Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung — Berdiri tegak di tepi kolam renang Universitas Lampung, dua perenang muda tampak bersiap sebelum akhirnya membelah ketenangan air dengan sapuan gaya bebas yang begitu tangkas.
Baca juga: Lampung Borong 12 Medali Kejuaraan Sambo Gubernur Sumatera Selatan Cup 2026
Bagi Muhammad Fadhil Arjuna Ficardo dan Muhammad Dzulfiqar Al Mahdi P, arena lintasan air bukan sekadar tempat mengolah fisik, melainkan ruang pembuktian disiplin serta perjuangan sejak belia.
Dua siswa SMP Global Madani Bandar Lampung tersebut telah menempuh perjalanan panjang berdarah-darah di arena olahraga renang sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.
Arjuna Ficardo, yang akrab disapa Juna, menceritakan awal mulanya berkecimpung di lintasan renang sejak kelas 2 SD akibat dorongan sang ibu yang menginginkan postur tubuhnya tumbuh ideal.
Meski sempat enggan dan malas karena tempaan fisik yang menguras energi, Juna perlahan menemukan kehangatan serta kegembiraan setelah bergabung dengan klub dan memiliki kawan berlatih.
Keberanian Juna diuji saat pertama kali bertanding di kelas 3 SD, di mana ia harus berhadapan dengan lawan-lawan tanding yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih bongsor.
Pengalaman bertanding dengan tubuh paling kecil tersebut tidak membuat mentalnya ciut, melainkan menjadi pemicu utama untuk menempa disiplin latihan sejak dini hari.
Kerja keras perenang kelas 1 SMP itu akhirnya terbayar tuntas dengan memborong medali emas, perak, dan perunggu pada ajang Piala Kemenpora RI 2026 Lampung Fast Swim di Kolam Renang Pahoman.
"Awalnya mama yang menyuruh renang supaya saya tinggi. Sekarang latihan fisiknya padat, tapi saya masih merasa kurang speed dan harus terus belajar," tutur Juna, Senin (10/8/2026).
Kisah ketangguhan lain diukir oleh Muhammad Dzulfiqar Al Mahdi P, siswa kelas 3 SMP yang memilih menekuni renang murni atas dorongan semangat dari dalam dirinya sendiri sejak kelas 1 SD.
Perjalanan Dzulfiqar tidak selalu mulus, terutama saat badai pandemi Covid-19 sempat menghentikan ritme latihannya hingga ia harus merangkak membangun kembali kondisi fisiknya dari nol.
Rintangan lain seperti kejang otot akibat suhu air kolam indoor yang terlampau dingin justru makin memperkuat daya tahan fisik serta mental bertandingnya di lapangan.
Di tengah kesibukan melakoni porsi latihan fisik ketat mulai dari lari hingga skipping, Dzulfiqar tetap menjaga fokus pendidikannya untuk mengejar cita-cita sebagai seorang dokter.
1. LSO 2026
- medali emas 50m gaya punggung, kupu kupu, bebas, dada
2. KRAPSI BABINSA 21 Cup
- medali emas 75m gaya kupu kupu
- medali perak 75m gaya bebas, gaya ganti, gaya kupu kupu
3. Piala gubernur 2026
- medali emas 50m gaya pinggang
- medali perunggu 200m gaya bebas
- medali perunggu 50m gaya bebas
- medali perunggu 50m gaya dada
4. O2SN cabang renang juara 3
5. LSO 2025
- medali emas 50m gaya dada
- medali emas 25m gaya bebas
Kisah Juna dan Dzulfiqar menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu dimulai dari ambisi untuk menjadi juara. Ada yang berawal dari ajakan orang tua, ada pula yang muncul dari rasa penasaran dan kecintaan terhadap olahraga.
(Tribunlampung.co.id/Bintang Puji Anggraini)