Harga Kelapa di Inhil Anjlok Rp1.800 per Kilogram, Tokoh Muda Riau Dorong Mahasiswa Bersuara
Firmauli Sihaloho August 11, 2026 02:19 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Anjloknya harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menjadi perhatian serius. Harga kelapa di tingkat masyarakat disebut turun hingga menyentuh Rp1.800 per butir.

Sebelumnya harga kelapa di Inhil sempat menyentuh di harga Rp 7 ribu per butirnya.

Kondisi tersebut mendapat sorotan tokoh muda Riau asal Indragiri Hilir, Munawir Mattareng. Ia menilai persoalan harga kelapa tidak boleh hanya dilihat dari mekanisme pasar.

Munawir mengatakan, jatuhnya harga kelapa telah memicu keresahan hingga aksi protes di tengah masyarakat. Sebab, kelapa menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Inhil.

"Harga kelapa di Indragiri Hilir terjun bebas hingga menyentuh Rp1.800 per butir," kata Munawir di Pekanbaru, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, penjelasan mengenai kondisi pasar global memang perlu dipahami. Perusahaan memiliki alasan bahwa penurunan harga dipengaruhi lesunya pasar dunia.

Selain itu, kondisi tersebut disebut berkaitan dengan turunnya harga produk turunan kelapa. Aktivitas ekspor yang melambat juga dinilai ikut memengaruhi harga.

Namun, Munawir menilai alasan tersebut tidak seharusnya menghentikan upaya pemerintah mencari solusi bagi petani.

Baca juga: Pesta Sabu Sebelum Check-in dengan Gadis Muda, 3 Pekerja PETI di Kuansing Keburu Digerebek Polisi

Baca juga: 53 Titik Panas Terpantau di Riau 11 Agustus 2026, Terbanyak di Bengkalis

Pemerintah daerah memang memiliki keterbatasan dalam menentukan harga. Apalagi harga komoditas turut dipengaruhi mekanisme pasar.

Meski demikian, menurut Munawir, pemerintah tetap memiliki ruang untuk mengambil peran. Salah satunya dengan memperkuat pengawasan terhadap rantai pasok kelapa.

Pengawasan diperlukan untuk memastikan pembentukan harga berlangsung secara wajar. Pemerintah juga perlu memastikan petani tidak dirugikan oleh rantai perdagangan yang terlalu panjang.

"Pemda bisa meminta pengawasan terhadap rantai pasok. Jangan sampai ada dugaan praktik monopoli atau rantai tengkulak yang justru merugikan petani," ujarnya.

Munawir juga mendorong mahasiswa ikut mengawal persoalan tersebut. Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agent of change atau agen perubahan.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami persoalan secara akademis. Mereka juga diharapkan hadir menyuarakan persoalan yang dirasakan masyarakat.

Dengan kemampuan intelektual dan pemikiran kritis, mahasiswa dapat mengkaji penyebab jatuhnya harga kelapa. Termasuk mengkritisi kebijakan pemerintah maupun mekanisme perdagangan yang berjalan.

Mahasiswa juga bisa mendorong adanya solusi konkret. Mulai dari perbaikan tata niaga, pengawasan rantai distribusi hingga perlindungan terhadap petani.

Munawir menegaskan, persoalan harga kelapa menyangkut kehidupan masyarakat luas. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada mekanisme pasar.

Ia meminta pemerintah hadir mencari jalan keluar. Terutama untuk menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari perkebunan kelapa.

"Negara harus hadir di tengah jeritan masyarakat. Pemerintah tidak boleh hanya pasif ketika kesejahteraan masyarakat terdampak," tegasnya.

Menurut Munawir, kehadiran negara menjadi penting untuk memastikan petani mendapatkan perlindungan dan posisi tawar yang lebih baik.

Ia berharap mahasiswa bersama elemen masyarakat ikut mengawal persoalan tersebut. Dorongan itu diperlukan agar penurunan harga kelapa tidak terus menekan kehidupan petani di Indragiri Hilir. (Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.