Dokter Ungkap Syarat Donor hingga Tantangan Transplantasi Ginjal di Indonesia
Willem Jonata August 11, 2026 12:33 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bagi pasien dengan gagal ginjal kronik, transplantasi ginjal menjadi salah satu harapan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Berbeda dengan terapi cuci darah yang harus dilakukan  rutin dalam jangka panjang, transplantasi ginjal memungkinkan pasien memiliki kesempatan untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih optimal.

Namun, transplantasi ginjal bukan sekadar mengganti organ yang mengalami kerusakan. Prosedur ini membutuhkan rangkaian  panjang, mulai dari seleksi donor, pemeriksaan kesehatan, kecocokan antara donor dan penerima, tindakan operasi, hingga pemantauan setelah transplantasi.

Dokter Spesialis Urologi Konsultan Urologi Transplantasi sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), mengatakan keberhasilan transplantasi ginjal dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi pasien, kesehatan donor, hingga tingkat kecocokan organ.

Baca juga: Batu Ginjal Bisa Menyerang Kedua Ginjal Sekaligus, Dokter Urologi Jelaskan Faktanya

“Transplantasi bukan hanya tindakan operasi. Ada proses diagnosis, persiapan donor dan penerima, pemeriksaan kecocokan, operasi, sampai perawatan setelah transplantasi,” ujar dokter Siloam Hospital Asri ini dalam kegiatan di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Prof Nur menjelaskan, calon pendonor ginjal hidup harus melalui pemeriksaan medis yang ketat. Hal ini dilakukan untuk memastikan donor tetap aman setelah mendonorkan satu ginjal dan organ yang diberikan dapat berfungsi baik pada penerima.

Pemeriksaan mencakup fungsi ginjal, kondisi jantung, tekanan darah, hingga pemeriksaan kecocokan seperti golongan darah dan HLA typing.

HLA typing (Human Leukocyte Antigen typing) merupakan pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kecocokan jaringan antara donor dan penerima transplantasi. Pemeriksaan ini membantu dokter memperkirakan risiko penolakan organ oleh sistem imun penerima.

“Kecocokan menjadi salah satu faktor penting karena berpengaruh terhadap keberhasilan transplantasi dalam jangka panjang,” kata Prof Nur.

Saat ini, transplantasi ginjal tidak hanya dilakukan antara keluarga dekat. Dengan perkembangan teknologi medis dan obat imunosupresan, transplantasi juga dapat dilakukan antara pasangan suami istri atau pasien dengan perbedaan golongan darah melalui persiapan khusus.
Banyak masyarakat masih khawatir bahwa mendonorkan satu ginjal dapat mengganggu kesehatan. Namun, Prof Nur menjelaskan bahwa donor yang telah memenuhi kriteria medis tetap dapat menjalani kehidupan normal.

Menurutnya, pendonor justru harus lebih disiplin menjaga kesehatan setelah menjalani transplantasi.

“Yang menjadi donor harus menjaga tekanan darah, pola makan, sampai kontrol rutin,” ujarnya.

Dengan pemantauan kesehatan yang baik, seseorang dengan satu ginjal tetap dapat menjalani aktivitas seperti biasa.

Perkembangan teknologi juga turut membawa perubahan dalam dunia transplantasi ginjal. Salah satunya adalah penggunaan teknologi bedah robotik yang membantu dokter melakukan tindakan dengan tingkat ketelitian lebih tinggi.

Prof Nur menegaskan, robot bukan menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan akurasi selama operasi.

“Dokter tetap mengendalikan seluruh proses. Robot membantu mengurangi tremor, membuat gerakan lebih stabil, dan memberikan visualisasi yang lebih baik saat operasi,” jelasnya.

Tantangan transplantasi ginjal di Indonesia Meski terus berkembang, transplantasi ginjal di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan donor.

Saat ini, sebagian besar transplantasi ginjal masih berasal dari donor hidup. Sementara itu, pengembangan sistem donor jenazah (cadaveric donor) menjadi salah satu upaya yang terus dipersiapkan untuk memperluas akses pasien terhadap transplantasi.

“Masa depan layanan uro-nefrologi bukan hanya tentang operasi, tetapi bagaimana menghadirkan pelayanan yang terintegrasi mulai dari deteksi dini, pengobatan, teknologi, sampai pemantauan jangka panjang,” tuturnya.

Penguatan layanan uro-nefrologi dan transplantasi ginjal juga menjadi sorotan dalam The 6th Symposium on Urology, Nephrology, and Transplantation Services 2026.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, penelitian, kolaborasi multidisiplin, dan penerapan layanan berbasis bukti menjadi bagian penting dalam meningkatkan keselamatan pasien serta hasil perawatan.

Merujuk data Kementerian Kesehatan, Prevalensi gagal ginjal kronik (GGK) di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) adalah sekitar 0,18 persen hingga 0,22 persen dari total penduduk, atau setara dengan lebih dari 630.000 jiwa. 

(Tribunnews.com/ Rina Ayu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.