TRIBUN-MEDAN.COM,- Pernah dengar tentang tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Ya, ini adalah tradisi yang dilakukan sejumlah umat Islam di hari Rabu terakhir pada bulan Safar.
Beberapa daerah melakukan tradisi ini untuk memohon keselamatan kepada Allah S.W.T.
Baca juga: Pandangan Ustaz Syafiq Riza Basalamah Tentang Rebo Wekasan: Haram!
Namun, tiap daerah punya cara berbeda-beda dalam pelaksanaannya.
Meskipun banyak pendapat yang menyebut bahwa tradisi Rebo Wekasan ini tidak pernah ada dalam ajaran yang disampaikan Rasulullah, tapi bagi para pelakunya berpendapat bahwa kegiatan ini hanya sebatas upaya untuk memohon keselamatan pada Allah S.W.T.
Lalu, apa saja tradisi Rebo Wekasan di Indonesia yang masih ada hingga saat ini?
Baca juga: Rebo Wekasan, Tradisi di Akhir Bulan Safar, Begini Menurut Ulama
Rebo Wekasan identik dengan bahasa Jawa.
Tak heran, banyak yang mengira bahwa tradisi Rebo Wekasan hanya dilakukan oleh orang-orang Jawa saja.
Padahal, di beberapa daerah ada tradisi serupa dengan nama yang berbeda-beda.
Intinya, bahwa tradisi ini dilakukan pada hari Rabu di akhir bulan Safar.
Baca juga: Amalan-amalan di Momen Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan 20 Agustus 2025
Jika melihat penanggalan yang ada pada bulan Agustus 2026, Rabu terakhir di bulan Safar jatuh pada 12 Agustus 2026.
Menurut penanggalan kalender Jawa, bahwa 12 Agustus 2026 bertepatan dengan 27 Sapar 1960 Dal dengan weton Rabu Legi.
Karena itu, kemungkinan besar pelaksanaan Rebo Wekasan jatuh pada 12 Agustus 2026.
Berikut ini tradisi Rebo Wekasan di Indonesia yang masih ada hingga sekarang.
Baca juga: Kalender Jawa Weton Rabu Wage 20 Agustus 2025, Bertepatan Rebo Wekasan, Sebaiknya Berzikir di Rumah
Di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rebo Wekasan lebih dikenal dengan sebutan Rebo Pungkasan.
Tradisi ini telah lama hidup di tengah masyarakat Desa Wonokromo dan menjadi agenda budaya tahunan yang menarik perhatian warga maupun wisatawan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Rebo Pungkasan berkaitan dengan pertemuan antara Sri Sultan Hamengku Buwono I dan seorang ulama bernama Kiai Faqih Usman, yang diyakini memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit serta menjadi tokoh yang dihormati masyarakat pada masanya.
Baca juga: Arba Mustamir dan Rebo Wekasan, Begini Pandangan Ulama Soal Tradisi Ini
Pada masa lalu, prosesi Rebo Pungkasan dilaksanakan di pertemuan Sungai Opak dan Sungai Gajahwong.
Seiring perkembangan waktu, pusat kegiatan dipindahkan ke Lapangan Wonokromo yang berada di depan kantor kelurahan.
Salah satu rangkaian acara yang paling dinanti adalah arak-arakan lemper raksasa.
Setelah diarak keliling kampung, lemper tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan harapan akan keberkahan.
Baca juga: Mengenal Tradisi Rebo Wekasan, Upaya Doa Tolak Bala dan Mengantisipasi Datangnya Beragam Penyakit
Di wilayah Aceh Barat dan Aceh Selatan, masyarakat mengenal Rebo Wekasan dengan nama Rabu Abeh.
Tradisi ini sejak dahulu dikaitkan dengan permohonan perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari bencana dan berbagai musibah.
Dalam catatan sejarah masyarakat setempat, ritual lama pernah dilakukan dengan menyembelih kerbau dan menghanyutkan bagian kepalanya ke laut sebagai simbol penolak bala.
Namun, seiring berkembangnya pemahaman keagamaan, praktik tersebut telah banyak ditinggalkan.
Kini, masyarakat lebih memilih mengisi Rabu Abeh dengan kegiatan keagamaan seperti pembacaan shalawat, zikir, doa bersama, serta pengajian di masjid atau meunasah.
