Harga Telur Anjlok, Pakan Tembus Rp8.000: 350 Peternak Magelang Bagikan 2.000 Ayam Afkir ke Warga
Joko Widiyarso August 10, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Hampir 2.000 ekor ayam afkir dibagikan gratis kepada masyarakat di Alun-Alun Kota Magelang, Senin (10/8/2026).

Aksi tersebut bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan simbol keresahan sekitar 350 peternak ayam petelur se-Magelang Raya yang tengah menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya biaya pakan dan merosotnya harga telur.

Ayam-ayam tersebut merupakan ayam petelur yang sudah tidak produktif dan selama ini tetap membutuhkan biaya pakan. Bagi peternak, mempertahankan ayam afkir justru menambah beban ketika harga telur di tingkat peternak belum mampu menutup biaya produksi.

Aksi tersebut digelar bersamaan dengan penyampaian aspirasi peternak kepada pemerintah terkait kondisi industri peternakan rakyat yang dinilai semakin tertekan.

Koordinator Aksi Peternak, Arif Sosiawan, mengatakan persoalan utama yang saat ini dihadapi peternak adalah ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual telur.

"Peternak saat ini berada dalam kondisi yang cukup sulit. Harga pakan naik cukup tajam, sementara harga telur di tingkat peternak justru turun," ujar Arif.

Menurutnya, harga pakan jadi yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.200 per kilogram kini melonjak menjadi Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram, tergantung pabrikan dan spesifikasi pakan.

"Harga pakan jadi naik dari kisaran Rp6.200 per kilogram menjadi Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram," katanya.

Kenaikan tersebut menjadi persoalan serius karena pakan merupakan komponen terbesar dalam struktur biaya produksi peternakan ayam petelur.

"Komponen pakan bisa mencapai 80 persen dari total biaya produksi. Sisanya sekitar 20 persen untuk operasional, tenaga kerja, sarana dan prasarana," jelasnya.

Arif menjelaskan kenaikan harga pakan tidak terlepas dari harga bahan baku yang masih dipengaruhi komoditas impor, salah satunya Soybean Meal (SBM) atau bungkil kedelai.

Menurut dia, bahan baku tersebut didatangkan dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Argentina, Brasil, dan India.

"Kenaikan harga pakan terutama dipicu oleh ketergantungan pada bahan baku impor seperti Soybean Meal atau bungkil kacang kedelai," beber Arif.

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut berpengaruh terhadap harga bahan baku tersebut.

"Penguatan mata uang dolar AS terhadap rupiah secara langsung ikut mengerek harga bahan baku. Dampaknya kemudian dirasakan peternak melalui kenaikan harga pakan," katanya.

HPP telur di atas harga jual 

Di saat biaya produksi meningkat, harga telur justru mengalami tekanan akibat pasokan yang dinilai berlebih di pasar serta melemahnya daya beli masyarakat.

Kondisi tersebut membuat Harga Pokok Produksi (HPP) telur berada di atas harga jual di tingkat peternak.

"Peternak harus menanggung kerugian atau 'subsidi mandiri' sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram telur setiap hari," ungkapnya.

Bagi peternak dengan produksi sekitar satu ton telur per hari, selisih tersebut berarti kerugian yang tidak kecil.

Kondisi inilah yang membuat ayam afkir akhirnya menjadi bagian dari aksi sosial peternak. Daripada terus mengeluarkan biaya untuk memberi makan ayam yang sudah tidak produktif, peternak memilih membagikannya kepada masyarakat.

Arif mengatakan pembagian ayam afkir dilakukan berdasarkan skala populasi ternak masing-masing peternak.

"Skemanya, peternak menyumbang minimal satu ekor ayam untuk setiap 1.000 ekor populasi yang dimiliki," jelasnya.

Dengan skema tersebut, terkumpul hampir 2.000 ekor ayam afkir yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.

"Ini bagian dari aksi sosial kami, tetapi sekaligus untuk mengurangi beban peternak. Ayam yang sudah tidak produktif tetap membutuhkan pakan setiap hari," katanya.

Bagi peternak, kondisi tersebut menggambarkan betapa beratnya tekanan yang sedang dihadapi industri peternakan rakyat.

Serapan telur MBG 

Peternak juga menyoroti penyerapan telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Arif menyebut sebelumnya telah terdapat kesepakatan harga acuan antara asosiasi peternak dan Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar Rp26.500 per kilogram.

Namun, menurutnya, pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan peternak.

"Sebagian pengelola dapur MBG masih memilih membeli telur di pasar dengan harga lebih murah, sekitar Rp22.000 per kilogram, demi mengejar marjin keuntungan yang lebih besar," ujarnya.

Kondisi tersebut, menurut Arif, membuat peluang MBG untuk menjadi salah satu pasar yang menyerap produksi telur peternak belum maksimal.

"Kami berharap ada transparansi dan komitmen agar penyerapan telur peternak berjalan konsisten tanpa merugikan salah satu pihak," tambahnya.

Ia berharap program MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi bagi masyarakat, tetapi juga mampu menciptakan kepastian pasar bagi peternak lokal.

Aksi ratusan peternak tersebut mendapat respons dari Pemerintah Kota Magelang.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Magelang, Yonas Nusantrawan Bolla, mengatakan pemerintah akan menampung dan meneruskan aspirasi peternak kepada pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.

"Sebagai perpanjangan tangan pemerintah provinsi dan pusat, Pemkot Magelang sesuai arahan Penjabat Wali Kota akan meneruskan tuntutan para peternak ke tingkat yang lebih tinggi," ujar Yonas.

Menurutnya, aspirasi peternak perlu menjadi perhatian karena menyangkut keberlangsungan usaha masyarakat sekaligus stabilitas komoditas pangan.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.