Madiun Jadi Daerah Pertama di Jatim Salurkan Bantuan Pangan untuk 107.231 KPM
Samsul Arifin August 10, 2026 05:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Penyaluran bantuan pangan periode Juli-September 2026 mulai digulirkan di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. 

Daerah ini menjadi yang pertama di Jawa Timur yang menyalurkan bantuan pangan tersebut kepada masyarakat.

Peluncuran bantuan pangan tersebut dilakukan di Kantor Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Senin (10/8/2026).

Secara simbolis, Bupati Madiun Hari Wuryanto menyerahkan bantuan pangan berupa beras sebanyak 30 kilogram kepada sejumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Dalam kesempatan yang sama, penerima bantuan juga mendapatkan bendera merah putih untuk menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Bantuan pangan tersebut merupakan bentuk jaring pengaman sosial (JPS) untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan dan memperkuat stabilitas pangan nasional.

Baca juga: Motor Rampasan Negara Dilelang Kejari Kabupaten Madiun, Masyarakat Juga Bisa Ikut Nawar Online

Sasar 30 Persen Keluarga di Kabupaten Madiun

Bupati Madiun Hari Wuryanto mengatakan bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat di tengah adanya informasi mengenai kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok.

"Ini bentuk kehadiran pemerintah pada masyarakat untuk bisa menstabilkan harga karena ada beberapa informasi ada kenaikan harga. Harapannya dengan adanya bantuan ini masyarakat tidak panik, sehingga tetap ayem setelah menerima bantuan ini," kata Hari.

Menurutnya, bantuan pangan tersebut menyasar sekitar 30 persen keluarga di Kabupaten Madiun. Pemerintah daerah berharap bantuan itu benar-benar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga penerima.

"Jangan sampai pangan ini dijual, karena ini untuk kebutuhan mereka. Kita pilih dari sekian ini ada 30 persen warga kita supaya betul-betul ini menjadi cadangan mereka supaya tidak ada kekurangan pangan," ujarnya.

Hari menjelaskan, daerah yang ia pimpin bisa menjadi daerah pertama di Jawa Timur yang menyalurkan bantuan pangan periode ini karena adanya koordinasi yang terjalin dengan baik antara pemerintah daerah dengan Perum Bulog serta kesiapan pemerintah desa 

Orang nomor satu di Kabupaten Madiun ini mengatakan proses penyaluran juga telah menggunakan aplikasi sehingga distribusi bantuan dapat tercatat dan dilaporkan secara langsung kepada pemerintah pusat.

"Alhamdulillah ini karena koordinasi kami dengan Bulog luar biasa sehingga kita bisa menjadwalkan secepatnya. Kebetulan desa juga sudah siap karena kita harus by aplikasi," jelasnya.

107.231 KPM Terima 30 Kg Beras

Sementara itu, Pemimpin Cabang Perum Bulog Madiun Agung Sarianto mengatakan sebanyak 107.231 KPM di Kabupaten Madiun menjadi penerima bantuan pangan untuk periode Juli, Agustus, dan September 2026.

Setiap KPM mendapatkan alokasi 10 kilogram beras per bulan. Namun, dalam penyaluran kali ini bantuan tiga bulan dirapel sehingga masing-masing penerima mendapatkan 30 kilogram beras sekaligus.

"Jadi nanti beras yang akan tersalurkan atau beredar di Kabupaten Madiun itu sejumlah 3.216.930 kilogram," kata Agung.

Agung menjelaskan jumlah penerima bantuan pangan di Kabupaten Madiun mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Pada alokasi Februari, penerima tercatat sebanyak 110.124 KPM, sedangkan saat ini menjadi 107.231 KPM.

Penurunan tersebut mengikuti pembaruan data penerima yang digunakan pemerintah.

"Datanya dari data yang sudah ter-update, jadi memang semuanya dari data yang ter-update," ujarnya.

Berbeda dengan periode sebelumnya, bantuan pangan Juli-September 2026 hanya berupa beras. Sedangkan pada periode Februari - Maret, setiap KPM mendapatkan total 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng.

"Minyaknya memang tidak dapat karena dari pusat memang tidak ada," jelas Agung.

Agung memastikan beras yang disalurkan kepada masyarakat merupakan beras yang layak konsumsi, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

Pihaknya juga membuka ruang pengaduan apabila penerima menemukan beras yang tidak sesuai, baik terkait kualitas maupun timbangannya. Bulog akan mengganti bantuan tersebut apabila ditemukan masalah.

"Kalau ada satu-dua yang kualitas maupun timbangannya kurang, siap kami ganti dan kami tanggung jawab. Bisa langsung dilaporkan kepada kami dan dalam 2 x 24 jam bisa kami ganti," tegasnya.

Agung memastikan, beras yang disalurkan melalui program bantuan pangan merupakan hasil serapan gabah atau beras dari petani lokal di wilayah kerja Cabang Perum Bulog Madiun.

Lebih lanjut, untuk jadwal penyaluran, Bulog menargetkan seluruh bantuan pangan periode Juli-September selesai disalurkan paling lambat 30 September 2026. 

Namun, percepatan dilakukan selama Agustus dengan memprioritaskan desa dan kecamatan yang telah siap menyalurkan bantuan.

"Karena di bulan Agustus ini banyak kegiatan 17-an (peringatan kemerdekaan), kami intens berkoordinasi dengan perangkat desa dan kecamatan. Mana yang ready itu kita salurkan terlebih dahulu," katanya.

Ia optimistis seluruh bantuan dapat diselesaikan sesuai target. Terlebih, pada periode sebelumnya Cabang Bulog Madiun juga berhasil menjadi yang pertama menyelesaikan penyaluran bantuan pangan di Jawa Timur.

Sementara itu, seorang KPM, Katimah, mengaku senang karena ia mendapatkan bantuan beras 30 kilogram melalui program bantuan pangan.

Tahun ini merupakan yang kedua kalinya ia mendapatkan bantuan pangan setelah sebelumnya juga mendapatkan bantuan serupa.

Bantuan tersebut sangat membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena ia sendiri tidak memiliki sawah sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia harus beli.

"(Bantuannya) untuk dimakan sehari - hari, tidak dijual," ucap Katimah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.