Liputan6.com, Jakarta - Anak yang mengalami stunting membutuhkan penanganan nutrisi yang tepat untuk mendukung proses kejar tumbuh. Upaya tersebut tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah kalori, tapi juga perlu memerhatikan kualitas dan keseimbangan nutrisi, termasuk kecukupan protein serta zat besi.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi, Dr. dr. Nur Aisiyah Widjaja, Sp.A, Subsp.N.P.M(K), mengatakan, penanganan anak dengan kekurangan nutrisi kronis seperti stunting perlu dilakukan secara komprehensif. Evaluasi penyakit penyerta juga penting dilakukan karena kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan anak.
"Catch-up growth tidak hanya soal meningkatkan asupan kalori, tapi bagaimana kita memastikan keseimbangan rasio protein-energi (Protein Energy Ratio/PER) yang tepat agar pertumbuhan dapat berlangsung optimal dan berkualitas," ujar Nur Aisiyah dalam Pediatric Science & Health Summit 2026.
Menurutnya, PER merupakan salah satu faktor penting dalam terapi nutrisi karena berperan dalam mendukung pertumbuhan linear dan pembentukan massa tubuh tanpa lemak (lean body mass). Oleh sebab itu, makanan yang diberikan kepada anak dengan stunting perlu padat gizi dan kaya protein.
Nur Aisiyah menekankan pentingnya memberikan makanan padat gizi yang kaya protein hewani kepada anak dengan kekurangan nutrisi kronis.
"Pada anak yang mengalami kekurangan nutrisi kronis seperti stunting, selain melakukan evaluasi dan penanganan penyakit penyerta, intervensi nutrisi perlu difokuskan pada pemberian makanan padat gizi yang kaya protein hewani, seperti telur, daging, ayam, dan ikan," ujarnya.
Telur, ikan, ayam, dan daging dapat menjadi pilihan sumber protein hewani dalam menu sehari-hari anak. Pemberiannya tetap perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, serta kemampuan anak mengonsumsi makanan.
Pada kondisi tertentu, makanan sehari-hari juga dapat dikombinasikan dengan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Pemberian PKMK perlu berdasarkan rekomendasi dokter anak dan disertai pemantauan agar sesuai dengan kebutuhan anak.

Selain protein, kecukupan zat besi juga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Dokter Anak Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K), mengatakan, zat besi berperan penting dalam perkembangan sistem saraf.
Kekurangan zat besi dapat memengaruhi kemampuan berpikir anak, termasuk fokus dan memori belajar, terutama pada anak berusia di atas 5 tahun.
"Pada anak-anak, zat besi merupakan salah satu zat gizi mikro yang penting untuk proses tumbuh kembangnya. Fungsi zat besi penting dalam perkembangan sistem saraf. Sehingga, kekurangan zat besi akan sangat memengaruhi daya pikir yang dapat berdampak pada fokus dan memori belajar, terutama pada anak di atas usia 5 tahun," ujar Rini.
Menurutnya, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya kecukupan zat besi. Kondisi kekurangan zat besi juga kerap dianggap bukan sebagai masalah yang perlu segera ditangani.
Data South East Asian Nutrition Survey II Indonesia (SEANUTS II) menunjukkan sebagian besar anak Indonesia belum memenuhi asupan zat besi yang direkomendasikan. Rata-rata konsumsi zat besi anak Indonesia hanya mencapai 65,8 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang disarankan.

Rini mengatakan bahwa kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi kognitif, energi, hingga daya tahan tubuh anak.
"Waktu yang tepat untuk bertindak adalah sebelum kondisi menjadi lebih berat. Skrining dini, termasuk pendekatan noninvasif seperti pemantauan hemoglobin atau evaluasi asupan zat besi, dapat membantu mengidentifikasi risiko lebih awal," ujarnya.
Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan asupan zat besi melalui pola makan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Pada kondisi tertentu, penambahan susu pertumbuhan yang terfortifikasi zat besi juga dapat menjadi pilihan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
"Studi menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat membantu mendukung status gizi dan tumbuh kembang anak secara berkelanjutan," ujar Rini.
Pediatric Science & Health Summit 2026 menegaskan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan anak, mulai dari gangguan pertumbuhan, kesehatan saluran cerna, alergi, hingga defisiensi zat besi.