TRIBUNJOGJA.COM - Sore itu di Lapangan Kebon Agung, Bantul, sekelompok anak dan pemuda tampak sibuk menerbangkan layang-layang berbentuk naga berukuran raksasa.
Dari kejauhan, layangan yang panjangnya mencapai puluhan meter tersebut sudah terlihat jelas saat ditarik ke udara.
Namun, pemandangan memukau di udara itu ditebus dengan persiapan yang tak main-main.
Menerbangkan layangan naga menuntut biaya perakitan hingga jutaan rupiah dan pengerjaan yang memakan waktu lama, serta kerja keras tim di lapangan.
Fakta tersebut diungkapkan langsung oleh Mahta, selaku pendamping rombongan di lokasi.
Menurutnya, ada banyak hal tak terduga yang harus disiapkan tim dari nol, mulai dari urusan teknis hingga modal.
Layangan naga yang mereka bawa memiliki panjang sekitar 40 meter dan dirangkai dari 110 keping berbentuk bulat berukuran 40 sentimeter.
Biaya yang dibutuhkan untuk merakit satu unit layangan utuh juga tidak sedikit.
Untuk satu set layangan naga biasa, harganya berkisar di angka 1,4 juta rupiah.
Sementara, untuk layangan naga dengan motif khusus, harganya bisa mencapai empat juta rupiah.
Selain modal uang, waktu yang dihabiskan untuk merakit juga cukup lama.
Bagian yang paling memakan waktu pengerjaan adalah membuat kerangka bagian kepalanya.
"Kepalane tok niku meh hampir 1 bulan," tutur Mahta.
Hal menarik lainnya dari hobi mereka adalah kebiasaan mencari lapangan yang sesuai.
Rombongan ini aslinya berasal dari daerah Banguntapan, namun mereka sengaja datang jauh-jauh membawa banyak perlengkapan ke Lapangan Kebon Agung.
Alasannya sederhana, kekuatan angin di sekitar tempat tinggal mereka dirasa kurang besar untuk mengangkat beban seratus keping layangan ke udara secara maksimal.
Sementara itu, Arkan, yang bertugas sebagai penerbang layangan naga, menyebutkan rincian material layangan miliknya.
Baca juga: Sidang Korupsi Bupati Pati Nonaktif Sudewo, Kursi Sekdes Dipatok Rp225 Juta
Layangan yang ia kendalikan sore itu bahkan lebih panjang lagi, yakni mencapai total 125 keping.
“Kepalanya dari bambu sama kain. Kepingannya 1,1 (juta) yang kepala 100 (ribu)," kata Arkan.
Menariknya, jika pemain layangan biasa sangat mencari angin kencang, kelompok layangan naga ini justru harus berhati-hati.
Diperlukan tenaga empat hingga enam orang secara bersamaan hanya untuk memegang tali dan menahan posisinya.
"Kalau anginnya besar susah, biasanya bundet," ungkap Arkan.
Benang layangan naga berukuran besar ini sangat mudah kusut jika tarikan anginnya terlalu kuat.
Jika hembusan angin telanjur mengamuk dan tarikannya berisiko menyeret tubuh para pemain, tali layangan tersebut pantang diikatkan ke badan.
Bagi mereka, keselamatan di lapangan adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar.
Saat tenaga tak lagi sanggup menahan kuatnya tarikan angin, keputusannya hanya satu yakni melepaskan.
Mereka enggan memaksakan diri menahan tali yang justru berisiko membahayakan keselamatan.
Layangan bernilai jutaan rupiah itu pun dibiarkan kabur terbawa angin.
Bagi mereka, mengikhlaskan layangan mahal melayang bebas jauh lebih masuk akal daripada harus melihat ada kawan yang celaka karena terseret ke udara.
(MG Fauzan Ardana)