiplinan tidak dibentuk melalui sebuah instruksi atau aturan.

"Program pelatihan berbasis disiplin militer, sekeras apa pun, hanya mampu menawarkan ketertiban semu yang bersifat temporer. Ia tidak menyentuh akar persoalan karakter bangsa, karena sejatinya pendidikan karakter bukanlah soal hukuman keras, bukan pula ceramah moral tanpa keteladanan. Pendidikan karakter adalah tentang membangun ekosistem nilai yang hidup: keteladanan sosial, dialog yang sehat, relasi yang manusiawi, dan konsistensi nilai di ruang-ruang publik," ungkap Dr Umar.

Kebiasaan Anak-anak Sekolah di Jepang yang Patut Dicontoh

Dengan pelibatan pendidikan karakter yang kolektif, Jepang telah membuktikan bahwa anak-anak sekolah bisa memiliki kebiasaan disiplin tanpa intervensi militer. Beberapa kebiasaan disiplin yang bisa dicontoh dari anak-anak sekolah di Jepang antara lain:

1. Rutinitas membersihkan sekolah bersama-sama

Mengutip Times of India, sebagian besar sekolah di Jepang tidak memiliki petugas kebersihan. Sebagai gantinya, siswa memiliki waktu 15-20 menit setiap hari untuk membersihkan kelas, lorong, hingga toilet bersama-sama dan saling gotong royong. Kebiasaan ini disebut O-soji.

2. Rasa hormat kepada siapa saja

Orang Jepang memiliki kebiasaan membungkuk saat menyapa. Ini dilakukan sebagai rasa hormat dan terima kasih. Cara ini juga dilakukan kepada teman sebaya, sehingga tertanam budaya tata krama sejak kecil.

3. Mandiri

Mayoritas anak-anak di Jepang berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki tanpa didampingi orang tua. Mereka telah dilatih kemandirian, kepercayaan, dan ketahanan diri.

4. Tidak saling membandingkan

Pendidikan di Jepang mendorong anak-anak untuk fokus pada usahanya. Persaingan akademik tetap ada, tapi siswa diajarkan untuk membangun ketahanan emosional dan sekolah berusaha mengurangi tekanan akademis yang negatif.

5. Makan makanan sehat

Anak-anak di Jepang dibiasakan untuk disiplin mengonsumsi makanan sehat. Di sekolah, mereka memiliki program makanan bergizi.

Namun, mereka tidak hanya diberi makanan lalu disantap. Siswa Jepang bergiliran menyajikan makan siang yang disediakan oleh program kepada teman sekelas mereka.

Siswa dan guru, sama-sama mengonsumsi makanan yang disiapkan bersama-sama di meja mereka. Tidak ada makanan cepat saji, makanan kemasan, dan tidak ada hierarki.

Fahri Zulfikar
Jurnalis detikcom. Bergabung dengan detikcom sejak 2019. Aktif meliput isu-isu pendidikan, iklim, riset & analisis, konten seputar Gen Z serta menyukai dunia sepak bola. Kini jadi penulis buku.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.