405 Siswa SRT 1 Gresik Ikuti Simulasi Gempa dan Kebakaran
Ndaru Wijayanto August 11, 2026 01:14 AM

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Sebanyak 405 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Gresik mengikuti simulasi menghadapi bencana gempa bumi dan kebakaran, Senin (10/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan Sekolah Rakyat.

Ratusan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 225 siswa SMA. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan bersama para guru dan wali asrama.

Kegiatan semakin menarik dengan kehadiran Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena) milik BPBD Jatim.

Para siswa dan guru mendapatkan berbagai materi mengenai potensi bencana di Jawa Timur.

Tak hanya mendapatkan materi secara teori, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai pertolongan pertama gawat darurat (PPGD).

Mereka kemudian diajak mempraktikkan secara langsung langkah-langkah evakuasi ketika terjadi gempa bumi serta simulasi pemadaman api saat terjadi kebakaran.

Wakil Kepala Sekolah SRT 1 Gresik, Lily Sajidah Bestari, mengapresiasi kolaborasi BPBD Jatim, Dinsos Jatim, dan Baperpusip Jatim dalam memberikan edukasi kepada para siswa dan guru.

Menurut Lily, kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

“Dengan simulasi yang diajarkan kepada siswa dan para guru tadi, insya Allah akan menjadi pembelajaran yang baik bagi kesiapsiagaan bencana di sekolah ini,” ujarnya.

Ia menilai, pembelajaran mengenai kebencanaan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori.

Dengan adanya simulasi, siswa dapat mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat.

“Karena di sekolah ini ada siswa, guru, dan juga wali asrama, kami berharap semuanya bisa memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Jadi bukan hanya anak-anak yang tahu, tetapi seluruh warga sekolah juga memiliki kesiapsiagaan,” katanya.

Lily menambahkan, edukasi tersebut juga relevan dengan kondisi lingkungan SRT 1 Gresik yang memiliki potensi bencana, termasuk gempa bumi dan kebakaran.

“Harapannya, setelah mendapatkan edukasi dan simulasi dari BPBD Jatim, anak-anak tidak panik ketika menghadapi bencana. Mereka tahu bagaimana menyelamatkan diri dan bagaimana membantu orang di sekitarnya sesuai dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim Deni Kiki Melia Tamara mengatakan, edukasi kebencanaan di SRT 1 Gresik merupakan kegiatan kedua yang dilakukan BPBD Jatim di lingkungan Sekolah Rakyat.

Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar di SRT Kota Pasuruan pada awal Agustus 2026.

Kiki menjelaskan, edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah yang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang dalam aktivitas sehari-hari.

“Dengan berbagai materi yang telah diberikan, mulai dari PPGD hingga simulasi evakuasi gempa bumi dan pemadaman api, kami berharap segenap siswa maupun guru di sekolah rakyat ini bisa semakin paham akan potensi bencana, sehingga mampu mengurangi risiko bencana yang ada,” ujarnya.

Menurut Kiki, pemahaman mengenai kebencanaan harus dibangun melalui proses edukasi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga disertai praktik.

Karena itu, siswa diajak langsung melakukan simulasi agar mereka memiliki gambaran mengenai tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.

“Jadi anak-anak tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga kami ajak untuk mempraktikkan. Harapannya, ketika terjadi kondisi sebenarnya, mereka sudah memiliki pengetahuan dasar dan tidak mudah panik,” katanya.

Kiki menambahkan, keterlibatan guru dan wali asrama dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kesiapsiagaan di lingkungan Sekolah Rakyat.

Menurutnya, guru dan pengelola asrama memiliki peran dalam mendampingi siswa sehingga pemahaman mengenai evakuasi dan penanganan awal bencana dapat terus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

“Guru dan wali asrama juga kami libatkan karena mereka yang sehari-hari bersama para siswa. Jadi edukasi ini diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi bisa terus diingat dan diterapkan ketika menghadapi situasi darurat,” ujarnya.

Kiki mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melalui Kalaksa BPBD Jatim mengenai pentingnya edukasi kebencanaan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Ini merupakan bagian dari upaya kami untuk memperluas edukasi kebencanaan. Sekolah menjadi salah satu lingkungan yang penting karena di sana banyak anak-anak yang harus dibekali pemahaman tentang bagaimana menghadapi bencana,” katanya.

Menurut Kiki, edukasi kebencanaan tersebut nantinya dilakukan secara bertahap di 18 Sekolah Rakyat yang menjadi sasaran di Jawa Timur.

“Untuk Sekolah Rakyat, kegiatan ini akan kami lakukan secara bertahap. Harapannya, seluruh Sekolah Rakyat yang menjadi sasaran bisa mendapatkan edukasi kebencanaan, sehingga anak-anak, guru, maupun wali asrama memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan yang sama,” ujarnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.