BMKG Sampaikan Potensi Kekeringan di 13 Wilayah Kalsel, Berlaku Mulai Besok, Selasa 11 Agustus 2026
Mulyadi Danu Saputra August 10, 2026 05:49 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi Kekeringan Meteorologis tingkat Waspada di beberapa wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel)

Hal itu dampak berlangsungnya musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncak pada Agustus hingga September 2026,.

Kekeringan meteorologis ini berlangsung mulai 11 hingga 20 Agustus 2026 mendatang.

Baca juga: 300 Ha Sawah di Handil Negara Tala Terancam Gagal Panen, Wisata Sungai HSU Juga Terdampak Kekeringan

Kekeringan meteorologis merupakan kondisi kekurangan curah hujan di suatu wilayah dalam periode waktu yang cukup lama (di bawah normal rata-rata).

Kondisi ini merupakan tahap awal dari bencana kekeringan yang dipicu oleh anomali cuaca, peningkatan suhu, dan tingginya tingkat penguapan (evapotranspirasi) sebelum akhirnya berdampak pada ketersediaan air tanah atau pertanian.

Warga yang diperkirakan terdampak pun dihimbau waspada mengingat hingga kini kebakaran hutan dan lahan juga masih terus berlangsung.

Berdasar perkiraan BMKG, terdapat potensi Kekeringan Meteorologis tingkat Waspada di beberapa wilayah Kalimantan Selatan, yaitu:

  • Kota Banjarmasin
  • Kota Banjarbaru
  • Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS)
  • Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU)
  • Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST)
  • Kabupaten Tanahbumbu (Tanbu)

Terdapat juga wilayah yang berpotensi mengalami Kekeringan Meteorologis tingkat Siaga, yakni:

  • Kabupaten Baritokuala (Batola)
  • Kabupaten Banjar
  • Kabupaten Tanahlaut (Tala)
  • Kabupaten Kotabaru
  • Kabupaten Tapin

Baca juga: Lahan Padi Seluas 6.691 Hektare Mengalami Kekeringan, 275 Kg Benih Persemaian Terdampak

Terdapat juga wilayah yang tidak mengalami Kekeringan Meteorologis, yaitu:

  • Kabupaten Tabalong
  • Kabupaten Balangan

Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk menggunakan air secara bijak, mewaspadai potensi berkurangnya ketersediaan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kans Memicu Bencana

Lebih jauh BMKG Kalsel menyampaikn, tahun ini, kemarau tidak hanya menghadirkan cuaca panas dan minimnya curah hujan.

Tapi juga memicu berbagai bencana yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Satu di antaranya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap. 

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel periode 14 hingga 27 Juli 2026, tercatat 261 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 654,99 hektare.

Dari data tersebut, Kota Banjarbaru merupakan daerah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 87 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 230,27 hektare dan 46 titik hotspot. 

Kabupaten Banjar mencatat 36 kejadian dengan luas lahan terdampak 121,7 hektare. 

Namun, jumlah titik hotspot di wilayah ini menjadi yang tertinggi, yakni mencapai 199 titik.

Wilayah lainnya yang juga mencatat kejadian karhutla adalah Tanahlaut sebanyak 45 kejadian dengan luas terdampak 156,31 hektare.

Hulu Sungai Selatan (HSS) 27 kejadian seluas 47,45 hektare, Tapin 18 kejadian seluas 32,34 hektare serta Hulu Sungai Tengah (HST) tujuh kejadian dengan luas terdampak 20,5 hektare.

Kemudian Hulu Sungai Utara (HSU) mencatat sembiln kejadian dengan luas 13,56 hektare, Tanahbumbu tujuh kejadian seluas 8,5 hektare, Balangan lima kejadian seluas 4,21 hektare.

Kotabaru lima kejadian seluas 4,5 hektare, Tabalong empat kejadian seluas 4,1 hektare, dan Barito Kuala sembilan kejadian dengan luas lahan terdampak 11,5 hektare.

Sedangkan Kota Banjarmasin tercatat mengalami dua kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 0,05 hektare.

(Banjarmasinpost.co.id/Danti Ayu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.