Di Kampung Karundang Tengah, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten, terdapat tradisi yang dikenal dengan nama Dudus. Tradisi ini dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Banten dan hingga kini masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat.
Prosesi Dudus identik dengan mandi menggunakan air yang dicampur bunga tujuh rupa, kemudian dilanjutkan dengan sedekah bumi pada malam Rabu terakhir bulan Safar.
Sebelum ritual dimulai, warga biasanya melaksanakan salat berjemaah, doa bersama, dan musyawarah kampung.
Bagi masyarakat pendukung tradisi ini, Dudus menjadi simbol permohonan kepada Allah agar diberikan kesehatan, umur panjang, rezeki yang baik, keselamatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Masyarakat Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, juga memiliki tradisi Rebo Wekasan yang masih bertahan hingga sekarang.
Perayaan dipusatkan di kawasan Telaga Suci atau sendang yang berada di dekat Masjid Mambaul Thoat.
Warga berkumpul untuk mengikuti doa bersama, pembacaan tahlil, serta selamatan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan.
Tradisi ini lebih menonjolkan nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat dibandingkan ritual tertentu.
Di kawasan Pantai Waru Doyong, Banyuwangi, Rebo Wekasan diperingati melalui tradisi Petik Laut, sebuah upacara adat yang juga menjadi bagian dari budaya masyarakat pesisir.
Kegiatan diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan melarung sesaji menggunakan perahu kecil ke tengah laut.
Bagi masyarakat nelayan, tradisi ini menjadi ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh sekaligus harapan agar diberikan keselamatan saat melaut dan dijauhkan dari berbagai musibah.
Masyarakat Banjar mengenal Rabu terakhir bulan Safar dengan istilah Arba Mustamir, yang berasal dari bahasa Arab dan berarti "Rabu yang berlanjut".
Peringatan ini umumnya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti salat sunah, pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, zikir, doa bersama, hingga pengajian yang melibatkan masyarakat sekitar.
Tradisi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat ibadah dan mempererat hubungan sosial antarsesama warga.
Di Negeri Hitu Lama, Kabupaten Maluku Tengah, Rebo Wekasan identik dengan tradisi Mandi Safar yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Rangkaian acaranya diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan penyajian makanan tradisional seperti lemet, kemudian ditutup dengan mandi bersama di pantai.
Sebagian masyarakat meyakini bahwa Mandi Safar merupakan simbol penyucian diri dan permohonan kepada Allah agar diberikan keselamatan serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Selain memiliki nilai religius bagi masyarakat setempat, tradisi ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga hingga kini.
KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon menjelaskan, bahwa pendapat yang mengatakan bahwa bala akan turun pada Rebo Wekasan, itu bukanlah riwayat dari hadits nabi.
"Tidak boleh dikatakan itu dari Nabi. Kalau dikatakan itu dari nabi, itu dusta," kata Buya Yahya, dikutip Tribun-medan.com dalam ceramahnya dari sebuah video short yang diunggah di akun Youtube @buyayahyaofficial, Kamis 16 Juli 2026.
Buya Yahya mengatakan, apabila informasi ini disampaikan oleh orang salih, bukan berarti ilahm tersebut wajib dipercaya.
"Kalau memang ada seorang soleh, alim, tidak tampak dalam dirinya maksiat, kemudian mengucapkan yang semacam itu, itu mungkin bisa benar, tapi bab ilham. Allah beri ilham kepada dia, diberi tahu, lalu seperti itu yang mereka ketahui. Ilham tidak wajib kita percayai, ilham bukan hujjah," tegas Buya Yahya.
Senada disampaikan oleh Syafiq Riza Hasan Basalamah, ustaz salafi dalam sebuah seramahnya.
Ia mengatakan, Allah S.W.T tidak pernah memberikan ketetapan bahwa hari Rabu di akhir bulan Safar akan turun bala.
"Allah tidak menetapkan hal itu. Kalau bicara sesuatu yang gaib, yang bicara harus Allah. Kalau (hanya) katanya, tidak bisa, ini urusan gaib," kata Syafiq.
Karena adanya informasi keliru soal turunnya bala di hari Rabu terakhir pada bulan Safar, masyarakat pun kemudian mengadakan ritual-ritual yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W.(ray/tribun-medan.com)