Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan sublineage baru COVID-19, PQ.16.1.1, ke dalam daftar variant under monitoring (VUM) atau varian yang sedang dipantau. Sublineage ini merupakan turunan NB.1.8.1 yang berasal dari Omicron JN.1.
WHO menetapkan PQ.16.1.1 sebagai VUM pada 27 Juli 2026. Varian ini menjadi salah satu dari tujuh VUM yang saat ini dipantau WHO.
Berdasarkan data yang dirilis oleh WHO, PQ.16.1.1 pertama kali teridentifikasi dari sampel yang dikumpulkan pada 25 Maret 2026. Dibandingkan dengan NB.1.8.1, PQ.16.1.1 memiliki sejumlah mutasi tambahan pada protein spike, yakni D253G, N417T, D420N, dan I478T. Varian ini juga memiliki mutasi Nucleocapsid T135I serta ORF8 G8E.
Data awal menunjukkan kemampuan PQ.16.1.1 berikatan dengan reseptor ACE2 manusia lebih rendah dibandingkan NB.1.8.1. Varian tersebut juga menunjukkan penurunan sensitivitas terhadap beberapa antibodi monoklonal yang menargetkan bagian tertentu dari protein spike.
Meski memiliki sejumlah perubahan tersebut, respons antibodi terhadap PQ.16.1.1 dan NB.1.8.1 secara umum masih serupa pada sampel plasma orang yang sebelumnya terpapar Omicron. Sementara pada orang yang sebelumnya mendapat vaksin berbasis galur Wuhan-Hu-1, kadar antibodi terhadap PQ.16.1.1 tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan terhadap NB.1.8.1.
Temuan awal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penyebaran PQ.16.1.1 kemungkinan tidak hanya disebabkan oleh kemampuan varian tersebut berikatan dengan reseptor ACE2. Kemampuan menghindari respons dari kelompok antibodi tertentu juga diduga berperan.
Hingga 8 Juli 2026, sebanyak 457 sekuens PQ.16.1.1 dengan tanggal pengambilan sampel hingga minggu epidemiologi ke-25 telah dilaporkan ke GISAID dari delapan negara.
Sebanyak 438 sekuens atau 95,8 persen berasal dari kawasan Pasifik Barat. Singapura menyumbang 388 sekuens atau 84,9 persen dari total global.
Sementara itu, sekuens lainnya berasal dari Hong Kong SAR sebanyak 34, Australia 10, Amerika Serikat 10, Kanada 8, Korea Selatan 5, Prancis 1, dan Taiwan 1.
Secara global, proporsi PQ.16.1.1 di antara sekuens yang tersedia meningkat dari 2,7 persen pada minggu epidemiologi ke-18 menjadi 29,6 persen pada minggu ke-25.
Di kawasan Pasifik Barat, proporsinya meningkat dari 5,4 persen menjadi 39,3 persen pada periode yang sama. Di Singapura, proporsi PQ.16.1.1 meningkat dari 12,6 persen pada minggu ke-18 menjadi 55,1 persen pada minggu ke-25.
Di Hong Kong, proporsi varian tersebut juga meningkat dari 20 persen menjadi 66,7 persen, meski angkanya mengalami fluktuasi dan perkiraan pada minggu ke-25 hanya berdasarkan empat dari enam sekuens yang dilaporkan pada pekan tersebut.
Di Singapura, tingkat hasil positif tes SARS-CoV-2 dari sistem pemantauan meningkat cepat dari 6,5 persen pada minggu epidemiologi ke-16 hingga mencapai puncak 19,8 persen pada minggu ke-19. Angka tersebut tetap tinggi hingga minggu ke-22 sebelum menurun hingga minggu ke-25.
WHO mencatat pola peningkatan tersebut serupa dengan pola musiman yang terjadi pada 2024 dan 2025. Namun, dibandingkan 2025, periode peningkatan kasus positif pada 2026 berlangsung lebih singkat dan penurunannya setelah mencapai puncak juga lebih cepat.
WHO juga tidak menerima laporan kasus maupun kematian terkait COVID-19 selama periode pemantauan tersebut.





