Bocah 7 Tahun di Buleleng Tewas Suspek Rabies, Anjing Penggigit Sebelumnya Gigit Enam Orang
Glery Lazuardi August 11, 2026 01:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Gede EWP (7), di Buleleng, Bali, tewas diduga akibat rabies setelah digigit anjing yang sebelumnya sudah menyerang enam orang.

Rabies adalah penyakit infeksi virus yang sangat mematikan, menyerang otak dan sistem saraf, serta ditularkan melalui air liur hewan terinfeksi seperti anjing, kucing, monyet, atau kelelawar.

Begitu gejala muncul, rabies hampir selalu berakhir dengan kematian.

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKPP) Buleleng mengungkapkan bahwa anjing yang menggigit korban ternyata sebelumnya telah menggigit enam warga lainnya.

Keenam warga tersebut telah mendapatkan Vaksin Antirabies (VAR), sedangkan gigitan yang dialami Gede EWP tidak pernah dilaporkan kepada petugas kesehatan.

Berdasarkan data PKPP Buleleng, enam warga yang sebelumnya digigit anjing tersebut adalah Kadek S (65), Ketut S (60), Kadek S (42), Komang SM (41), Gede ED (41), dan Made Y (35).

Mereka segera mendapatkan VAR di Puskesmas Seririt setelah melaporkan kejadian gigitan kepada pihak desa.

Berbeda dengan enam korban sebelumnya, Gede EWP tidak memperoleh vaksinasi setelah mengalami gigitan pada awal Juni 2026.

Gigitan tersebut mengenai betis kaki kiri dengan tipe luka sayatan.

Pascakejadian, luka korban hanya dicuci sendiri oleh keluarga di rumah. Karena menganggap luka tersebut ringan dan tidak berbahaya, korban tidak dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan VAR.

Anjing yang menggigit korban kemudian dibunuh oleh ayahnya karena khawatir kembali menyerang orang lain. Hewan tersebut lalu dikubur tanpa dilaporkan kepada Puskeswan.

Baca juga: Rusa Bawean di Ambang Kepunahan, Habitat Menyusut hingga Ancaman Anjing, DiCaprio-Bezos Turun Tangan

Anjing Liar Bersembunyi di Gudang

Kepala Dinas PKPP Buleleng, Gede Melandrat, menjelaskan bahwa anjing tersebut merupakan anjing liar, bukan anjing peliharaan. Hewan itu diketahui bersembunyi di sebuah gudang tempat ayah korban bekerja mencuci mobil.

"Ayah korban ini bekerja mencuci mobil di gudang. Kebetulan pada saat itu korban ikut ayahnya bekerja. Saat itulah korban mengalami gigitan," ucapnya.

Menurut Melandrat, petugas tidak mengetahui bahwa Gede EWP menjadi korban ketujuh karena kasus gigitan tersebut tidak pernah dilaporkan. Selain itu, anjing tersebut langsung dibunuh sehingga petugas tidak sempat mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium.

"Jadi atas kasus yang sama, sebenarnya anjing ini menggigit sudah enam orang, tujuh orang sampai ke anak ini," ujarnya, Senin 10 Agustus 2026.

Ia menambahkan, kasus gigitan terhadap enam warga sebelumnya menjadi dasar dilakukannya vaksinasi massal terhadap 430 ekor anjing di Desa Bubunan pada Juni 2026. Namun, karena gigitan terhadap Gede EWP tidak dilaporkan, pemerintah tidak mengetahui adanya tambahan korban.

"Yang disayangkan adalah ada satu orang tidak mendapatkan vaksin, karena tidak dilaporkan. Apakah karena ketidaktahuan sehingga tidak dilaporkan. Padahal pada saat itu juga kan ada vaksinasi yang kami lakukan atas laporan enam orang ini," katanya.

Kondisi Memburuk Dua Bulan Setelah Digigit

Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr Sucipto, membenarkan bahwa Gede EWP meninggal dunia dengan diagnosis suspek rabies.

Berdasarkan laporan yang diterima Dinkes Buleleng, korban mulai mengalami nyeri pada kaki kiri, demam, dan penurunan nafsu makan pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Sebelumnya, korban sempat dibawa berobat ke bidan dan diberikan vitamin serta obat demam.

"Pasien sempat berobat ke bidan dan diberikan vitamin serta obat demam. Saat itu pasien masih mau minum sedikit. Namun saat tidur malam harinya, pasien mengeluarkan keringat banyak," kata dr. Sucipto.

Karena kondisinya tidak membaik, keluarga membawa Gede EWP ke RSUD Tangguwisia pada Jumat, 7 Agustus 2026 sekitar pukul 11.45 Wita.

Setibanya di rumah sakit, korban menunjukkan gejala yang mengarah pada suspek rabies, antara lain menolak dan takut terhadap air, gelisah, takut terhadap angin atau AC, serta terus mengeluarkan air liur.

"Dokter kemudian melakukan pemeriksaan dan mendiagnosis korban suspek rabies. Korban selanjutnya dirujuk ke RSUD Kabupaten Buleleng," jelasnya.

Korban tiba di RSUD Kabupaten Buleleng sekitar pukul 15.30 Wita. Namun, sekitar dua jam kemudian, tepatnya pukul 17.31 Wita, bocah tujuh tahun tersebut dinyatakan meninggal dunia di ruang IGD.

Baca juga: Viral Pembunuhan Sadis Siswi SMP di Nabire, Keluarga Korban: Anak Kami Bukan Anjing atau Babi

Adik Korban juga Sempat Digigit

Dinas Kesehatan Buleleng juga mencatat adik korban berinisial MY pernah mengalami gigitan anjing. Berbeda dengan kakaknya, MY segera mendapatkan VAR pada 7 Agustus 2026 di RSUD Tangguwisia.

Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya segera melaporkan setiap kejadian gigitan anjing kepada petugas kesehatan, meskipun luka terlihat kecil.

Melandrat mengatakan, setiap laporan gigitan anjing akan langsung ditindaklanjuti dengan penanganan korban dan penyesuaian agenda vaksinasi rabies di wilayah tersebut. Saat ini, dua dokter hewan telah ditempatkan di setiap kecamatan untuk melakukan vaksinasi dari desa ke desa.

Selain itu, seluruh puskesmas di Buleleng kini telah memiliki stok vaksin rabies sehingga masyarakat tidak perlu lagi mendatangi puskesmas tertentu untuk mendapatkan VAR.

"Ketersediaan obatnya ada, ketersediaan vaksinnya ada, ketersediaan semua sudah tersedia," tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Buleleng mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gigitan anjing, sekalipun luka tampak ringan.

Setiap kejadian gigitan perlu segera dilaporkan agar korban dapat memperoleh penanganan medis sedini mungkin dan risiko rabies dapat ditekan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.