TRIBUNNEWS.COM - Kejuaraan Dunia BWF 2026 akan berlangsung pada 17-23 Agustus di New Delhi, India, dengan sektor tunggal putra dan ganda campuran menarik perhatian karena memiliki catatan juara yang berbeda-beda sepanjang rangkaian turnamen Super 1000.
Dari empat turnamen Super 1000 yakni Malaysia Open, All England, Indonesia Open, dan China Open, kedua sektor tersebut sama-sama melahirkan empat juara berbeda, sebuah catatan yang menunjukkan persaingan ketat di antara para pemain elite dunia.
Kondisi tersebut berbeda dengan tunggal putri yang memiliki An Se-young sebagai pemain dengan dua gelar, kemudian ganda putra melalui Kim Won-ho/Seo Seung-jae yang juga mengoleksi dua gelar.
Sementara itu, ganda putri justru memperlihatkan dominasi lebih kuat setelah pasangan China Liu Sheng Shu/Tan Ning berhasil mengamankan tiga gelar dari rangkaian turnamen Super 1000.
Perbedaan distribusi gelar tersebut membuat tunggal putra dan ganda campuran layak mendapat perhatian lebih karena peta kekuatannya terlihat lebih terbuka menjelang pertarungan memperebutkan gelar juara dunia.
Pada sektor tunggal putra, Kunlavut Vitidsarn menjadi juara Malaysia Open, sebelum gelar Super 1000 berikutnya diraih Lin Chun Yi pada All England.
Persaingan kemudian berlanjut dengan Victor Lai yang mengamankan gelar Indonesia Open, sedangkan Chou Tien Chen menjadi juara China Open.
Empat nama tersebut memiliki latar belakang dan perjalanan berbeda sepanjang musim.
Baca juga: Pebulu Tangkis dengan Gelar Terbanyak di Kejuaraan Dunia BWF, Ada Hendra Setiawan & Liliyana Natsir
Tetapi keberhasilan mereka menjuarai turnamen Super 1000 menunjukkan kemampuan untuk tampil maksimal ketika menghadapi persaingan di level tertinggi.
Situasi serupa juga terjadi pada sektor ganda campuran yang menghadirkan empat pasangan juara berbeda dalam empat turnamen Super 1000.
Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping membuka rangkaian tersebut dengan menjuarai Malaysia Open, kemudian kejutan Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan juara All England.
Gelar berikutnya menjadi milik Mathias Christiansen/Alexandra Boje yang menjuarai Indonesia Open, sebelum Guo Xin Wa/Chen Fang Hui memastikan gelar China Open.
Dengan 4 pasangan berbeda yang menguasai empat turnamen, ganda campuran memperlihatkan bahwa tidak ada satu pasangan yang mendominasi rangkaian Super 1000 secara mutlak.
Catatan tersebut memang tidak bisa dijadikan jaminan bahwa seluruh juara Super 1000 akan melangkah hingga podium Kejuaraan Dunia BWF 2026.
Namun pengalaman memenangkan turnamen elite dapat menjadi modal penting dalam menghadapi gelaran prestis di New Delhi.
Super 1000 dipilih sebagai acuan karena turnamen tersebut menjadi panggung bagi para pemain papan atas dunia dan mempertemukan deretan pemain elite.
Yang mana para kontestan secara kualitas tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan persaingan yang akan muncul pada Kejuaraan Dunia.
Dengan karakter persaingan seperti itu, kemenangan di Super 1000 dapat memberikan gambaran mengenai siapa saja pemain yang mampu mengatasi tekanan.
Karena itu, empat juara tunggal putra dan empat juara ganda campuran dari rangkaian Super 1000 layak ditempatkan sebagai kandidat yang patut dikawal.
Tapi Kejuaraan Dunia juga selalu membuka ruang bagi munculnya kejutan karena performa di turnamen sebelumnya tidak otomatis menentukan hasil dalam gelaran tersebut.
Contohnya terlihat pada edisi 2025 ketika Victor Lai mampu melesat hingga semifinal dan untuk pertama kalinya mengamankan medali Kejuaraan Dunia.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pemain di luar daftar unggulan utama tetap memiliki peluang membuat gebrakan.
Catatan tersebut menjadi pengingat bahwa peta persaingan di New Delhi tidak hanya akan ditentukan oleh nama besar atau statistik gelar Super 1000.
Kemampuan setiap pemain menjaga performa ketika menghadapi pertandingan yang menentukan.
(Tribunnews.com/Niken)