Kisah Bima Sixteen: Terinspirasi Ayah dan Anime Slam Dunk Hingga Bersinar di DBL
Pipit Maulidya August 10, 2026 06:05 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kecintaan Muhammad Alif Bima Prakoso terhadap basket ternyata tumbuh dari lingkungan keluarga.

Sejak kecil, pemain SMAN 16 Surabaya yang akrab disapa Bima itu sudah mengenal olahraga basket melalui sang ayah.

Kecintaan tersebut akhirnya mengantarkan Bima ke panggung Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North bersama Sixteen, julukan tim basket SMAN 16 Surabaya.

Bima bahkan tampil impresif ketika Sixteen menghadapi SMKN 7 Surabaya (Stemda).

Pemain kelas XII itu menjadi salah satu pemain paling menonjol dengan torehan 18 poin, enam rebound, dan satu assist.

Kontribusi tersebut turut mengantarkan Sixteen meraih kemenangan telak 58-5 atas Stemda.

Meski menjadi pencetak angka terbanyak, Bima tidak menjadikan statistik pribadi sebagai tujuan utama. Ia mengaku hanya berusaha menjalankan instruksi pelatih dan memberikan kontribusi terbaik untuk tim.

“Enggak nyangka juga sih. Soalnya tadi aku main buat tim, jadi enggak terpikir buat poin banyak. Aku cuma menjalankan sistem yang dikasih coach,” ujar Bima.

Puas dengan Jumlah Poin yang Dikumpulkan

Bagi Bima, hal yang paling berkesan dari pertandingan tersebut bukanlah jumlah poin yang berhasil dikumpulkan. Ia justru merasa puas karena bisa membantu tim, rekan-rekannya, sekaligus memberikan kebahagiaan kepada para pendukung Sixteen.

“Momen pas bisa nyumbang poin itu. Rasanya bisa kasih impact buat tim, bantu teman-teman, dan bikin supporter senang juga,” tuturnya.

Kemenangan dengan selisih 53 poin juga tidak membuat Bima dan Sixteen terlena. Menurutnya, setiap pertandingan tetap harus dijalani dengan serius tanpa melihat siapa lawan yang dihadapi.

Bima menyadari bahwa sikap meremehkan lawan bisa membuat konsentrasi tim menurun. Karena itu, ia dan rekan-rekannya berusaha mempertahankan permainan terbaik hingga pertandingan berakhir.

“Jangan remehkan lawan. Kalau kita enggak meremehkan lawan, kita pasti tetap fight dengan memberikan yang terbaik. Enggak peduli siapa lawannya, kita harus tetap kasih yang terbaik,” katanya.

Basket Berawal dari Sang Ayah

Perjalanan Bima di dunia basket sebenarnya sudah dimulai sejak duduk di kelas VI SD. Sang ayah menjadi sosok yang pertama kali mengenalkannya dengan olahraga tersebut.

Ayah Bima diketahui pernah bermain basket ketika masih duduk di bangku SMA di Jombang. Kecintaannya terhadap basket kemudian turut ditularkan kepada sang anak.

Berbagai tayangan pertandingan basket sering diperlihatkan kepada Bima. Salah satu yang paling membekas adalah anime Slam Dunk.

Dari situlah ketertarikan Bima terhadap basket mulai tumbuh.

“Karena ayah saya juga kebetulan main basket. Dulu ayah sering kasih aku highlight-highlight basket, salah satunya dari Slam Dunk yang memang jadi favoritnya. Dari situ aku mulai terinspirasi,” cerita pemain bernomor punggung 17 tersebut.

Tak hanya mengenalkan basket melalui tayangan pertandingan, sang ayah juga membawa Bima melihat langsung atmosfer kompetisi DBL.

Pada 2019, ketika masih duduk di bangku SD, Bima diajak menyaksikan pertandingan DBL secara langsung. Ia memang sudah tidak terlalu mengingat detail pertandingan yang ditonton kala itu.

Namun, penampilan SMAN 2 Surabaya (Smada) masih melekat dalam ingatannya. Termasuk sosok Kevin Otniel yang ketika itu berhasil menarik perhatiannya.

“Match-nya Smada, tapi aku lupa lawan siapa. Seingatku cuma Smadanya aja. Yang paling diingat saat itu atmosfernya sih. Kebetulan pas itu yang lagi enak Kevin Otniel,” kenangnya.

Permainan Kevin membuat Bima semakin tertarik. Ia menyukai gaya bermain yang dinilainya efektif dan tidak terlalu memaksakan diri.

“Suka sama gaya mainnya sih. Dia enggak terlalu ngoyoh kalau main, tapi kalau bolanya di dia mesti jadi poin atau assist,” ujar Bima, yang juga mengidolakan LeBron James.

Bagi Bima, menonton DBL bersama sang ayah bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Ada pengalaman sang ayah sebagai pelajar yang membuat kompetisi tersebut terasa lebih dekat dengan keluarganya.

Sang ayah pun bisa bernostalgia sembari memperkenalkan atmosfer basket pelajar kepada Bima.

“Karena DBL itu lebih seru dan dekat sama pengalaman ayah waktu SMA dulu. Jadi mungkin ayah pengin nostalgia sambil ngajak aku nonton dan menikmati pertandingan basket bareng,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari perjalanan Bima sebagai pebasket. Ketika masih kecil, ia bahkan hanya memiliki satu keinginan sederhana: mengikuti jejak sang ayah.

“Waktu kecil aku cuma ingin jadi seperti ayah saya. Ingin mengikuti jejak ayah saya,” ucapnya.
Kini, keinginan tersebut perlahan terwujud. Bima sudah tampil di panggung Honda DBL bersama Sixteen.

Musim 2026 menjadi tahun ketiganya secara beruntun mengikuti kompetisi basket pelajar tersebut.

Tema DBL musim ini, Home of the Dreamers, juga memiliki arti tersendiri bagi Bima. Ia melihat DBL sebagai ruang bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengejar impian di dunia basket.

“Iya, benar-benar jadi rumah buat mimpi. Soalnya anak-anak yang ikut DBL pasti punya harapan untuk bisa bersinar. DBL ini, alhamdulillah, jadi tempat buat anak-anak termasuk saya menunjukkan kemampuan dan bersinar,” tutup pemain berusia 17 tahun tersebut.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 akan digelar di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.

Kompetisi ini juga menjadi bagian dari proses pencarian student-athlete terbaik dari setiap daerah untuk memperoleh kesempatan menuju DBL Indonesia All-Star melalui DBL Camp.

Selain kompetisi basket, musim ini turut menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan tema “100 persen Indonesia”.

Seluruh pertandingan dapat disaksikan melalui kanal YouTube DBL Play, sedangkan laga final juga tersedia di YouTube Good Day ID.

Baca juga: Nineteen Surabaya Bangun Chemistry Jelang DBL East Java-North 2026, dari Cangkruk hingga Memancing

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.