TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Indonesian Inbound Tour Operators Association (IINTOA) menggencarkan kolaborasi untuk memboyong wisatawan ke Tanah Air.
Bukan tanpa alasan, pemerintah punya harapan tinggi di sepanjang 2026, dengan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebesar 16,8 juta orang.
Salah satu langkah konkret penyerapan pasar turis asing tersebut diwujudkan melalui ajang Business-to-Business (B2B) Java Inbound Travel Connect (JITAC) 2026 yang bergulir di Kota Yogyakarta, Senin (10/8/26).
Kepala Bidang Perencanaan Mancanegara Kemenpar, Deni Priadi, mengungkapkan, hingga pertengahan tahun ini, realisasi kunjungan turis asing ke Indonesia sudah mencapai 40 persen dari target nasional.
"Target kita tahun ini 16,8 juta kunjungan. Berdasarkan data BPS hingga Mei, capaian kita sudah di angka 40 persen. Memang nanti ada peak season, harapannya lonjakan kunjungan terjadi di periode tersebut dan target bisa tercapai," ujarnya.
Menjawab isu dan keluhan pelaku usaha mengenai efektivitas promosi wisata Indonesia di luar negeri, Deni menegaskan bahwa pemerintah terus mengoptimalkan berbagai saluran pemasaran, khususnya berbasis digital, untuk membangkitkan minat calon wisatawan internasional.
Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta pun menjadi kunci utama untuk melengkapi keterbatasan jangkauan anggaran promosi tersebut.
"Dari sisi budget, mungkin biaya promosi kita tidak sebesar negara tetangga seperti Thailand atau Singapura. Namun dari sisi upaya, kami bergerak semaksimal mungkin. Di Deputi Bidang Pemasaran ada divisi khusus strategi dan komunikasi yang gencar membangun kesadaran wisatawan lewat media digital," paparnya.
"Pemerintah dan swasta saling melengkapi. Ketika pemerintah belum menyasar wilayah tertentu seperti Taiwan, swasta yang jalan. Begitu juga saat berpromosi di Malaysia atau Singapura, kita sering kali berjalan berangkulan," tambah Deni.
Ketua Umum IINTOA, Paul Edmundus Talo, menjelaskan bahwa promosi pariwisata inbound pada dasarnya terbagi dalam beberapa bentuk, mulai dari keikutsertaan pameran internasional, pemasaran digital, direct selling, hingga kampanye di media sosial.
Menurutnya, kolaborasi riil antara pemerintah dan asosiasi swasta terbukti efektif menggaet pasar turis mancanegara secara langsung ke berbagai destinasi Tanah Air.
"Kami dari swasta terus bergerak melukiskan keindahan Indonesia ke luar negeri. Seperti rencana sales mission kami ke Taipei, Taiwan, di mana kami membawa 25 peserta dari kalangan perhotelan dan operator tur. Kegiatan ini disokong penuh oleh pemerintah," ungkapnya.
Edmundus menambahkan, ajang JITAC 2026 di Kota Yogyakarta menjadi sarana penting direct selling yang mempertemukan langsung para buyer asing, seperti dari Malaysia dan India, dengan para pelaku industri pariwisata di Pulau Jawa.
Gelaran tersebut menghadirkan beragam rangkaian kegiatan, mulai dari Business Matching, Panel Discussion, Networking Session, hingga Familiarization Trip (FAM Trip) untuk mengenalkan potensi wisata unggulan di Pulau Jawa secara lebih dekat kepada para pembeli mancanegara.
"Langkah ini bukan hanya untuk Bali semata, tetapi juga mempromosikan Yogyakarta, Jakarta, Danau Toba, Labuan Bajo, hingga destinasi prioritas lain. Anak-anak muda dan turis masa kini mencari informasi lewat gadget. Karena itu, konten yang dibangun pemerintah dan swasta harus berjalan beriringan," ujarnya. (aka)