Ini Sikap Iran Respon Lahirnya Pakta Mekkah, Pilih Hati-hati & Sorot Perubahan Peta Keamanan Kawasan
Saifullah August 11, 2026 12:03 AM

 

Iran merespons hati-hati lahirnya Pakta Mekkah antara Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan yang mewajibkan anggota saling membantu jika diserang pihak luar.

SERAMBINEWS.COM TEHERAN – Iran merespons dengan hati-hati terbentuknya kerja sama pertahanan trilateral antara Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan yang dituangkan dalam apa yang disebut sebagai “Pakta Mekkah”.

Teheran sejauh ini tidak menunjukkan sikap konfrontatif terhadap kesepakatan tersebut, meski sejumlah pihak di Iran mulai memperingatkan potensi dampaknya terhadap keseimbangan keamanan di kawasan.

Pakta tersebut ditandatangani di Mekkah, Arab Saudi, Jumat (7/8/2026), oleh para pemimpin tiga negara.

Salah satu poin penting dalam kesepakatan itu menyatakan bahwa serangan bersenjata dari pihak luar terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiga negara.

Kesepakatan ini muncul ketika kawasan Asia Barat masih berada dalam situasi keamanan yang sangat dinamis.

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut memengaruhi stabilitas kawasan, termasuk jalur perdagangan strategis di sekitar Selat Hormuz.

Baca juga: Mirip NATO, Arab Saudi, Turki, Pakistan Teken Pakta Pertahanan, 1 Diserang Berarti Menyerang Semua

Meski demikian, Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan, menegaskan bahwa pakta tersebut tidak dibentuk untuk menghadapi negara tertentu, termasuk Iran.

Sikap Teheran terhadap kesepakatan itu sejauh ini cenderung menekankan pentingnya persatuan negara-negara Muslim dan peningkatan kemandirian kawasan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iranm Abbas Araghchi tidak secara langsung menyebut Pakta Mekkah ketika menyampaikan tanggapannya.

Namun, ia menyerukan agar negara-negara Muslim memperkuat solidaritas dan tidak bergantung pada kekuatan eksternal.

Menurut Araghchi, persatuan antarnegara Muslim menjadi salah satu kunci menghadapi berbagai tekanan dari luar kawasan.

Sementara itu, sejumlah pejabat Iran melihat terbentuknya kerja sama pertahanan tersebut dari sudut pandang yang lebih luas.

Mereka menilai perkembangan ini justru dapat menjadi tanda berkurangnya dominasi Amerika Serikat dalam arsitektur keamanan Asia Barat dan Teluk Persia.

Direktur Jenderal Urusan Parlemen dan Hukum Kementerian Luar Negeri Iran, Hossein Noushabadi, bahkan menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari munculnya pola keamanan baru yang lebih mengandalkan kerja sama negara-negara di kawasan.

Baca juga: 3 Negara Muslim Bentuk Pakta Pertahanan: Iran Soroti Runtuhnya Hegemoni Keamanan AS

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sama dengan sikap kalangan politik Iran. Sejumlah anggota parlemen, khususnya dari kelompok garis keras, mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan potensi ancaman yang dapat muncul dari kerja sama baru tersebut.

Peneliti Institut Clingendael, Hamidreza Azizi menilai, pakta pertahanan itu berpotensi menjadi perhatian serius bagi Teheran dalam jangka panjang.

Terlebih, kesepakatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan serangkaian serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap sejumlah kepentingan strategis Arab Saudi.

Menurut Azizi, kerja sama Riyadh, Ankara, dan Islamabad, berpotensi memperkuat kemampuan Arab Saudi dalam menghadapi ancaman keamanan.

Dalam perkembangan tertentu, koordinasi ketiga negara juga dapat memberikan tekanan terhadap jaringan yang memiliki hubungan dengan Iran di sejumlah kawasan, termasuk Yaman dan Irak.

Kekhawatiran serupa disampaikan anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi.

Ia mengakui negara-negara Arab semakin menyadari pentingnya membangun keamanan secara mandiri di kawasan.

Namun, ia memperingatkan agar tidak terjadi kesalahan perhitungan strategis yang justru memicu konflik baru.

Baca juga:  Pakta Saudi-Pakistan-Turki Disepakati, Iran Mulai Waspadai Arah Baru Keamanan Timur Tengah

Sementara anggota parlemen lainnya, Ebrahim Rezaei menilai, perjanjian pertahanan dengan Turkiye dan Pakistan belum tentu mampu memberikan jaminan keamanan jangka panjang kepada Arab Saudi.

Di sisi lain, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, Sanam Vakil melihat, Pakta Mekkah sebagai bentuk diplomasi pragmatis yang dilakukan Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan.

Menurutnya, keputusan tersebut tidak dapat dilepaskan dari ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat, perkembangan manuver Israel, serta kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik dengan Iran.

Dengan demikian, respons Iran terhadap Pakta Mekkah memperlihatkan dua kecenderungan. Pemerintah Teheran berusaha menonjolkan persatuan dan kemandirian negara-negara kawasan.

Sementara sebagian kalangan politik Iran tetap mewaspadai kemungkinan pakta tersebut berkembang menjadi instrumen tekanan terhadap kepentingan Iran.

Terbentuknya pakta itu pun menambah warna baru dalam dinamika geopolitik Asia Barat.

Jika kerja sama pertahanan ketiga negara terus diperluas, kesepakatan tersebut berpotensi memengaruhi konfigurasi kekuatan dan hubungan antarnegara di kawasan dalam beberapa tahun mendatang.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.