Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Hal itu disebabkan karena aktivitas El Nino dengan kategori kuat.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, menerangkan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur mengindikasikan Monsun Australia aktif.
Ia menyebut indeks El Nino Southern Oscillatio (ENSO) dalam kondisi sangat kuat.
“Aktivitas El Nino kategori kuat berpeluang terjadi pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2026, yang dampaknya dapat mengurangi curah hujan dan menambah durasi periode musim kemarau di wilayah DIY,” katanya, Senin (10/8/2026).
Kondisi saat ini berpotensi menimbulkan kekeringan.
Pihaknya pun telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian II Agustus 2026, dimana keseluruhan wilayah DIY dalam kategori awas.
Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi bencana kekeringan meteorologis, seperti kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
“Masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mengantisipasi kondisi tersebut melalui pengelolaan sumber daya air secara efisien dan penyesuaian kegiatan sesuai kondisi wilayah,” ujarnya.
Baca juga: Terdampak Kekeringan, Warga Pancuran Bantul Kini Andalkan Droping Air Bersih
Terpisah, Dosen Departemen Geografi Lingkungan UGM, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., mendorong pemerintah untuk mengubah pendekatan yang lebih komprehensif.
Antisipasi kekeringan berbasis informasi iklim, serta menyesuaikan kalender dan pola tanam, memilih komoditas atau varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan, mengatur distribusi air irigasi, serta menyediakan cadangan air bagi masyarakat dan sektor pertanian.
“Pada saat kondisi kekeringan yang sangat panjang, maka yang perlu dilakukan adalah mengubah pendekatan dari respons setelah terjadi kekeringan menjadi antisipasi berbasis informasi iklim,” terangnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur penyimpanan air, seperti waduk, kolam retensi, dan sistem pemanenan air hujan. Upaya tersebut perlu disertai dengan perlindungan daerah tangkapan air dalam jangka panjang.
Ia menambahkan pemerintah juga perlu melakukan pemetaan risiko berbasis wilayah agar kebijakan dan intervensi dapat disesuaikan dengan karakteristik serta tingkat kerentanan masing-masing daerah.
“Menghadapi El Nino bukan hanya bagaimana kita menghadapi kekeringan ketika sudah terjadi, tetapi bagaimana kita menggunakan informasi iklim untuk bertindak lebih awal,” imbuhnya. (*)