TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG BARAT — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan seluruh guru sekolah jenjang SMP mendapatkan pelatihan pemanfaatan perangkat digitalisasi pembelajaran.
Tim Digitalisasi Pembelajaran Direktorat SMP Kemendikdasmen, Solehkun Kodir, mengatakan pelatihan dilakukan melalui sejumlah skema.
Selain mendatangkan guru ke lokasi pelatihan, pihaknya juga mendatangi langsung sekolah maupun memanfaatkan fasilitas milik dinas pendidikan.
"Harapannya semua ya 100 persen, tapi dengan berbagai teknik. Ada yang kita datangkan di suatu tempat, ada juga yang kita datangi langsung ke sekolahnya, atau ada juga yang menggunakan ruang dinas, ruang aula yang ada di dinas," kata Solehkun seusai Advokasi Pemanfaatan Perangkat Digitalisasi Pembelajaran di SMPN 1 Satu Atap Rimbakarya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (11/8/2026).
Menurut Solehkun, pola tersebut dilakukan agar pelatihan tidak hanya menjangkau sekolah yang berada di wilayah perkotaan.
Kemendikdasmen juga menyasar sekolah di wilayah 3T, SMP satu atap, sekolah terbuka, hingga sekolah umum induk.
"Teknik ini kita lakukan semua termasuk ke wilayah 3T, kemudian juga SMP satu atap, terbuka, sekolah umum induk dan lain sebagainya," ujarnya.
Kemendikdasmen juga melibatkan narasumber dari daerah untuk mempercepat pemerataan pelatihan.
Baca juga: Tembus Hutan Pedalaman Bandung Barat, Kemendikdasmen Jemput Bola Latih Guru Digitalisasi
Mereka antara lain guru yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dari pusat, pengawas sekolah, serta berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan BBGP atau BBPMP di masing-masing provinsi.
Solehkun mengatakan guru yang telah mendapatkan pelatihan dapat melakukan pengimbasan kepada sekolah lain yang belum mendapatkan pelatihan.
"Setelah ada yang sudah kami latih, boleh melakukan pengimbasan ke sekolah-sekolah yang lainnya," katanya.
Selain pengimbasan, Direktorat SMP juga menggunakan Learning Management System (LMS) untuk memantau sekolah yang telah mengikuti pelatihan.
Solehkun menjelaskan setiap sekolah dapat teridentifikasi melalui Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) setelah mengakses LMS dan mengikuti pelatihan.
Data tersebut kemudian dipantau melalui dashboard yang dapat diakses berbagai pihak tanpa harus melakukan log in.
Baca juga: Digitalisasi hingga Rantai Pasok Jadi Penentu Daya Saing Industri F&B dan Hospitality
"Dari hasil itu kita buatkan dashboard sehingga semua pihak tanpa harus log in bisa melihat. Baik dari Dinas Pendidikan, kepala sekolah, BBPMP, atau masyarakat yang lain juga bisa melihat dan memastikan sekolah ini sudah mendapatkan pelatihan atau belum," jelasnya.
Solehkun menegaskan pelatihan tidak hanya bertujuan memastikan guru mengetahui cara mengoperasikan PID.
Guru juga diberikan materi mengenai pemanfaatan perangkat tersebut untuk mendukung pembelajaran di kelas.
Pelatihan mencakup teori dan praktik penggunaan PID, teknik memadukan teknologi dengan konten pembelajaran, pembuatan modul ajar, hingga pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis web dan video berbasis kecerdasan artifisial (AI).
Guru juga dilatih menggunakan LMS untuk menyimpan dan mendistribusikan materi pembelajaran digital.