TRIBUNMANADO.CO.ID - Obor Pemuda GMIM, renungan Senin 10 Agustus 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Filipi 2:12.
Tema perenungan Kerjakan Keselamatanmu dengan Takut dan Gentar.
Khotbah:
Sobat Obor, Saat sakit, kita memeriksakan diri ke dokter. Setelah diperiksa, dokter tidak Iangsung menyembuhkan kita dengan sentuhan tangan, tetapi memberikan sebuah resep obat.
Di tangan kita, resep itu terlihat sederhana. Hanya selembar kertas, berisi nama obat, aturan minum, dan waktu pemakaian.
Namun di balik kertas kecil itu ada satu harapan besar: kesembuhan. Menariknya, resep itu tidak otomatis membuat kita sembuh.
Kita bisa saja pulang, menyimpan resep itu di tas, atau bahkan menaruhnya di meja tanpa pernah menebus obatnya.
Kita bisa tahu apa yang harus dilakukan, ketika itu terjadi, penyakit tetap ada, bahkan bisa bertambah parah.
tetapi tidak melakukannya.
Dan Begitu pula dengan keselamatan. Tidak ada keselamatan tanpa Allah, tetapi apa yang ditawarkan Allah, harus diterima sepenuhnya oleh manusia.
Sebab Allah tidak pernah menahan-nahan keselamatan, manusialah yang selalu enggan untuk menerimanya. Karenanya. Paulus mengingatkan: "Kerjakanalah keselamatanmu dengan takut dan gentar"
Sobat obor, jika keselamatan adalah karya Allah yang paling berharga dalam hidup kita, maka hidup tidak lagi bisa dijalani sebagai sesuatu yang asal jalan atau sekadar mengikuti arus.
Hidup harus dijalani dengan kesadaran bahwa setiap langkah memiliki makna dan arah.
Mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar berarti menyadari bahwa hidup ini bukan ruang bebas tanpa tujuan, tetapi sebuah proses pembentukan diri di hadapan Allah. Memang banyak diantara kita ingin hidup yang
cepat, instan, dan tanpa tekanan.
Tetapi firman mengingatkan bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa cepat kita berhasil, tetapi dari seberapa
sungguh kita menjalani proses sesuai kehendak Tuhan.
Dengan demikian, orang yang mengerti keselamatan tidak lagi hidup sekadar mengejar kenyamanan, tetapi mengejar kedewasaan.
la tidak hanya bertanya "apa yang menyenangkan saya?", tetapi juga "apa yang sedang Tuhan bentuk dalam diri saya?"
Karena pada akhirnya, hidup yang dikerjakan di dalam Tuhan bukan hidup yang tanpa proses, tetapi hidup yang memiliki arah dan tujuan yang kekal. Amin.