TRIBUNSORONG.COM - Kementerian Agama RI komitmen mendukung pembangunan di Tanah Papua, khususnya melalui penguatan kehidupan keagamaan, pendidikan, sumber daya manusia, kerukunan, dan perdamaian.
Hal tersebut disampaikan Direktur Urusan Agama Kristen Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI Luksen Jems Mayor saat menghadiri Dialog dan Festival Budaya Religi Tolikara yang digelar Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolikara, 10–13 Agustus 2026.
Dialog yang mengangkat tema “Merawat Kerukunan dari Tolikara untuk Indonesia” tersebut dihadiri Bupati Tolikara Wandik Wakil Bupati Yotam Wonda, jajaran Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, serta unsur masyarakat.
Baca juga: Kementerian Agama Siapkan 4 KUA Revitalisasi Layani Semua Golongan di Kota Sorong
Dalam dialog, Luksen menegaskan bahwa kerukunan dan perdamaian merupakan kebutuhan seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
“Kerukunan dan perdamaian adalah kebutuhan semua orang. Anak-anak, perempuan, laki-laki, pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh umat beragama memiliki tanggung jawab untuk membangun serta menjaga budaya damai,” tegas Luksen di Tolikara, Senin (10/8/2026).»
Menurutnya, budaya damai harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu pribadi dan keluarga, kemudian diperkuat oleh tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh komponen masyarakat.
Tokoh Agama dan Gereja Punya Peran Strategis
Luksen menyebut tokoh agama dan gereja memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat sekaligus menjaga perdamaian di Tanah Papua.
“Tokoh agama dan gereja adalah kunci pembangunan dan perdamaian di Tanah Papua. Gereja tidak hanya memiliki peran dalam kehidupan spiritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan nilai-nilai kasih, persaudaraan, perdamaian, dan pengharapan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: Kementerian Agama Tunjuk Tim Khusus, Usut Kasus Bullying di Sekolah Favorit di Sorong
Menurut Luksen, Tolikara memiliki sejarah penting sebagai salah satu wilayah pekabaran Injil di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Karena itu, semangat pekabaran Injil perlu terus diwujudkan dalam kehidupan masyarakat melalui karya nyata yang membawa perubahan dan kemajuan.
“Tolikara sebagai salah satu wilayah pekabaran Injil di Pegunungan Tengah jangan pernah lelah mewartakan Injil sebagai kabar baik. Semangat tersebut harus menjadi spirit perubahan dan pembangunan bagi masa depan masyarakat Papua, khususnya masyarakat Tolikara,” katanya.
Dorong Sinergi Pemerintah dan Gereja
Di hadapan Bupati dan Wakil Bupati Tolikara serta jajaran Forkopimda, Luksen mengajak Pemerintah Kabupaten Tolikara untuk terus menjadikan agama dan gereja sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan masyarakat.
Ia mengapresiasi visi dan misi Pemerintah Kabupaten Tolikara yang menempatkan pendekatan religius dan budaya sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.
“Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Tolikara yang menempatkan pendekatan religius dan budaya dalam pembangunan. Ini merupakan langkah penting untuk membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga memiliki karakter, moral, dan kehidupan sosial yang kuat,” ungkapnya.
Luksen menilai pembangunan di Papua membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah, gereja, tokoh agama, tokoh adat, dunia pendidikan, aparat keamanan, dan masyarakat harus berjalan bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif.
Kemenag Perkuat Pembangunan Keagamaan di Papua
Dalam dialog, sejumlah tokoh agama menyampaikan aspirasi agar pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan agama serta peningkatan kualitas sarana dan prasarana rumah ibadah.
Baca juga: BEJAT 3 Santriwati Disetubuhi Pimpinan Ponpes, Kanwil Kementerian Agama Siap Kawal Hak 150 Santri
Menanggapi hal tersebut, Luksen menegaskan bahwa Kementerian Agama memberikan perhatian serius terhadap pembangunan bidang agama dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Papua.
“Bapak Menteri Agama sangat memberikan perhatian terhadap pembangunan bidang agama dan sumber daya manusia di Papua. Karena itu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen akan terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah melalui berbagai program strategis Kementerian Agama,” jelasnya.
Menurutnya, pembangunan bidang agama tidak dapat dipisahkan dari pembangunan manusia.
Pendidikan agama yang berkualitas, rumah ibadah yang layak, serta penguatan peran tokoh agama merupakan bagian penting dalam membentuk masyarakat yang berkarakter dan memiliki semangat hidup bersama dalam keberagaman.
“Pembangunan harus menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu terus memperkuat sinergi agar program pembangunan di bidang agama benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.
Baca juga: Kanwil Kementerian Agama Papua Barat Bongkar Status Ponpes yang 3 Santriwati Disetubuhi Pimpinan
Merawat Kerukunan dari Tolikara untuk Indonesia
Luksen berharap Dialog dan Festival Budaya Religi Tolikara tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam merawat kerukunan dan perdamaian.
“Dari Tolikara kita ingin menyampaikan pesan kepada Indonesia bahwa perdamaian adalah tanggung jawab kita bersama. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan,” tuturnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat Tolikara untuk terus menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan membangun komunikasi yang terbuka antara pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat.
“Agama dan tokoh agama, termasuk gereja, adalah kekuatan penting dalam keberhasilan pembangunan dan perdamaian di Tanah Papua. Mari kita rawat kerukunan, perkuat persaudaraan, dan bersama-sama membangun Papua untuk kemaslahatan seluruh masyarakat,” pungkasnya. (*)