Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Lampung pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,97 persen.
Baca Juga: DLH Lampung Sebut Sampah Organik-Anorganik Bisa Jadi Bahan Baku PSEL
Namun, di balik angka tersebut terdapat fenomena menarik.
Tingkat pengangguran justru paling tinggi ditemukan pada penduduk dengan pendidikan Diploma dan Universitas.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat TPT tamatan Diploma dan Universitas mencapai 7,92 persen pada Mei 2026.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan TPT penduduk dengan pendidikan SD ke bawah yang hanya 1,47 persen.
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan tidak otomatis membuat seseorang lebih mudah terserap ke pasar kerja.
"Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT paling tinggi ada pada tamatan Diploma dan Universitas yang mencapai 7,92 persen. Sebaliknya, TPT paling rendah justru berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 1,47 persen," ujar Ahmadriswan, dalam keterangannya.
Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja di Lampung pada Mei 2026 mencapai 5.153,54 ribu orang.
Jumlah tersebut meningkat 37,64 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.949,08 ribu orang berstatus bekerja, sedangkan 204,45 ribu orang tercatat sebagai pengangguran.
Jumlah pengangguran tersebut meningkat sekitar 2,13 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Kenaikan jumlah pengangguran tersebut turut membuat TPT Lampung naik tipis 0,02 persen poin dibandingkan Februari 2026.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung mendorong penguatan kerja sama dengan dunia usaha dan perusahaan untuk memperluas kesempatan kerja bagi lulusan perguruan tinggi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Lampung Marindo Kurniawan mengatakan, Pemprov Lampung terus berkomunikasi dengan dunia usaha agar dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
"Ya, tentunya Pemprov Lampung berkomunikasi dengan dunia usaha untuk membuka lapangan pekerjaan, kemudian juga dengan perusahaan-perusahaan untuk membuka lapangan pekerjaan agar lulusan universitas kita bisa mendapatkan pekerjaan," kata Marindo, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, penyerapan lulusan perguruan tinggi tidak hanya dapat mengandalkan sektor formal. Sektor informal juga dinilai memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja.
"Tapi jangan lupa juga bahwa hari ini pekerjaan di sektor informal juga cukup banyak, dan ini kita dorong dalam rangka memastikan lulusan dari universitas kita bisa memperoleh pekerjaan," ujarnya.
Sementara ketika ditanya apakah peluang pembukaan kembali seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi salah satu opsi untuk mengurangi pengangguran lulusan perguruan tinggi, Marindo menyebut hal tersebut masih dalam bahasan.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)