Aset Bukan Beban, Stadion Utama Harus Hidup Lagi
M Iqbal August 10, 2026 08:17 PM

Oleh: RHR Dodi Sarjana, Positive Communication

TRIBUNPEKANBARU.COM - Selama 13 tahun Stadion Utama Riau berdiri megah di Jalan Naga Sakti. Tapi kemegahan itu kosong, lengang, diam membisu. Sejak PON 2012 usai, ia lebih sering sepi daripada ramai. 

Kita membangun stadion Rp1,12 triliun bukan untuk dijadikan museum bangkai. Ketika sebuah aset sebesar ini dibiarkan mati, yang terluka bukan hanya APBD. Tapi juga harga diri Riau sebagai tuan rumah PON yang dulu kita banggakan.

Padahal, "Ini aset yang tak ternilai harganya." Kalimat itu pernah diucapkan Gubernur Rusli Zainal saat meresmikan Stadion Utama Riau. Stadion ini adalah mimpi besar Riau untuk sejajar dengan daerah lain.

Kini, mimpi itu terancam padam. Jika kita diam, maka kita bukan hanya kehilangan stadion. Kita kehilangan jejak sejarah, kehilangan bukti bahwa Riau pernah berani bermimpi besar. Warisan itu tidak boleh mati di tangan kita.

Menyedihkan memang, selama ini Stadion Utama Riau di Jalan Naga Sakti seolah hanya jadi penonton. Megah di luar, sepi di dalam.

Terhitung hanya dua kali stadion ini dipakai untuk hajatan besar: saat timnas Indonesia melawan Singapura, dan saat upacara pembukaan PON. Selebihnya ia dibiarkan. Kabel dicopot orang, tiang listrik hilang, jalan retak, rumput liar berebut bermunculan.

Ini bukan stadion biasa lo. Dibangun di era Gubernur Rusli Zainal, seperti sering dikatakan banyak orang, ini adalah aset yang tak ternilai harganya. Kualitasnya disebut-sebut setara Gelora Bung Karno. Sayang sekali jika kemegahan itu hanya kita kenang lewat foto-foto PON 13 tahun lalu.

Bertepatan dengan momentum ulangtahun Provinsi Riau, kini angin segar datang. Pemprov Riau mulai bergerak. 
Saat berkunjung ke kediaman Rusli Zainal,  Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Syahrial Abdi, beserta rombongan kepala perangkat daerah, menegaskan kembali tekad itu.

Dalam pertemuan Jumat (7/8/2026), Syahrial Abdi datang untuk menyerahkan undangan peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau dari Gubernur. Rusli Zainal menyambut gembira rencana menghidupkan kembali stadion.

Sebelumnya, jajaran pemprov bersama Komisi V DPR RI, telah meninjau langsung ke lokasi stadion. Bukan untuk seremoni. Tapi untuk menyusun rencana besar: menghidupkan kembali stadion dan menjadikannya pusat pertumbuhan baru di ibu kota provinsi.

Jelas, keputusan itu harus kita dukung. Karena menghidupkan stadion berarti menghidupkan banyak hal sekaligus.

Bayangkan jika stadion ini benar-benar berfungsi. Ia tidak akan lagi jadi beban APBD yang tiap tahun menghabiskan Rp4 miliar hanya untuk listrik dan perawatan. Ia bisa berbalik menjadi sumber pendapatan. Lewat retribusi event, sewa lapangan, konser musik, hingga kawasan bisnis di sekitarnya. 

Sudah saatnya olahraga harus masuk ke dunia industri agar memberi nilai nyata bagi pembangunan daerah. Stadion harus hidup, bukan sekadar dipakai.

Stadion juga harus jadi rumah bagi atlet. Saat ini pembinaan 64 cabang olahraga di Riau masih tercerai-berai. Kantor KONI masih di Jalan Gajah Mada. Pelatih dan atlet berpindah-pindah. Rencana memusatkan semua aktivitas ke basement Stadion Utama adalah langkah yang sudah lama ditunggu. Dengan satu atap, pembinaan akan lebih terarah, anggaran lebih efisien, dan semangat kebersamaan akan tumbuh. Stadion bukan lagi tempat bertanding sesaat, tapi tempat melahirkan juara.

Lebih dari itu, stadion ini bisa menjadi ruang publik baru. Plt Gubernur SF Hariyanto punya gagasan bagus: menghijaukan kawasan dengan 1.000 pohon agar menjadi paru-paru kota. Pagar sekeliling, satpam berjaga, area steril. 

Jika dibuka untuk jogging pagi, senam sore, dan kegiatan masyarakat, maka stadion akan benar-benar milik rakyat. Ia akan menjadi ikon Pekanbaru, kebanggaan baru Riau, persis seperti yang kita harapkan sejak awal.

Keuntungan ekonominya juga nyata. Lokasi stadion sangat strategis. Di sekelilingnya kini tumbuh RS Jantung dan Otak. Jika kawasan ini ditata menjadi kawasan bisnis dan wisata olahraga, maka hotel, UMKM, ojek, dan pedagang kecil di sekitar Jalan Naga Sakti akan ikut merasakan dampaknya. Stadion yang hidup akan menghidupkan ekonomi rakyat.

Tentu saja ini bukan pekerjaan mudah. Aset seluas 61 hektare ini sebagian masih tercatat milik UNRI. Status hukumnya harus segera dibereskan. Pengelolaannya juga tidak bisa dengan cara lama. Jika hanya mengandalkan APBD, maka stadion akan kembali mati. Harus ada pola kerjasama, sewa, atau BUMD yang mengelola secara profesional. 

Anggota DPRD Riau sudah mengingatkan: jangan sampai ini jadi beban baru. Penertiban PKL dan pengamanan juga harus dibarengi dengan kegiatan yang ramai. Kawasan yang hidup akan dengan sendirinya aman.

Di titik inilah kita diuji. Apakah kita mau terus menyimpan stadion sebagai monumen, atau kita berani menjadikannya mesin penggerak.

Stadion Utama Riau adalah warisan. Warisan dari sebuah masa ketika Riau berani bermimpi besar lewat PON. Membiarkannya mati sama artinya mengingkari mimpi itu. Menghidupkannya kembali adalah cara kita menghormati sejarah dan menyiapkan masa depan.

Sudah saatnya Stadion Utama Riau berlari lagi. Mencetak gol lagi. Dan menghidupkan kembali kebanggaan Riau. 

Selamat ulangtahun Riau. *

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.