TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Nama usaha kuliner Piscok Selamat Pagi yang berlokasi di dekat Stasiun Pondok Cina (Pocin), Depok, mendadak jadi sorotan publik.
Usaha pisang cokelat milik Dwi Purwadi (31) ini ikut terseret dalam isu kasus pembunuhan dan mutilasi yang melibatkan tersangka bernama Saepul terhadap korbannya, Kunaefi (51).
Sorotan negatif tersebut muncul setelah pengakuan Saepul viral di media sosial.
Dalam pernyataannya, Saepul menyebut pernah bekerja di lapak Piscok Pocin.
Hal ini membuat sebagian masyarakat salah paham dan mengira bahwa pelaku merupakan pemilik dari usaha tersebut.
Dwi menegaskan bahwa Saepul bukanlah pemilik usaha, melainkan hanya mantan pekerja lepas (freelance) yang bergabung sejak akhir Mei 2026.
Saepul juga diketahui telah mengundurkan diri secara resmi pada 23 Juli 2026, beberapa saat sebelum aksi pembunuhan dan mutilasi itu terjadi.
Dampak dari salah kaprah informasi tersebut langsung dirasakan oleh usaha Dwi.
Tak ingin tinggal diam, Dwi bersama timnya bergerak cepat memberikan klarifikasi satu per satu melalui platform TikTok untuk meluruskan status Saepul.
Langkah ini juga mendapat dukungan dari sesama pelaku UMKM lokal serta para pelanggan setia yang mayoritas merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI).
Dukungan mengalir dalam bentuk pengunggahan narasi klarifikasi di media sosial hingga aksi borong produk oleh lingkaran UMKM setempat.
Usaha kolektif tersebut berhasil memulihkan penjualan Piscok Selamat Pagi hanya dalam waktu singkat.
Meski lapaknya kembali ramai diserbu pembeli pascaklarifikasi, Dwi menyadari ada pergeseran motivasi dari para pengunjung yang datang.
Sebagian besar pembeli hadir bukan hanya untuk menikmati piscok, melainkan didorong rasa penasaran dan ingin mengonfirmasi langsung isu yang beredar terkait Saepul.
Dwi menyikapi fenomena tersebut secara positif. Ia memanfaatkan momen tingginya rasa ingin tahu masyarakat sebagai kesempatan untuk meluruskan fakta secara langsung, sehingga nama baik usahanya dapat pulih sepenuhnya.
Sumber: kompas.com