TRIBUNMANADO.CO.ID - Suasana remang menyelimuti Jalan A.P. Mokoginta, Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Senin (10/8/2026) malam.
Di lokasi yang sehari sebelumnya riuh oleh deru suara mobil dan sorak sorai penonton, kini menyisakan duka dan kerlip cahaya lilin yang dinyalakan warga.
Di tempat inilah tragedi drag race merenggut 8 nyawa dan mencederai beberapa orang lainnya.
Bagi masyarakat Desa Upai dan sekitarnya termasuk Bilalang dan Pontodon, turnamen balap yang digelar sejak 6 Agustus hingga Minggu (9/8/2026) itu merupakan hal baru.
Turnamen drag yang belum pernah ada sebelumnya membuat warga berbondong-bondong datang menyaksikan.
"Sebelumnya tidak pernah ada gelaran turnamen balap seperti ini di kampung kami," ujar Desy Sipasi (26), warga setempat, saat ditemui Tribunmanado.co.id di TKP pada Senin sekitar pukul 21.30 WITA.
Malam itu, Desy melangkah pelan bersama dua saudaranya.
Tangannya memegang lilin, menyalakannya tepat di titik terjadinya kecelakaan maut.
Kehadiran mereka bukan sekadar melayat tempat kejadian, melainkan memeluk rasa kehilangan yang teramat berat.
Nenek dan keponakan mereka menjadi bagian dari daftar korban yang tersambar mobil Honda Jazz dari Tim Pangeran 05 McJoe yang dikendarai pembalap Tian Ngantung.
Sang nenek, Nilawati Mokodongan, akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah sempat berjuang dalam perawatan medis.
Sementara sang keponakan, Ravisca Mokodongan yang baru berusia 7 tahun, kini terbaring lemah di rumah sakit dengan cedera parah: patah kaki, dan luka di bagian kepala.
Sementara itu, seorang warga setempat yang enggan namanya dipublikasikan menuturkan bahwa tanda-tanda bahaya sebenarnya sudah nampak sebelum insiden terjadi.
Mobil Honda Jazz yang dikemudikan Tian diduga dalam kondisi kurang prima dan kerap digunakan bergantian.
Dua hari sebelum balapan maut itu, kendaraan tersebut beberapa kali oleng saat dikemudikan.
"Mobil tersebut bukan hanya dipakai satu pembalap saja. Nah saat dikendarai Tian Ngantung pada Minggu 9 Agustus 2026, terjadilah kecelakaan itu," ujar warga tersebut.
Tian, ujar warga itu, sebenarnya sudah melewati garis finis saat terjadinya peristiwa naas tersebut.
"Mobil itu sudah finis sebenarnya, dengan kecepatan tinggi melaju dan tiba-tiba tergelincir dan menghantam warga yang sedang menonton," terang dia.
(TribunManado.co.id/Riz)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK