Punya Potensi Besar, Pelaku Industri Pariwisata Dorong Pembukaan Direct Flight Bangkok - Jogja
Hari Susmayanti August 10, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para pelaku industri pariwisata yang tergabung dalam Indonesia Inbound Tour Operator Association (IINTOA) mendorong pemerintah pusat maupun daerah untuk merealisasikan pembukaan rute penerbangan langsung (direct flight) Bangkok - Yogyakarta.

​Langkah ini dinilai menjadi kunci krusial untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) secara signifikan ke Yogyakarta dan sekitarnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) IINTOA, Ricky Setiawanto, mengungkapkan bahwa Thailand memiliki potensi pasar yang sangat besar dengan torehan sekitar 40 juta wisatawan per tahun. 

Menggaet sebagian kecil dari angka tersebut ke Yogyakarta, disebutnya bakal memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi sektor pariwisata lokal.

​"Kalau kita minta 10 persen saja itu sudah besar sekali. Selain pasar wisman yang melancong ke sana, mayoritas penduduk Thailand juga beragama Buddha, sehingga Candi Borobudur menjadi magnet spiritual yang sangat kuat bagi mereka," ujarnya, di sela agenda Java Inbound Travel Connect (JITAC) 2026 di Kota Yogyakarta, Senin (10/8/26).

​Ricky menambahkan, potensi keterisian penumpang atau seat load factor untuk rute dua arah (inbound-outbound) Bangkok - Yogyakarta juga sangat menjanjikan. 

Menurutnya, pasar dari Yogyakarta dan sekitarnya menuju Bangkok cukup besar mengingat nilai tukar mata uang Baht yang relatif terjangkau bagi wisatawan domestik dibanding negara tetangga lainnya.

​"Orang Indonesia dari Yogyakarta, Jawa Tengah seperti Solo dan Purworejo, kini banyak yang membidik Bangkok sebagai destinasi liburan karena biayanya kompetitif. Jadi keterisian pesawat dari sana ke sini penuh, dan dari sini ke sana juga penuh," jelasnya.

Baca juga: JITAC 2026 Digelar di Jogja, Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Realisasikan Target 16,8 Juta Wisman

​Senada, Ketua Umum IINTOA, Paul Edmundus Talo, menegaskan pentingnya strategi "jemput bola" dari pemerintah, baik itu Dinas Perhubungan, Kementerian Perhubungan, hingga instansi terkait seperti Taman Wisata Candi (TWC).

Ia menyoroti keberhasilan Labuan Bajo yang kini mengalami lonjakan kunjungan wisatawan drastis setelah memiliki akses penerbangan langsung, tidak hanya bergantung pada Bali.

​"Labuan Bajo sekarang pariwisatanya hidup luar biasa karena ada direct flight. Kita mengharapkan Yogyakarta dan Borobudur pun demikian. Jangan hanya puas dengan angka yang ada sekarang, kita harus proaktif mendatangkan turis," tegasnya.

​Apalagi, kata Edmundus, Yogyakarta telah didukung oleh keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo yang megah dan berkapasitas besar. 

Menurutnya, sangat disayangkan jika fasilitas bandara seluas dan sekelas YIA belum dimaksimalkan untuk penerbangan internasional jarak menengah.

​"Yogyakarta punya airport bagus dan besar di Kulon Progo, sayang sekali kalau yang datang hanya satu dua pesawat penerbangan internasional. Kalau setiap hari ada banyak penerbangan dari luar negeri, hotel-hotel di Yogyakarta akan penuh," ungkapnya.

​Lebih lanjut, efek domino atau multiplier effect dari dibukanya rute penerbangan langsung Bangkok - Yogyakarta ini diyakini tidak hanya dirasakan oleh DIY, tetapi juga daerah di sekitarnya.

Seperti wilayah Jawa Tengah, mulai dari Magelang, Solo, Wonosobo, hingga kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur yang kini sudah terhubung tol.

​"Harapan kami pesan ini didengar oleh Pemerintah Daerah DIY dan Kementerian. Potensinya sangat nyata, tinggal bagaimana kita bersama-sama memperjuangkan akses penerbangan langsung ini agar segera terealisasi," pungkasnya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.