Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ciamis mulai mematangkan persiapan menghadapi Muktamar NU ke-35.
Ketua PCNU Ciamis sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bangunsirna, KH Arief Ismail Chowas, mengatakan Muktamar NU menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kepengurusan sekaligus merumuskan arah organisasi ke depan.
Menurutnya, sejumlah aspirasi yang perlu menjadi perhatian dalam Muktamar NU ke-35 di antaranya penguatan akidah Ahlussunah wal Jamaah, komitmen kebangsaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi, serta penguatan peran pesantren.
"Muktamar itu tidak lepas dengan laporan pertanggungjawaban, evaluasi dan tentu saja merumuskan program-program NU ke depan secara nasional, termasuk memilih dan menetapkan pimpinan nasional," kata KH Arief, Selasa (11/8/2026).
Ia menegaskan, NU sejak awal memiliki komitmen menjaga kehidupan beragama sekaligus menjaga bangsa dan negara.
Baca juga: Persiapan Liga 2, PSGC Ciamis Coret 7 Pemain dan Masih Tunggu Amunisi Asing
Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang harus terus menjadi pijakan NU, yakni Himayatuddin atau menjaga agama dan akidah, Himayatud Daulah atau menjaga serta membangun bangsa dan negara, serta Himayatul Ummah yang berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat.
"Jangan sampai masyarakat salah atau sesat dalam beragama. Kemudian kita juga punya komitmen menjaga, mengembangkan, membangun dan memajukan bangsa ini," ujarnya.
KH Arief juga menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi perhatian serius NU.
Pendidikan, ideologi, dan komitmen kebangsaan, kata dia, harus berjalan beriringan untuk membangun bangsa yang kuat.
Selain pendidikan, sektor ekonomi juga dinilai perlu menjadi garapan serius NU.
"Ekonomi adalah bagian utama yang mesti menjadi garapan resmi atau garapan serius dari Nahdlatul Ulama," katanya.
Terkait hubungan NU dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, KH Arief menilai sinergi antara organisasi kemasyarakatan, masyarakat dan pemerintah merupakan sebuah kewajiban dalam kehidupan berbangsa.
Namun, menurutnya, sinergi tersebut tidak berarti NU kehilangan fungsi kontrol sosial terhadap pemerintah.
"Harus adanya kesatuan dan persatuan antara Nahdlatul Ulama, masyarakat, muslim dan non-muslim, termasuk dengan negara dan pemerintah," katanya.
Di sisi lain, ia menegaskan NU tetap harus menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah agar penyelenggaraan pemerintahan tetap berada pada jalur yang benar.
KH Arief juga berharap NU dapat memberikan pendampingan dari sisi keagamaan dan rohaniah kepada pemerintah.
Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan secara lahiriah, tetapi juga membutuhkan pendampingan moral dan spiritual.
"Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang mayoritas muslim. Tentu saja NU dengan kepemimpinan yang baru bisa menjadi bagian yang memberikan masukan secara rohaniah, paling tidak berkaitan dengan keagamaan dan rohaniah untuk pembinaan kita," ujarnya.
Sementara itu, pesantren menjadi salah satu perhatian utama PCNU Ciamis dalam Muktamar NU ke-35.
KH Arief mengatakan, pesantren tidak dapat dipisahkan dari sejarah kelahiran NU.
Karena itu, PBNU ke depan diharapkan tidak hanya mendampingi pesantren, tetapi juga tampil lebih aktif dalam membantu kemajuan pesantren.
"NU lahir dari rahim pesantren. Maka mesti menjadi bagian keseriusan dari PBNU untuk bukan hanya sekadar mendampingi, tapi betul-betul harus tampil di depan untuk membantu, termasuk memajukan dan menjaga pesantren secara keseluruhan," katanya.
Dalam Muktamar NU ke-35, sejumlah nama juga telah bermunculan sebagai kandidat pimpinan nasional NU.
KH Arief menyebut sedikitnya terdapat sekitar 12 nama yang beredar. Di antaranya Yahya Cholil Staquf, Gus Yusuf, Gus Rozin, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, Gus Kikin, Gus Salam, KH Imam Jazuli, KH Marzuki Mustamar dan sejumlah nama lainnya.
PCNU Ciamis, kata dia, masih melakukan kajian dan menakar figur yang dinilai memiliki komitmen kuat untuk memajukan NU.
"Kami terus menakar, menyaring mana yang betul-betul punya komitmen secara serius, sungguh-sungguh bisa memajukan dan bisa berkhidmat melalui Nahdlatul Ulama," ujarnya.
Ia menegaskan, penentuan figur tidak bisa hanya didasarkan pada nama yang beredar di media. Para kandidat perlu diuji secara langsung dalam forum Muktamar.
Menurutnya, NU membutuhkan pemimpin yang tegas, tidak menjadi bagian dari kepentingan kelompok tertentu, memiliki gagasan yang terukur, serta mampu membawa NU memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat dan bangsa.
Untuk mengikuti Muktamar NU ke-35, PCNU Ciamis juga tengah mempersiapkan keberangkatan rombongan.
KH Arief mengatakan rencananya rombongan dari Ciamis akan berangkat pada 26 Agustus 2026.
Berdasarkan ketentuan organisasi, terdapat tujuh orang peserta resmi dari Ciamis, terdiri dari dua orang peninjau dan lima peserta penuh yang memiliki hak suara dan hak berbicara.
Selain peserta resmi, PCNU Ciamis juga menyiapkan rombongan penggembira.
"Untuk penggembira ada dua bus untuk pengurus MWC, dua bus untuk pengurus badan otonom dan lembaga-lembaga NU di Kabupaten Ciamis, satu bus untuk pengurus cabang dan satu bus untuk Institut Nahdlatul Ulama, khususnya para dosen," pungkasnya.(*)