TRIBUNJAMBI.COM – Proses ekshumasi dan autopsi terhadap jenazah Sutrimo, asisten mantan Jampidsus Febrie Adriansyah yang tewas dengan kondisi mulut berbusa, diprediksi memerlukan waktu yang tidak singkat.
Dokter Forensik Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Oktavinda Safitry, membeberkan bahwa uji laboratorium untuk mendeteksi kandungan racun dari jasad bahkan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.
Penjelasan tersebut disampaikan Oktavinda dalam dialog Kompas Petang di Kompas TV, Senin (10/8/2026), menanggapi rencana pembongkaran kubur dan autopsi medis atas jasad almarhum.
Oktavinda menjelaskan bahwa proses fisik pembongkaran makam hingga pengambilan sampel organ sebenarnya berlangsung cepat.
"Jadi kalau untuk gali kuburnya sendiri kan bisa langsung dilakukan ya, kemudian mengambil banyak organ segala macam, itu sebenarnya hitungannya jam ya," kata Oktavinda.
Pemeriksaan Laboratorium Toksikologi Memakan Waktu Lama
Meski tindakan pengambilan sampel organ terbilang singkat, proses analisis laboratorium forensik menjadi tahap paling krusial sekaligus memakan waktu paling lama.
Tim dokter harus menguji satu per satu dugaan penyebab kematian.
"Tapi kemudian kan ada sampel-sampel yang harus diambil. Nah, sampel-sampel yang harus diambil. Terus kita kan tadi punya banyak dugaan kan pasti dokter-dokternya, gitu ya," ucapnya.
"Nanti ini kan harus diperiksa satu per satu. Itu nanti lab-nya yang mungkin akan agak lama. Tergantung apa yang mau diperiksa. Apakah memang bisa diperiksa di sini ataukah harus diperiksa ke tempat lain, gitu."
"Jadi mungkin bahkan bisa sampai bulanan sebenarnya gitu kalau untuk mendeteksi racun tadi," ujar Oktavinda menegaskan.
Tingkat keberhasilan autopsi terhadap jasad yang telah dimakamkan selama tiga minggu sangat bergantung pada target yang dicari serta tingkat pembusukan jenazah.
Baca juga: 4 Fakta Penting Keluarga Karumga Eks Jampidsus Febrie Lapor Polisi: Bantah Isu Suap 1 Miliar
Baca juga: Dugaan KDRT Berdarah di Kerinci Jambi: Suami Kabur Usai Istri Terluka
Faktor lingkungan pemakaman seperti kelembapan dan jenis tanah turut memegang peranan kunci.
"Jadi kan ada banyak penyulit nih, ada faktor pembusukan, kemudian kita juga enggak tahu nih kondisi tanah di dalamnya seperti apa. Itu juga kan mempengaruhi proses pembusukannya tadi, begitu," ucapnya.
"Jadi bukannya enggak bisa, masih bisa, tapi memang mungkin akan ada penyulit gitu ya. Ada berbagai hal yang ya kita masih belum tahu nih. Jadi memang biasanya harus sangat hati-hati, gitu."
Melalui prosedur autopsi, tim medis forensik akan membuka seluruh rongga tubuh jenazah untuk memeriksa kondisi organ secara mendalam guna menyimpulkan penyebab pasti kematian.
"Tergantung sebenarnya mau kita cari apa, kan gitu. Gitu ya. Jadi tergantung juga tadi pembusukannya sudah sejauh mana. Itu yang sebenarnya kita belum tahu kan, begitu."
"Jadi mungkin aja ternyata tanahnya tadi justru baik sehingga mempreservasi jenazahnya, gitu sehingga masih ada organ-organ yang masih cukup baik pemeriksaannya," pungkasnya.
Baca juga: Jambi Top 7, Waldi Adiyat dan Hukuman Seumur Hidup setelah Eksekusi Dosen di Bungo
Baca juga: Warga Sungai Deras Kerinci Dobrak Pintu saat Dengar Teriakan, Ibu Rumah Tangga Luka Parah KDRT
Baca juga: Daftar 31 Calon Paskibraka Upacara HUT ke-81 RI di Merangin