Laporan : Hanggara Pratama
SURYA.CO.ID, SAMPANG - Langkah kreatif dan berdampak besar ditunjukkan akademisi Madura dalam memanfaatkan potensi bahan pangan lokal menjadi camilan sehat nan lezat yang ampuh menekan angka stunting pada balita di Sampang.
Inovasi berharga ini hadir membawa angin segar bagi pencegahan masalah gizi anak sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Pemanfaatan produk pertanian lokal itu kini menjelma menjadi sajian yang sangat digemari oleh anak-anak dan para ibu.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa solusi masalah gizi buruk dapat dimulai dari optimalisasi bahan pangan yang ada di sekitar masyarakat.
Baca juga: Inovasi Salam-Q Genting Pemkab Lamongan, Cara Baru Donasi untuk Anak Berisiko Stunting
Sejumlah dosen Politeknik Negeri Madura (Poltera) Kabupaten Sampang mengembangkan inovasi pangan berbahan dasar singkong lokal menjadi cookies kaya gizi, Senin (10/8/2026).
Inovasi itu menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui kegiatan penyuluhan kesehatan dan promosi produk.
Program bertajuk Inovasi COFIBRO (Cookies Cassava Kaya Fiber dan Tinggi Protein) itu mengusung tema “Inovasi Cookies Singkong Kaya Gizi untuk Ketahanan Pangan dan Generasi Bebas Stunting.”
Ketua Tim, Cantika Iva Nugrahani, mengatakan program itu mendapat pendanaan hibah BIMA tahun 2026.
Pengembangan COFIBRO dilakukan dengan memanfaatkan singkong yang mudah ditemukan di Kabupaten Sampang sebagai bahan baku utama.
“Bahan baku utamanya kami mengambil singkong yang merupakan produk lokal dari Kabupaten Sampang. Kemudian kami olah dan kami tingkatkan nilai tambahnya agar memiliki nilai jual yang lebih baik,” kata Cantika.
Singkong itu tidak hanya diolah menjadi makanan biasa, tetapi terlebih dahulu diproses menjadi tepung yang kemudian digunakan sebagai bahan utama pembuatan cookies.
Produk COFIBRO saat ini dikembangkan dalam dua varian rasa, yakni keju dan cokelat.
Keduanya juga telah melalui pengujian laboratorium untuk mengetahui kandungan gizinya.
“Hasil uji menunjukkan kandungan serat dan gizinya lebih tinggi dibandingkan dengan tepung terigu yg biasa digunakan," terangnya.
Menurutnya, inovasi itu diharapkan tidak hanya menjadi alternatif camilan sehat bagi anak-anak, tetapi juga dapat mendukung upaya pencegahan stunting sekaligus memperkuat pemanfaatan pangan lokal.
Terlebih, bahan baku singkong relatif mudah diperoleh sehingga produk itu dinilai berpotensi dikembangkan dan diduplikasi oleh masyarakat.
Baca juga: Rapor Gemilang Surabaya, Dari Stunting 0,59 Persen hingga Ekonomi Tumbuh 5,87 Persen
"Dalam pelaksanaan program, kami bermitra dengan UMKM Indah Cake Sampang, dan melaksanakan promosi produk inovasi di Posyandu Garuda. Kegiatan tidak hanya diisi dengan promosi COFIBRO, tetapi juga penyuluhan kesehatan mengenai kebutuhan gizi balita, khususnya pada masa golden age," jelasnya.
Sebanyak 55 balita dan ibu balita menjadi sasaran kegiatan itu.
Para peserta diberikan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Kami memberikan penyuluhan kesehatan berkaitan dengan gizi yang dibutuhkan balita, khususnya pada golden age periode, sehingga kebutuhan gizinya dapat terpenuhi dan mereka mendapatkan camilan sehat yang membantu proses tumbuh kembang optimal,” ungkap Cantika.
Kegiatan di Posyandu Garuda ini menjadi tahap awal dari pengembangan dan pengenalan produk COFIBRO kepada masyarakat.
Ke depan, produk itu berpeluang diperkenalkan lebih luas apabila mendapat respons positif dari masyarakat.
Bahkan, sebelum dilakukan promosi secara luas, sejumlah warga sekitar disebut telah menunjukkan ketertarikan terhadap produk cookies itu.
"Proses produksi COFIBRO juga melibatkan mitra usaha Indah Cake. Produk itu bahkan sempat mendapat permintaan dalam jumlah besar untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun pesanan itu belum dapat dipenuhi karena jumlah yang diminta cukup besar," tuturnya.
Melalui COFIBRO, tim Poltera berharap singkong sebagai komoditas lokal Sampang tidak hanya dikonsumsi sebagai bahan pangan sehari-hari, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memiliki manfaat bagi pemenuhan gizi anak.
"Inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah kecil dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal sekaligus mendukung upaya menciptakan generasi bebas stunting," pungkasnya.
Untuk diketahui, Program pengabdian itu melibatkan delapan orang dalam satu tim, terdiri dari tiga dosen dan lima mahasiswa.
Selain Cantika yang memiliki latar belakang bidang kebidanan, tim itu juga melibatkan dosen dari bidang ilmu keperawatan, ilmu gizi, serta bidang terkait lainnya.