TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan masih memburu ratusan kasus tuberkulosis (TBC) yang diperkirakan belum terdeteksi sepanjang 2026. Dari estimasi 585 kasus TBC sepanjang 2026, baru sekitar 23 persen atau 135 kasus yang berhasil ditemukan hingga Juli. Artinya, sekitar 77 persen atau 450 kasus lainnya masih belum terdeteksi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin mengatakan, screening TBC terintegrasi cek kesehatan gratis dilaksanakan mulai Agustus hingga November 2026. Kegiatan tersebut menyasar tiga kelurahan dan 24 desa dengan target 100 orang pada setiap lokus. Dengan 27 lokus, jumlah warga yang ditargetkan menjalani pemeriksaan mencapai sekitar 2.700 orang.
"Dari bulan Agustus ini sampai dengan November 2026 melakukan kegiatan screening kasus Tuberkulosis terintegrasi cek kesehatan gratis ke masyarakat, dilaksanakan di tiga kelurahan dan 24 desa," kata Slamet Wahidin, Senin (10/8).
Slamet Wahidin menjelaskan, pemeriksaan tidak dibatasi berdasarkan kelompok usia tertentu. Sasaran utama adalah masyarakat yang mengalami gejala TBC maupun warga yang merasa pernah melakukan kontak dengan penderita, baik kontak serumah maupun kontak erat. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memperbesar peluang menemukan kasus yang selama ini belum terdeteksi.
Rangkaian screening dilakukan melalui beberapa tahapan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatan masyarakat. Tahap awal dilakukan dengan pemeriksaan tanda dan gejala TBC, kemudian dilanjutkan tes Mantoux atau pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Peserta juga mendapatkan cek kesehatan gratis seperti pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah dan pemeriksaan kesehatan lainnya untuk mengetahui kemungkinan penyakit lain.
"Pemeriksaannya melalui pemeriksaan tanda-tanda dan gejala TB, kemudian tes Mantoux ataupun pemeriksaan dahak melalui TCM, serta pemeriksaan cek kesehatan gratis," jelas Slamet Wahidin.
Di tengah upaya mengejar penemuan kasus, DKPPKB juga mencatat satu kematian akibat TBC pada 2026. Kasus tersebut terjadi pada masyarakat usia produktif dengan usia sekitar 20-an tahun. Slamet mengingatkan risiko kematian TBC dapat meningkat apabila penderita terlambat mendapatkan pengobatan.
Ia menegaskan TBC sebenarnya dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur. Namun, terapi TBC membutuhkan waktu cukup panjang, yakni sekitar empat hingga enam bulan sehingga kedisiplinan pasien menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengobatan.
Pasien yang menghentikan obat sebelum waktunya berisiko mengalami masalah pengobatan dan memperpanjang proses penyembuhan. "Bila dilakukan pengobatan dan berobat dengan teratur, kasus TBC ini bisa disembuhkan, tetapi pengobatannya membutuhkan waktu empat sampai enam bulan," bebernya.
Saat ini tingkat kesembuhan TBC di Kabupaten Bangka Selatan masih berada di kisaran 70 hingga 80 persen. Artinya, masih terdapat sekitar 20 hingga 30 persen penderita yang belum menjalani pengobatan secara optimal, termasuk mereka yang berhenti minum obat setelah merasa kondisi tubuh membaik.
"Ketika dua bulan berobat merasa sudah baikan lalu menghentikan pengobatan, risikonya menjadi TB resisten dan pengobatannya bisa mencapai sembilan bulan," tegas Slamet Wahidin. (u1)
Jangan Abaikan Batuk Berkepanjangan
MASYARAKAT Kabupaten Bangka Selatan diminta tidak mengabaikan batuk berkepanjangan karena dapat menjadi tanda tuberkulosis (TBC). Pemerintah daerah mengingatkan warga untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis (CKG) di puskesmas untuk mendeteksi penyakit sejak dini. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan secara gratis dan masyarakat dianjurkan memeriksakan kesehatan sedikitnya sekali dalam setahun.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, mengatakan masyarakat memiliki kesempatan memanfaatkan layanan kesehatan gratis melalui program CKG. Program tersebut memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di puskesmas tanpa harus khawatir mengenai biaya. Pemeriksaan rutin dinilai penting untuk menemukan berbagai penyakit, termasuk TBC, sejak dini.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di puskesmas wilayah Bangka Selatan dan pemeriksaan ini dijamin gratis," kata Slamet Wahidin, Senin (10/8).
Menurutnya, terdapat sejumlah gejala yang perlu diwaspadai masyarakat sebagai indikasi TBC. Batuk lebih dari dua minggu, demam yang hilang timbul terutama pada malam hari, serta penurunan berat badan secara drastis menjadi tanda yang perlu segera diperiksa. Warga yang mengalami gejala tersebut diminta tidak menunggu kondisi semakin parah untuk mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
"Gejala TB yang pertama adalah batuk lebih dari dua minggu, kemudian demam yang hilang timbul di malam hari dan terjadi penurunan berat badan yang cukup drastis," beber Slamet Wahidin.
Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai potensi penularan TBC melalui droplet ketika penderita batuk. Karena itu, warga yang sedang mengalami batuk maupun pilek diminta tetap menerapkan etika batuk meskipun belum mengetahui penyebab penyakitnya. Kebiasaan sederhana tersebut dinilai dapat membantu mengurangi penyebaran droplet ke orang-orang di sekitar. "TB ketika batuk itu potensi penularannya cukup tinggi," ungkapnya. (u1)